
Malam ini aku mimpi lagi, yang ketiga kali.
Selepas mimpi buruk itu, aku bagai terdampar di pulau paling sunyi. Beberapa serpihan adegan mimpi masih tersisa di pelupuk mata. Masih terperangkap dalam ingatanku, suara-suara pisau menembus kulit, aliran darah yang bergelimang keluar dari luka tempat pisau itu tertancap, dan suara perempuan yang meminta pertolongan di ujung embusan napasnya. Semua terasa begitu nyata.
Aku merasa ngeri sekali sampai jantungku berdebar-debar hebat seakan menggedor-gedor rongga dadaku. Saking kencang debaran jantungku, aku takut tulang rusukku akan patah akibat debaran yang bergemuruh. Aku memegang dadaku untuk meredam suara debar yang mengerikan itu. Keringatku mengucur deras.
Aku bersedekap, mencengkeram selimut dan menyambarnya sampai ke dagu, mencoba membuat diriku tenang. Aku menatap langit-langit kamar. Sesaat kemudian, aku memijat tengkukku sendiri.
"Tidurku selesai," gumamku lirih. Aku menegakkan punggung, duduk sejenak di tempat tidur yang seprainya telah kusut dan basah, lalu sejenak kemudian aku turun dari tempat tidur sembari mengikat rambut. "Mimpi sialan!" umpatku pelan.
Aku tahu harusnya aku beristigfar atau setidaknya menyebut nama Tuhan. Tapi aku benar-benar sudah lelah dengan mimpi yang terus menghantuiku, serasa merongrong dan perlahan merusak mentalku -- mental yang memang sudah pernah rusak -- sedari dulu. Dan kurasa, pada saat seperti ini, aku berhak marah dan mengumpat. Bahkan berteriak k*parat kepada siapa saja. Setidaknya emosiku sedikit redam.
Aku berdiri di depan jendela, membuka kuncinya dengan sebelah tangan, lalu menyandarkan kepala di tepinya, menerawang jauh di kegelapan subuh yang masih pekat. Udara dingin langsung berembus kencang mencubiti sekujur kulitku. "Walaupun dingin, aku butuh sedikit udara segar," ujarku pada diri sendiri.
Dalam lamunan, aku teringat pada tulisan seseorang yang pernah kubaca. Dia menulis seperti ini: ... aku masih bergumul dengan mimpi-mimpi yang mengasyikkan (walaupun mimpi buruk, bagiku mimpi sesuatu yang keren dan asyik). Pernah tidak Anda bermimpi? Kalau Anda merasa jarang bermimpi, atau tak pernah bermimpi, atau lupa akan mimpi-mimpi yang Anda alami saat tertidur, kasihan sekali hidup Anda.
Mungkin benar kasihan sekali hidup orang-orang itu -- orang-orang yang tidak pernah bermimpi dalam tidurnya. Tapi kurasa -- saat ini -- akulah yang paling kasihan, aku tidak bisa tidur tenang karena mimpi-mimpi sialan itu. Bagian mana yang mengasyikkan dari mimpi buruk ini?
Tenang, Nara. Kamu bisa melewati semua ini.
Yap. Hanya sebentar, hawa dingin khas Bogor hampir membekukan wajahku. Aku segera menutup jendela kamar, lalu menyibakkan rambut dan menggosok pipi dengan telapak tangan. Dan merasa sedikit lebih baik.
"Sayang?"
Oh!
Aku kaget mendengar suara Reza. Aku menahan diri untuk tidak membangunkannya kendati aku sangat ingin, tapi akhirnya dia terbangun sendiri.
"Kenapa, Sayang?" Ia langsung menyalakan lampu, menekan tombol di sebelah tempat tidurnya.
Aku menggeleng. Ruangan yang tadi hanya diterangi lampu tidur kini sudah terang berkat cahaya lampu di langit-langit kamar tamu itu.
__ADS_1
"Mimpi lagi?"
Aku mengangguk. "Ya," jawabku. "Mimpi yang sama, malah terasa lebih buruk. Aku melihat Salsya meregang nyawa."
Reza turun dari tempat tidur, menghampiri dan langsung memelukku. Dia mencium keningku, membiarkan bibirnya menempel satu menit penuh. "Semuanya akan baik-baik saja."
"Em, semoga, Mas."
"Sayang, aku mau tanya sesuatu."
"Apa?"
"Maaf, tapi... apa kamu butuh...," ia menghentikan kata-katanya.
Aku tahu persis apa yang ingin ia tanyakan. Dan ini bukan waktu yang tepat untuk menuruti ego, aku tidak boleh tersinggung.
"Apa, Mas? Butuh dokter? Psikolog? Ustaz untuk rukiah? Aris? Aku tidak butuh."
"Mas."
"Apa?"
"Apa sudah ada pengajian untuk Salsya?"
Reza tertegun. Wajar, karena pertanyaan itu dilontarkan olehku, sosok wanita yang selama ini membenci Salsya. "Tidak tahu," jawabnya. "Tapi dia tidak punya keluarga. Katanya dia punya tante, kerabat jauh, maksudku saudara ibunya, tapi saudara tiri, itu pun di luar negeri. Aku... sori, aku tidak kepikiran tentang itu."
Aku mendongak, sedikit bergeser dari dada bidangnya. "Bisa kita adakan acara tahlilan untuk mendoakan Salsya?"
Reza menatap heran padaku. "Kamu yakin?" tanyanya.
"Em, aku merasa bersalah, Mas."
__ADS_1
"Sayang--"
"Kalau malam itu aku tidak menyuruh kamu pergi--"
"Ssst... sudah, ya."
"Aku bersalah. Mungkin mimpi-mimpiku itu hukuman--"
"Sayang, cukup! Jangan bahas lagi. Kamu tidak bersalah, oke?"
Apanya yang oke? Aku tahu aku salah. Setidaknya ada andilku dalam kejadian ini.
"Kamu mau, kan, mengadakan acara tahlilan untuk dia? Aku mohon?"
Sekali lagi, Reza mengangguk. Dia menyetujui permintaanku. "Nanti aku minta Erik untuk mengurus semuanya. Mungkin sebaiknya diadakan di panti. Tidak enak kalau di sini."
Kurasa itu bagus. Aku menghela napas dengan berat. "Boleh aku ke makam Salsya?"
"Sayang...."
Kutatap matanya dengan harap. "Please...," kataku. "Aku mohon, ya? Bawa aku ke sana, Mas. Mungkin setelah itu perasaanku sedikit membaik."
Dia mend*sah dan akhirnya menyahut sebelum memelukku lagi. "Oke, kalau itu bisa membuat kamu merasa lebih baik. Nanti kita ziarah ke makamnya."
"Terima kasih, ya, Mas."
Di saat yang bersamaan, suara azan subuh berkumandang. Menyadari tubuhku yang lengket karena peluh, aku pun melepaskan diri dari pelukannya. "Kamu salat duluan saja, Mas. Aku mau mandi dulu."
"Biar kubantu. Kita mandi dulu, nanti salat jamaah."
Terima kasih, kamu begitu perhatian, juga pengertian. Terlepas dari semua luka yang kurasakan selama ini, aku beruntung memiliki kamu, Mas.
__ADS_1