Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Melebur Rasa


__ADS_3

"Kamu tahu, tidak, Mas, kapan kita diperbolehkan pulang ke Jakarta?"


"Entah, aku tidak tahu."


"Kalau tiga minggu ini belum boleh, berarti aku akan lahiran di sini?"


"Di mana pun tidak masalah. Mau lahiran di sini, atau di Jakarta, yang penting kan ada aku, ada bunda. Iya, kan?"


Aku mengangguk. "Iya, tapi kan tidak enak kalau semakin meramaikan rumah tante. Apalagi dengan tangisan bayi. Aku takut mereka tidak nyaman. Bagaimana kalau mereka merasa terganggu? Dua bayi lagi. Pasti suara tangis mereka menggelegar kalau keduanya kompak nangis bareng."


"Lihat nanti saja, mungkin nanti mereka memperbolehkan kita tinggal di mes. Mudah-mudahan."


"Kalau mereka tetap keukeuh tidak mengizinkan, bagaimana?"


"Apa boleh buat, ikuti saja. Berarti kita akan menumpang terus di rumah mereka."


"Kamu tidak keberatan?"


"Di mana pun asal bersama kamu, akan selalu menyenangkan."


Reza tersenyum, pun aku. Kalimat itu masih ia ingat dengn baik. "Di mana pun asal bersama kamu, akan selalu menyenangkan," aku balas mengucapkannya.


"Asal kita bersama, Sayang."


Aku mengangguk. "Asal kita bersama." Hening sejenak. "Em... tiga minggu lagi, Mas. Tapi kita belum mempersiapkan apa-apa."

__ADS_1


"Nanti, ya. Kita lihat dulu seberapa jelas kamu lahirannya di mana, nanti kita cari barang-barangnya lewat online, kan gampang. Oke?"


Kupejamkan mataku sejenak. "Aku tidak akan lahiran di penjara, kan?"


Hening.


"Mas?"


Reza menggeleng. "Tidak akan. Mana ada orang yang lahiran di penjara, pasti dibawa ke klinik atau ke rumah sakit oleh petugasnya. Iya, kan?"


Aku melotot, sementara Reza berusaha nyengir, padahal matanya berkaca.


"Tidak lucu!"


"Aku berusaha percaya kalau aku akan terbebas dari kasus ini. Tapi kan kemungkinan buruk itu selalu ada."


Reza mend*sah. "Tidak akan. Percaya padaku."


"Kenapa? Apa yang akan kamu lakukan seandainya jalan kita buntu, dan kita tidak bisa melawan keputusan hukum?"


Jalan buntu. Dua kata itu menghantui.


"Kamu...," kata Reza, "kebanyakan nonton sinetron... kebanyakan baca novel... dan... kebanyakan memikirkan hal-hal yang tidak masuk akal. Ini dunia nyata, tidak akan seperti itu."


Memang. Tapi, sekali lagi, kemungkinan terburuk itu akan selalu ada.

__ADS_1


"Kalau hal-hal seperti di dalam sinetron itu benar-benar terjadi, bagaimana? Polisi salah tangkap, bukan menangkap pelaku yang sebenarnya. Terus, hakim menjatuhkan hukuman ke orang yang salah seperti di sinetron. Bagaimana?"


Reza sengaja mendengarkan celotehanku yang panjang sepanjang jalan kenangan. Aku tahu, dia berusaha menempatkan diri dan memerankan sosoknya -- seorang pendengar yang baik dan penjawab yang bijak.


Tapi...


Eummm...


Dia membungkam mulutku dengan bibirnya, sebelum dia menjawabku, atau sebelum aku berceloteh lebih panjang lagi.


"Tenang saja, kalau kita menemukan jalan buntu, kita bobol jalan itu dengan cara kita sendiri. Buntu... bukan berarti kita akan stuck di tempat. Nanti aku sewa alat untuk membobolnya. Tenang saja."


Aku merengut. "Kamu, ih. Tidak lucu, tahu! Memangnya tembok mau dibobol?"


Reza tersenyum lagi, tapi kali ini karena merasa ada sesuatu yang lucu, mungkin karena melihatku ngambek seperti anak kecil. "Tenang, ya. Tidak akan terjadi apa-apa lagi pada keluarga kecil kita. Akan kulakukan apa pun untuk kamu, untuk kalian. Aku janji, istri dan anak-anakku akan baik-baik saja. Pasti."


Aku bingung. "Caranya?"


Dia mengedikkan bahu. "Apa pun akan aku lakukan. Bila perlu akan kutukar kebebasan kamu dengan uang."


"Kamu mau menyogok? Mau menyuap? Begitu?"


"Bukan...."


"Lalu?"

__ADS_1


__ADS_2