
Untungnya Reza menuruti mauku tanpa bantah. Mobil yang baru saja terparkir langsung melaju dan kembali melintasi jalan raya.
"Itu ada minimarket di depan," kataku. "Berhenti di situ saja, Mas."
Reza mengangguk. Kami segera menepi, masuk ke dalam minimarket dan membeli cukup banyak snack dan es krim dengan rasa sesuai pesanan adik-adik sepupuku -- dalam waktu sesingkat mungkin, untuk mengejar waktu makan siang bersama di rumah. Tidak enak juga orang-orang sudah menunggu, pikirku.
"Yakin sudah selesai?" tanya Reza. Dia sudah bersiap mengemudi.
Aku mengangguk sembari mengecek kantong belanjaan. "Sudah," gumamku pelan. "Ya, sudah, Mas. Ayo, kita langsung pulang." Reza menghidupkan mobil dan segera melajukannya. Kami pun keluar dari pelataran parkiran minimarket.
Entah bagaimana, hanya dalam beberapa menit sepeninggal kami masuk ke dalam minimarket dan sekembalinya kami ke mobil, tiba-tiba langit berubah menjadi mendung, hujan tampaknya akan turun. Dan benar saja, hanya dalam hitungan detik, bulir-bulir air hujan telah menimpa kaca mobil kami, semakin banyak dan akhirnya cukup deras.
__ADS_1
Aku dan Reza memilih tetap melanjutkan perjalanan, kendati curah hujan yang cukup deras membuat pandangan kami tidak leluasa. Reza tetap serius menatap jalanan, sementara banyak pengendara motor yang menepi dan pengendara bermobil memperlambat laju kendaraan mereka karena licinnya jalanan, sedangkan bagi mereka -- pengendara bermobil yang tidak sabar, mereka sibuk membunyikan klakson.
Dalam kericuhan itu pula, entah bagaimana awalnya, tiba-tiba ada sebuah mobil menyerempet dari arah belakang, Reza panik lalu membanting setir ke kiri jalan, seketika aku menjerit dan kami terkesiap. Untunglah Reza masih mampu menguasai keadaan, ia mengerem mobil dengan tajam, menimbulkan suara berdecitan dari ban mobil yang bergesekan dengan jalanan aspal yang basah hingga mobil kami keluar dari jalan. Hampir saja. Tapi tetap saja, perutku jadi sedikit sakit.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Sakit," kataku.
"Um, ti--"
Tiiiiiiiin!!!
__ADS_1
Tum!
Kasak-kusuk, kasak-kusuk!
Kecelakaan lalu lintas terjadi. Mobil yang tadi menyerempet kami mengalami rem blong. Di depan sana, ia meyeruduk motor yang sedang ditumpangi oleh pasangan suami istri yang berboncengan. Mereka terseret bersama motornya di bawah kolong mobil itu. Seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang jalan pun tak luput dari terjangan mobil yang tak terkendali itu. Ia terpental dan kepalanya membentur aspal jalanan yang basah. Kepalanya rengkah. Sebelum terhempas ke jalan, tubuhnya membentur pengendara motor lainnya, seorang bapak dengan anaknya yang sedang berboncengan. Motor itu terjatuh, namun bapak pengendara motor itu berhasil merangkak dan menepi. Malang bagi bocah yang dibonceng itu, tubuhnya terguling ke jalan kemudian terlindas sebuah sedan dari arah belakang. Peristiwa itu berlangsung sangat cepat.
Naasnya, sedan yang baru saja melindas bocah itu ikut kehilangan kendali dan akhirnya banting setir dan terbalik.
Ho! Napasku terengah. Aku tak henti menjerit dan berteriak ketakutan. Pandanganku gelap, mataku nanar. Mobil itu keluar dari jalan dan berhenti. Kecelakaan beruntun telah usai. Masa mulai heboh menghampiri semua korban. Mereka berhamburan mendekati dua mobil yang ringsek. Ada yang berteriak-teriak memberikan instruksi, ada yang menangis, ada yang menutup mulutnya, tercekat. Seketika suasana jalanan menjadi riuh rendah. Kemacetan parah pun terjadi. Orang-orang berbagi peran untuk menolong para korban, satu sisi di mobil pertama, di kolong mobilnya ada motor, dan mobil satunya...
"Alfi?"
__ADS_1