Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Galau


__ADS_3

"Sayang?"


Reza panik. Aku pun sama. Suasana tegang, aku berusaha bertahan dan meredam rasa sakitku. Kuelus perutku sambil memejamkan mata. Aku meringis, aku takut kalau-kalau aku melahirkan saat itu, selain karena belum siap mental sepenuhnya, juga karena khawatir, sebab kandunganku belum masuk sembilan bulan.


"Mas... sakit...."


Reza spontan menstrarter dan melajukan mobil hingga tiba di rumah sakit, dia langsung menggendongku hingga ke ruang pemeriksaan dokter kandungan. Lagi-lagi aku harus menerima obat penenang, lagi-lagi jarum suntik kecil yang menyakitkan itu harus menusuk kulitku. Tapi tidak apa, meski sedikit sakit, tusukan jarum kecil yang berisi cairan obat itu menenangkan.


"Pak, biarkan Bu Nara istirahat dulu. Jangan dibebani dengan pikiran yang terlalu berat, itu akan memicu stres dan tidak baik untuk kondisi Ibu dan anak di dalam kandungannya. Mohon kerjasamanya, ya, Pak. Obat-obatan itu hanya membantu secara medis. Tapi yang istri Bapak butuhkan adalah lingkungan yang nyaman, jauh dari hal-hal yang membuat hati dan pikirannya terbeban."


Reza mengangguk. "Ya, Dok. Terima kasih," ucapnya.


"Kalau begitu saya permisi, dulu." Sang dokter pun berlalu.

__ADS_1


Aku mendengar semua yang diucapkan dokter cantik paruh baya itu. Tapi rasanya mustahil bagi kehidupanku untuk berjalan normal setelah semua hal yang sudah terjadi. Masalah yang saat ini mengganggu pikiranku tidak bisa dienyahkan begitu saja, kecuali sudah ada jalan keluarnya, solusi terbaik yang bisa meringankan beban untuk hati dan otakku yang kecil ini.


"Jangan bahas apa pun dulu," kataku, sebelum ada pencetusan kata yang sekiranya menjadi obrolan atau malah menjadi perdebatan berulang di antara kami.


Reza kembali mengangguk. Dia menghampiriku, mengelus kepalaku dan mengecup keningku.


"Tolong ambilkan ponselku."


"Untuk apa?"


Mantraku berhasil. Reza langsung meraih tasku dan mengeluarkan ponselku. Aku pun langsung menelepon ibuku. Bukan untuk apa-apa, aku hanya ingin mengabarkan tentang keadaanku, supaya ibuku dan keluargaku yang lainnya tidak khawatir. Itu saja.


"Bunda tidak perlu ke sini. Jangan kasih tahu Ihsan juga. Paling besok Nara sudah boleh pulang. Kalau tidak, ya Nara bakal kabur dari sini."

__ADS_1


Pelesetan yang tidak lucu. Padahal dalam hati, aku menangis, menjerit, kesal dengan situasi -- situasi yang membuatku frustasi.


"Iya, oke. Bunda tidak akan ke sana. Tapi kalau besok kamu belum boleh pulang, Bunda ke sana, ya?"


Aku bergumam, "Emm... oke. Kalau Nara belum kabur, ya. Haha!"


"Kamu ini, Nak. Sudah dong, jangan pura-pura. Bunda tahu persis bagaimana kamu. Jangan pura-pura happy."


Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya keras-keras. "Bund...."


"Bunda tidak akan bertanya sekarang. Bunda cuma berharap pikiran kamu segera jernih, supaya masalah yang kamu anggap terlalu berat itu bisa terasa lebih ringan. Kasihan cucu-cucu Bunda yang akan menjadi korban dari permasalahan orang tuanya."


Aku diam. Sekelumit rasa bersalah mulai menyelinap masuk. Mendengar ceramah panjang-lebar ibuku itu, membuat perasaanku semakin tak karuan. Segala rasa di hatiku menyatu, campur aduk dan ingin meletup-letup.

__ADS_1


Sisa hari itu kulewatkan di tempat tidur -- di ranjang rumah sakit. Aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Lagi-lagi harus terbaring di sana.


Aku tidak melakukan aktivitas apa pun. Tidak bermain ponsel, tidak memikirkan tentang tulisanku apalagi menulisnya. Juga tidak tidur. Otakku terasa penuh. Perasaanku benar-benar campur aduk, seperti gado-gado pedas berkaret dua. Hah! Panas dan pedasnya sampai ke ubun-ubun.


__ADS_2