Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Kekalutan


__ADS_3

Dalam kesadaran yang tak fokus, kendati rasa takut dan ngeri menguasai, aku tersentak saat Reza menggumamkan nama sahabatnya itu.


Alfi dan keluarganya.


Ya Tuhan. Aku menangis dan menjerit histeris. Jantungku berdetak tak beraturan.


Ini kenyataan. Untuk pertama kalinya aku melihat -- banyak orang yang mati secara tragis di depan mata kepalaku. Aku benar-benar syok.


"Kamu tunggu di sini, jangan ke mana-mana!"


Aku menggeleng kuat. "Aku ikut!"


"Tunggu di sini! Dengarkan aku!" Reza dengan suaranya yang keras memerintahku. Kecemasan dan hiruk pikuk keadaanlah yang membuatnya begitu.

__ADS_1


Tidak peduli dengan hujan yang lebat, Reza langsung keluar untuk memberikan pertolongan pada keluarga sahabatnya. Sementara aku gusar di dalam mobil, aku tidak bisa berdiam diri. Aku pun keluar, diikuti seorang bodyguard yang menungguiku di luar mobil.


"Jangan keluar, Bu...," serunya. "Hujan, licin...."


Aku tak peduli.


Dan, sesampainya di sana...


Penumpang lainnya, Alfi, Dinda, dan kedua anaknya mengalami luka yang cukup parah.


Dan...


Puji syukur, Ehan, bayi laki-laki delapan bulan itu selamat -- terlindung dalam dekapan sang babysitter. Ketika aku sampai, Reza sudah mengambilnya dari tangan seseorang yang melepaskan bayi itu dari bebysitter yang meninggal. Menyadari keberadaanku, Reza memberikan bayi itu kepadaku dan menyuruhku kembali ke mobil.

__ADS_1


Terlalu banyak korban yang harus dievakuasi, tidak memungkinkan hanya mengandalkan ambulans. Reza memohon-mohon meminta pertolongan orang-orang untuk membantunya membawa keluarga Alfi ke rumah sakit, entah menyalahi aturan atau tidak, ia tidak peduli. Yang ia tahu, ia ingin semua keluarga Alfi cepat-cepat dibawa ke rumah sakit. Sementara aku cepat-cepat ke mobil sambil mendekap Ehan. Di mobil, aku segera meraih tas dan membukanya, mengambil handuk kering untuk mengelap tubuh Ehan yang basah. Kubuka semua pakaiannya, mengelapnya dan mengusapnya dengan minyak telon, lalu membungkusnya kembali dengan handuk.


Di saat yang bersamaan, Reza datang bersama dua bodyguard dan membawa kedua anak Alfi, satu duduk di depan memangku Bella, satunya di sampingku, memangku Claudya. Sementara dua bodyguard lagi mengurusi Alfi dan Dinda. Tak peduli apa pun lagi, Reza langsung mengebut mobilnya melaju ke rumah sakit.


"Mas... hati-hati, jangan terlalu ngebut...," jeritku.


Jangan sampai ada kecelakaan susulan. Dia membuatku cemas. Sepanjang perjalanan, pikiranku kalut, pun Reza pasti sama. Bella dan Claudya tak hentinya menangis, mereka bahkan menjerit, bukan hanya karena rasa takut, tapi juga karena sakit plus perih luka-luka yang mendominasi. Mereka pun tak hentinya meneriakkan "papa mama" di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Pun Ehan, yang tak kalah histeris, aku tidak bisa mendekapnya karena bajuku yang basah, aku tidak ingin handuk kering yang membungkusnya turut basah. Aku hanya bisa menggendongnya di lenganku. Kekalutan itu tak memberikan aku waktu yang cukup untuk mengganti pakaianku.


Sesampainya di rumah sakit, Bella dan Claudya langsung disambut tenaga medis dan dibawa ke UGD. Tak lupa Ehan, kami takut kalau dia mengalami luka dalam. Reza yang kalut masih bisa berpikir sedikit jernih, dia segera menelepon Erik supaya cepat-cepat datang ke rumah sakit untuk membantunya. Lalu ia menelepon Mayra, dan mengatakan hal yang seperlunya, dan dengan pesan terakhir, "Please, kamu jangan menyetir sendiri."


Setelah sambungan telepon terputus, barulah ia menyadari akan keberadaanku, tepatnya kondisiku. "Ganti pakaianmu, Sayang," katanya -- dengan kekhawatiran yang masih membuncah. Jelas kekalutannya sama sekali tidak bisa hilang di dalam jiwanya. Dia masih berdiri di sana, bersandar di pintu mobil.


Seperti aku, jantungku yang detakannya tak karuan dan seakan sempat terlepas dari tempatnya, pasti seperti itu juga perasaan Reza. Juga kakiku, terasa lunglai, tapi aku berusaha kuat untuk menopang tubuhku. Aku menghampiri Reza, matanya merah menahan tangis, tapi tidak bisa. Dia memelukku, menyembunyikan tangisnya dalam pelukanku. Rasanya sangat sesak melihat dia dalam keadaan seperti itu -- untuk ke sekian kali, dia takut kehilangan anggota keluarganya lagi.

__ADS_1


__ADS_2