Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Be Strong


__ADS_3

"Maaf, Pak, tolong mobilnya dipindahkan."


Teguran dari seorang security itu menyadarkan kami. Reza mengangguk, membukakan pintu untukku dan ia sendiri masuk ke bagian kemudi.


Di parkiran, aku tidak bisa mengatakan apa pun. Walau sebenarnya aku ingin sekali mengatakan padanya, "Aku ada di sini untuk kamu, Mas." Tapi faktanya, lidahku keluh. Aku hanya bisa menatap Reza dengan deraian air mata.


Dia menghela napas sangat dalam sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.


Oke, Nara, yang kuat. Mainkan peranmu.


Kuraih tas pakaian dan mengeluarkan pakaian ganti untuknya. "Ganti pakaian dulu, Mas. Kamu harus sehat. Kamu yang paling dibutuhkan saat ini."


Drrrt...


Getaran ponsel itu menyela, dan suara cemas ibuku langsung terdengar dari seberang sana. "Kalian di mana? Kenapa belum sampai?"


Reza seakan tidak sanggup lagi menyampaikan berita duka, dia memberikan ponsel itu kepadaku.


"Kami di rumah sakit," kataku.


"Kenapa? Ada apa lagi?"


"Alfi sekeluarga mengalami kecelakaan," jawabku cepat.


"Innalillahi. Kalian, bagaimana? Baik-baik saja, kan?"

__ADS_1


"Em, ya, Bund. Bunda jangan cemas. Nara baik, kok."


"Reza?"


"Mas Reza... juga."


"Serius, Sayang?"


"Em, cuma sedikit syok. Ee... Bunda dengan yang lain makan duluan saja."


"Oh," hanya des*han itu yang terdengar.


"Sudah dulu, Bund. Nara mau ganti pakaian, basah kuyup. Nara tutup dulu teleponnya."


Tut! Sambungan telepon terputus.


Aku langsung pindah ke belakang, dengan segera mengganti pakaianku dan mengoleskan minyak telon ke perutku. Maafkan, Mama. Kalian pasti kelelahan, kalian pasti juga kelaparan. "Mas, ganti pakaian kamu. Setelah itu kita harus makan siang. Paling tidak kamu harus mengisi perut."


Dia mengangguk, lalu menoleh ke belakang. "Maaf, ya."


Aku pun balas mengangguk. "Yang penting kamu jangan lalai dengan diri kamu sendiri. Peran kamu sangat dibutuhkan. Tidak hanya di sini, tapi juga aku, di sisiku dan anak-anak kita."


Sekali lagi, Reza mengangguk dan sedikit lebih tenang. "Ya, Sayang," katanya. Des*han berat lagi-lagi lolos dari bibirnya. Kemudian ia mengelus perutku. "Kalian baik-baik saja? Perut kamu sudah tidak sakit?"


Aku menggeleng kendati sebenarnya tubuhku sangat lelah. "Ayo, ganti pakaian dulu."

__ADS_1


Tanpa suara, Reza pun turut pidah ke belakang dan melepaskan pakaiannya yang basah, dan mengenakan pakaian gantinya.


Kami sempat berpelukan cukup lama sebelum keluar dari mobil. Bahkan Reza sempat mendaratkan satu ciuman hangat di keningku.


"Kamu kuat," kataku. "Kamu bisa diandalkan oleh semua orang."


Dia meremas tanganku cukup kuat. "Aku takut," katanya. "Aku mengkhawatirkan Alfi. Keadaannya sangat parah."


"Doakan saja yang terbaik, Mas. Toh kita tidak akan bisa melawan takdir apa pun keadaan ke depannya nanti. Semoga dia selamat. Anak-anaknya, juga kedua istrinya -- mereka membutuhkan mas Alfi. Kita berdoa untuk keselamatannya, ya. Kamu juga, yang kuat. Aku butuh kamu."


Lagi-lagi des*han berat lolos dari bibirnya. "Ya, Sayang. Aku bisa. Terima kasih atas dukungan kamu, terima kasih sudah menguatkan aku."


"Em, kita keluar, ya. Ke kantin. Anak-anak kita kelaparan."


Dia mengelus perutku. "Maafkan Papa, ya, Nak. Kalian lapar, ya? Ayo, kita makan dulu."


Kami keluar, pertama-pertama ke bagian administrasi rumah sakit dulu sebentar, di saat bersamaan, Reza menghubungi para bodyguard sewaannya untuk menunggui Alfi, Dinda, dan anak-anaknya. Setelah itu kami langsung menuju kantin rumah sakit. Selera tidak selera, harus makan. Karena kami sehat dan hidup -- bukan hanya untuk diri sendiri. Tapi untuk semua orang, dan untuk menghadapi semua keadaan.


Reza tetap menunduk dalam diam. Dia mengunyah dengan ogah-ogahan. Perutnya yang sedari tadi kosong seolah mendadak terasa penuh, aku pun merasakan hal yang sama. Sop ayam yang terhidang sedikit pun tak terasa lezat. Padahal kami berdua sangat suka sop. Tapi apa pun itu, aku mesti makan, aku mesti menghabiskan makananku, demi anak-anak di dalam kandunganku. Sementara Reza, dia hanya menghabiskan setengah porsi sop ayam miliknya. Tak apa, yang penting ia makan, setidaknya ada sedikit makanan yang masuk ke perutnya.


Dalam diam dan kebisuan, Reza menyeruput cappucino yang kini suda tak benar-benar panas dalam genggaman tangannya hingga tuntas di antara hingar bingar suara guyuran hujan yang jatuh di atas kanopi kantin rumah sakit. Suara hujan yang jatuh berdentang-dentang membentuk simfoni genderang yang betalu-talu.


Huh... semua ini benar-benar melelahkan fisik, hati, juga pikiran. Aku biasanya suka hujan, bahkan aku memiliki kenangan manis tentang hujan. Reza dan aku, kami pernah menari bersama di bawah rintik airnya, yang harusnya dingin tapi kala itu justru menghangatkan. Tapi sekarang... rintik hujan bagaikan jarum-jarum tipis yang menembus ke hati semua orang. Ini sangat menyakitkan.


Kau menguji kami begitu berat.

__ADS_1


__ADS_2