Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Beban Masa Lalu


__ADS_3

"Dulu Salsya hanyalah gadis polos, gadis yang lahir dan besar di kampung. Lalu dia pindah ke Bogor, dia bekerja sebagai pelayan di warung kaki lima. Usianya tidak terpaut jauh dengan kamu. Waktu aku mendekatinya dulu, dia belum genap dua puluh tahun, masih sangat muda. Bahkan, aku yang sebenarnya belum berpengalaman mendekati seorang gadis, bisa dengan mudah mendapatkan hatinya. Aku membuat Salsya jatuh cinta hingga dia tergila-gila. Tapi...."


Kenapa? Hatiku bertanya dengan cemas.


"Aku tidak bertanggung jawab dengan perasaannya."


Tidak bertanggung jawab? "Maksud kamu?"


"Yah, sewaktu orang tuanya menjodohkan dia dengan Alvaro yang kaya raya, dan mereka menolakku mentah-mentah, Salsya justru memintaku membawanya pergi. Dia putus asa, dan... dia memintaku untuk menikahinya. Dia ingin kami kawin lari."


Deg! Perasaanku semakin tidak enak.


"Kamu tahu apa yang kulakukan? Lelaki payah, pengecut. Aku malah menyuruh Salsya untuk menikah dengan Alvaro, dan menyuruhnya supaya menuruti kemauan orang tuanya. Tapi bukan, dia bukan menuruti kemauan orang tuanya. Tapi aku, dia menuruti permintaanku.


Oke, sebatas itu saja aku sudah mengerti atas rasa bersalah Reza.


"Pernikahan itu membuat Salsya tersiksa, bukan hanya batinnya, tapi dia juga menderita secara fisik. Dia mengalami kekerasan dalam rumah tangga, bahkan... dia mengalami kekerasan seksu*al. Alvaro yang tahu Salsya masih mencintai aku, menganggapnya tidak setia, juga mengatainya murahan. Dia seringkali melampiaskan kemarahannya dengan berhubungan *eks secara berlebihan, kadang sambil mengikat, memborgol tangan dan kakinya. Dan....pernah juga dengan mencambuknya lebih dulu, bahkan...."


Apa? Aku menyimak dan merasakan perihnya. Entah kenapa, tapi aku percaya dengan cerita itu. Bisa jadi itu salah satu penyebab gangguan mental dan jiwa Salsya.


"Bahkan kalau Alvaro sedang marah, dia seringkali memberikan Salsya pada para bodyguard-nya."

__ADS_1


Hah?


"Dia sampai seringkali digilir."


"Digilir?"


"Em, beberapa bodyguard melakukan itu beramai-ramai."


Kutelan ludah merasakan ngilunya. Itu pasti sangat menyakitkan. Apalagi para bodyguard Alvaro yang kulihat waktu itu... secara fisik, badan mereka besar-besar. Apalagi tenaga dan... pasti Salsya sangat menderita karena mereka.


"Dan parahnya, Salsya pernah hamil, beberapa kali. Tapi Alvaro malah semakin kejam. Baginya janin-janin itu tidak jelas milik siapa."


"Abors* illegal. Setiap kali dia hamil, Alvaro membawanya ke klinik temannya. Membunuh janin-janin itu."


Ya Tuhan, kenapa Kau menitipkan janin itu di rahim yang tidak aman? Sedangkan seseorang seperti Mayra justru harus terampas rahimnya. Kenapa, Tuhan?


"Aku menyesal, Sayang. Semua itu karena aku. Kalau saja dulu...."


Sumpah, air mataku berurai, sama seperti Reza. Dia merasa bersalah, dan itu wajar. Aku melihat luka menganga di matanya. Perempuan-perempuan di sekitarnya semua pernah mengalami penderitaan semasa hidupnya. Ibunya yang mengalami kekerasan fisik oleh ayahnya dulu, Aruna yang diperkosa dan dic*buli berkali-kali hingga hamil oleh pria beristri yang tidak bertanggung jawab, sehingga Aruna stres dan bunuh duri. Dan ini cerita Salsya yang sebenarnya, yang lebih parah. Sungguh, semua ini memilukan.


Tapi kenapa kamu begitu tertutup padaku? Andai saja aku tahu semuanya... andai...

__ADS_1


Reza menggeleng dengan mata terpejam. "Tapi waktu tidak bisa diputar kembali. Itulah kenapa aku peduli pada Aulian. Setidaknya dia beruntung, dia mendapatkan haknya untuk hidup. Aku ingin menebus semua kesalahanku. Please--"


"Kenapa dulu kamu tidak membawa Salsya lari? Atau paling tidak, harusnya kamu memanfaatkan kesempatan kedua, kenapa kamu tidak menikahinya saja saat kamu tahu semua penderitaan Salsya? Mungkin itu bisa mengurangi rasa bersalah kamu? Iya, kan, Mas?"


Munafik. Aku tahu aku pun tidak akan rela kehilangan Reza. Tapi... kejadian seperti ini? Rasa bersalahku semakin besar, karena aku Reza tidak bisa kembali pada masa lalunya. Karena aku...


Banyak kata yang tidak bisa kuungkapkan. Hati ini -- benar-benar terasa sesak di dalam.


Reza menggeleng. "Aku tidak ingin menikahinya tanpa restu. Ibu juga tidak mengizinkan, ibu melarang aku membawa lari Salsya. Dan sedikit banyak, kamu kan tahu karakter Alvaro. Bersama Salsya, itu berarti membahayakan keluargaku. Aku memang pengecut, tapi bagiku -- keamanan keluargaku adalah prioritas utama. Lagipula, tidak ada kesempatan kedua, dia kembali saat aku sudah mencintai kamu."


Tuhan... kenapa takdirmu sepelik ini? Aku menelan ludah getir. "Mas, kan April tahun lalu ibu sudah meninggal, Alvaro juga sudah berjanji tidak akan mengganggu kamu lagi setelah penusukan waktu itu. Harusnya--"


"Aku sudah melakukan kesalahan sekali, sudah pernah mengorbankan seorang gadis karena sikapku yang pengecut. Aku tidak mau hal itu terulang. Aku tidak mau kamu... aku tidak mau menyakiti kamu."


Bohong! Aku tahu apa yang hendak ia ucapkan. "Aku tidak akan gila, Mas. Aku pasti bisa menata hidupku tanpa kamu. Aku--"


"Tapi aku hanya ingin hidup bersama kamu. Katakanlah aku egois. Tapi aku mau bersama kamu. Mungkin kamu akan baik-baik saja tanpa aku. Tapi aku tidak. Aku yang tidak bisa tanpa kamu. Aku bisa gila kalau aku kehilangan kamu. Aku mau kamu. Kamu satu-satunya, Ra. Kamu tahu kalau aku sangat mencintai kamu. Aku sayang sama kamu."


Aku menggeleng. Aku tahu, tapi ini sama-sama menyiksa. Kenapa Tuhan tidak memberikan kita pilihan yang mudah? Kenap--


"Auw... aduh! Perutku...."

__ADS_1


__ADS_2