
Aku kasihan pada Aulian, aku juga ingin dia punya keluarga. Aku ingin dia mendapatkan kehidupan yang layak, dan memiliki seseorang yang menjamin kelangsungan hidupnya -- memenuhi semua kebutuhannya. Bukan hanya tentang materi, tapi juga kasih sayang dan cinta yang cukup dari kedua orang tua, ayah dan ibu untuknya.
Akan tetapi, mengapa aku tetap tidak bisa menerima kalau sosok itu adalah Reza, suamiku -- ayah dari anak-anakku?
Mengapa hatiku tidak rela?
Jika pun aku tetap menolak atau pun menyetujuinya, tetap saja, itu keputusan yang berat, karena diputuskan dengan setengah hati. Setengah hati karena rasa bersalah, setengah hati karena rasa kasihan. Akhirnya aku memutuskan untuk membahas ini dengan Reza saat dia menyuapiku makan malam.
"Aulian tidak hanya membutuhkan materi untuk hidup, untuk semua kebutuhan pokoknya. Tapi juga butuh cinta dan kasih sayang. Dia butuh orang tua, bukan sekadar pengasuh."
Reza menatapku dengan penuh harap. Aku tahu dia ingin aku bersedia mengurus dan memberikan cinta dan kasih sayangku pada Aulian. Meski dia tidak mengatakannya, tapi aku tahu persis harapan di hati Reza yang sesungguhnya. Dia ingin aku menjadi ibu untuk bayi malang itu.
"Aku tidak yakin aku bisa melakukannya. Karena itu... boleh aku membahas ini dengan Mayra? Mungkin dia--"
Reza menggeleng pelan. "Kita tidak boleh meminta itu, kecuali kalau Mayra sendiri yang berkenan tanpa paksaan atau karena rasa tidak enak hati terhadap kita."
"Aku tahu, Mas. Tapi--"
__ADS_1
"Alfi sudah punya empat anak."
"Ya, tapi mungkin saja Mayra mau, Mas."
"Kalau dia mau. Kalau tidak?"
Aku memejamkan mata. Aku tahu ini akan menjadi perdebatan yang berlanjut jika aku bersikeras menyahut.
"Sayang, maaf, tapi... aku berharap...."
Reza tidak berani melanjutkan kata-katanya. Aku tahu persis, dia ingin memintaku supaya mau mengurus Aulian. "Kenapa?" tanyaku -- pura-pura tidak mengerti.
"Aku cuma minta satu hal, Mas. Jika kamu bersikeras ingin merawatnya, statusnya bukan sebagai anak kamu. Terserah, keponakan angkat atau apa. Asal bukan anak. Aku ingin hanya anak-anak yang terlahir dari rahimku yang berstatus sebagai anak kamu, yang memanggil kamu ayah -- memanggil kamu papa seperti yang kamu mau. Bisa janji? Dia tidak akan memanggil kamu ayah, kan? Please?"
Reza mengangguk. "Ya," katanya. "Tidak akan."
"Please... jangan ingkar. Cukup aku yang merasakan berbagi ayah, bahkan ayahku lebih sayang anak-anaknya yang lain. Aku tidak mau anak-anakku kelak bernasib sama seperti aku. Aku ingin hanya anak-anakku yang memiliki kamu, Mas."
__ADS_1
Reza mengusap air mataku yang jatuh tak terkendali. "Aku ngerti. Kita bahas lagi lain kali, ya. Kamu jangan nangis."
"Tidak. Aku tidak ingin masalah ini berlarut."
"Iya, tapi--"
"Aku mau mengurus Aulian."
"Kamu--"
"Aku bersedia mengurusnya seperti anakku sendiri. Aku bersedia memberikan dia kasih sayang seorang ibu. Aku...."
Pupil mata Reza seketika melebar. "Kamu yakin?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Tapi aku tidak ingin dia berstatus sebagai anakku secara hukum. Dan, dia hanya boleh memanggilku tante."
Reza bahagia, dia langsung memelukku erat, lalu mencium keningku dengan hangat dan lama.
__ADS_1
"Aku melakukannya untuk kamu, untuk membantu kamu meringankan rasa bersalah kamu pada almarhumah ibunya. Tahu kenapa? Karena aku mencintai kamu. Ingat itu!"
Reza tersenyum lebar, lalu meraih dan menggenggam tanganku dengan lembut. "Iya, Sayang. Aku akan selalu ingat. Terima kasih, ya. Aku menghargai pengorbanan kamu. Terima kasih, Sayang."