
Fiuuuh... hari yang melelahkan. Satu lagi, hari yang sulit ini bisa kulalui. Dan... ini waktunya.
"Mas, aku capek. Gendong aku, ya...," rengekku.
Reza tampak berpikir sejenak, lalu celingak-celinguk melihat keadaan sekitar. "Malu, Sayang. Digandeng saja, ya...."
"Ah, kamu." Aku merengut. "Dulu, sebelum menikah, di Surabaya, di Bali, kamu sering gendong-gendong aku tanpa permisi. Sekarang kamu begini.... Eh!" aku memekik.
Reza menggendongku, tanpa aba-aba. Kebiasaan!
Tapi aku suka. Malu? Ngapain? Toh, kami sepasang suami istri yang halal. Bodo amat bagi siapa pun yang tidak suka. Aku cekikikan.
"Puas?" tanyanya, begitu kami sudah santai di mobil.
Aku mengangguk. "Mmm-hmm, terima kasih. Omong-omong, aku benar-benar lelah. Mau mengembalikan semangatku?"
"Caranya?"
Iyuuuh... senyuman nakal langsung menghiasi wajahnya. Dan... kami saling menatap selama beberapa detik. Lalu...
Satu, dua, tiga, semua kancingku terlepas, dan tangan Reza mulai bergerilya menjelajah bebas ke balik pakaianku, pun bibirnya yang nakal sudah menguasai lekuk leherku.
"Sepertinya kita harus cari tempat," usulku. "Tempat yang nyaman dan bebas."
Reza antusias, matanya berbinar dan cengirannya semakin melebar. "Kita ke mes, ya? Mau?"
"Kedengarannya menarik. Ayo, gaskeun! Aku menanti hadiah dari kamu."
Drrrt... drrrt... drrrt...
Bunda memanggil...
Eit dah! Getaran dan tulisan di layar ponsel Reza menyalip.
Cocok!
"Ya, Bund?"
"Sudah selesai?"
"Ya. Ini kita baru keluar dari kantor polisi."
"Kalau begitu kalian cepat pulang, makan siang bareng di rumah. Semua orang sudah menunggu."
Reza bengong, hendak menyela tapi segan. Akhirnya, "Oh, iy... iya, Bund. Kami pulang sekarang."
Makjleb! Speechless, guys! A I U E O. Aku dongkol!
"Maaf, ya, Sayang," ucap Reza setelah menutup sambungan telepon.
Aku merengut. "Menyebalkan!"
"Sabar. Bunda minta kita langsung pulang, masa aku harus nolak. Di rumah kan bisa."
__ADS_1
Iya, tapi kan tidak bebas....
Drrrt... drrrt... drrrt...
Bunda memanggil...
Getaran dan tulisan di layar ponsel Reza kembali menyalip.
Apalagi itu?
"Halo, ini Raline. Kalian mampir minimarket, ya. Beliin Raline snack yang banyak. Nanti barter rujak. Oke, Mas dan Mbak? Terima kasih," cerocos Raline tanpa celah.
Yeah, sesungguhnya kami memang tidak ingin menyela. Dan itu memang tidak perlu disela.
"Ya, mau beli apa lagi?" tanya Reza.
"Raheel mau es krim, ya, Mas...."
"Raline juga!"
"Yang banyak!"
"Hu'um, cokelat, strawberry, mangga!"
"Sudah?"
"Vanilla juga!"
"Sudah."
"Yakin?"
"Yap. Terima kasih. Bye, bye...."
"Ditunggu...!"
Sambungan telepon terputus.
"Maaf, ya, Mas. Kelakuan adik-adikku... minus...."
Reza tersenyum. "It's ok. Sama sekali bukan masalah, kok. Adik-adik kamu kan adik-adikku juga. Keluarga kamu, keluargaku juga, ya kan?"
Kuhela napas dengan berat, dan sedikit lega. Berat, karena gagal ke mes berdua dengan Reza. Padahal aku sedang semangat-semangatnya untuk membuang semua rasa jengah dan kesal di hatiku. Dan, lega, karena Reza tidak pernah merasa keberatan dengan sikap adik-adikku yang agak-agak lancang dan sedikit keterlaluan. Atau tidak?
Intinya aku tidak enak kalau mereka terlalu berani dan tidak segan pada Reza. Akrab sih boleh, tapi jangan begitu juga, menurutku.
"Ayo, cusss, berangkat. Mampir mini market, terus ke mes. Haha!"
Reza nyengir. "Sabar, ya. Ada masanya nanti kita berduaan."
"Hmm, ya, Mas Sayang." Aku tersenyum. "Mas, aku mau minta maaf juga soal tadi."
Dahi Reza mengernyit. "Soal apa?" tanyanya.
__ADS_1
"Jawabanku ke polisi tadi."
"Memangnya kenapa?"
"Itu tadi."
"Apa?"
"Maaf, ya, kalau aku terkesan momojokkan kamu."
"Oh... soal itu. Tidak apa-apa. Aku ngerti, kok."
"Terima kasih."
"Iya, Sayang."
"Cium dulu sekali."
Uh, dia memang tidak pernah menolak. Satu ciuman berdurasi dua menit full berlangsung panas.
"Ayo, aku mau cepat sampai di rumah," kataku.
Reza pun tersenyum bahagia. Dan seperti permintaan Raline dan Raheel, kami mampir sebentar di sebuah minimarket dalam perjalanan pulang. Tetapi...
"Mas, itu sepertinya Mas Alfi. Iya, bukan, sih?" kataku, sesaat setelah Reza memarkirkan mobil.
Reza celingak celinguk. "Mana?"
"Itu...." Kutunjuk posisi mereka di kursi santai di depan kedai kecil tidak jauh dari minimarket itu. "Dengan siapa dia? Itu bukan Mayra, kan?"
Reza berdeham. "Itu Dinda, yang satunya babysitter, tiga anak kecil itu anak-anaknya. Kamu masih ingat, kan, dengan Bella dan Claudya?"
"Ya, ingat. Tapi bukannya ini lebaran ketujuh, ya?"
"Ya, kenapa?"
"Harusnya Mas Alfi hari ini bersama Mayra, kan? Kok ini?"
"Emm... tidak usah dibahas, ya, Sayang, ya?"
"Ya tap--pi--"
Reza memotong kalimatku dengan cepat, "Kita tidak usah ikut campur rumah tangga orang, oke?"
"Bukannya begitu, Mas...."
"Sudah. Stop. Dengar kata suami."
"Em, iya," kataku seraya mengangguk. "Kita cari minimarket lain, ya. Aku tidak nyaman di sini."
Aku tidak suka melihat canda tawa seseorang di atas luka orang lain. Sepertiku dulu, kebahagiaan ayahku dan para selingkuhannya di atas perih luka-lukaku. Aku tidak suka. Aku jadi berpikir, apa Mayra sekadar menutupi kekurangan suaminya sewaktu ia menjawab keadilan Alfi tentang pembagian waktu untuk dia dan Dinda?
Ah, mood-ku kembali menurun.
__ADS_1