Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Bayi Malang


__ADS_3

Suara tangis khas bayi menyambut saat kami memasuki panti. Bayi lelaki kecil dalam baju bergambar Micky Mouse itu berada dalam gendongan pengurus panti. Bu Nurul nampak kewalahan menggendongnya, katanya bayi enam bulan itu rewel semenjak kehilangan ibunya. Jujur, aku sedih melihatnya.


Memang benar, aku ingin melihat Aulian, ingin tahu bagaimana keadaan bayi itu sepeninggal almarhumah ibunya. Dan ini yang kulihat. Rasa bersalah semakin merongrong dan mencubit hati dan perasaanku.


"Cup, cup. Sini, Ganteng." Reza menggendong dan mendekap bayi itu di dada, dan dia langsung anteng.


Hatiku bertanya: kenapa? Kenapa mereka seakan-akan akrab sekali? Apa karena tangan itu yang pertama kali menyambutnya dari dokter atau perawat rumah sakit saat ia lahir? Apa karena dia yang mengazaninya? Atau...


"Lucu, ya, Sayang?"


"Eh, oh, iya, Mas. Dia lucu."


"Mau coba gendong?"


"Aku?"


"Iya. Dicoba, ya. Sekalian kamu latihan."


Aku kikuk. Aku tidak pernah menggendong bayi selain anak-anak sepupuku. Itu pun sudah lama sekali. Terlebih, ini...


Aulian. Anaknya Salsya.


Stop, Nara! Please... Salsya sudah tiada. Berhenti menghakiminya.


Entah kenapa, aku mencium bayi kecil dalam gendonganku itu. Rasa bersalahku membuatku ingin melakukan itu. "Maafkan aku, Nak. Aku ikut andil dalam kematian ibumu. Maafkan aku."


Yeah, aku berbisik dengan air mata menetes. Tidak tahu pasti, apakah Reza mendengar ucapanku dan melihat air mataku? Kuharap tidak.


"Biasanya Zahra yang menggendong. Dia anteng kalau digendong Zahra. Tapi Zahra sedang ke rumah sakit."


Reza menoleh. "Siapa yang sakit, Bu?" tanyanya.


"Kurang tahu juga, Nak. Kalau tidak salah, katanya sepupunya."

__ADS_1


Reza manggut-manggut dan obrolan mereka pun berlanjut, aku tidak mendengar sebab membawa Aulian ke tempat tidurnya dan memberinya dot susu formula. Dia anteng dan mulai terlelap. Tidak lama, Reza pun menghampiriku.


"Kasihan sekali anak ini. Bayi yang malang. Semoga ada yang mau mengadopsinya, ya, Mas. Aku berharap dia akan memiliki orang tua yang lengkap, punya ayah dan ibu, supaya dia bisa merasakan kasih sayang dan kehangatan keluarga." Lalu aku tertunduk. "Tapi...."


Dahi Reza mengernyit. "Kenapa?"


Aku mengedikkan bahu. "Entahlah. Tapi aku takut, bagaimana kalau saat dewasa nanti dia tahu tentang kematian ibunya? Apa dia akan menyalahkan aku?"


"Jangan berpikir negatif, Sayang. Lagipula itu masih sangat lama. Sudah, ya. Tenangkan pikiran kamu."


Aku mengangguk. Beberapa saat kemudian, setelah Aulian benar-benar pulas, kami pun lekas pergi. Aku ingin cepat pulang dan istirahat. Aku lelah -- hati dan pikiran yang aku tahu itu akan memengaruhi fisikku. Tetapi, sewaktu kami tiba di parkiran...


"Aku mau mengatakan sesuatu."


Aku dapat mendengar keseriusan dalam suara Reza. Sepertinya apa yang hendak dia bicarakan begitu penting. Setidaknya baginya. Helaan napas pendek lolos dari bibirku. "Ada apa, Mas?"


"Jujur aku takut untuk menyampaikan ini. Takut... pada banyak hal. Tapi... kamu ingat, kan, kamu ingin aku selalu jujur?"


Aku menoleh sekilas. "Katakan saja."


Kuputar bola mata dengan malas. "Iya."


"Jujur... sebelum meninggal, Salsya menitipkan Aulian padaku. Dia--"


"Aku tidak setuju!" potongku cepat.


"Sayang...."


"Tidak!"


Reza memijat pelipisnya, di saat itu aku melihat seakan-akan dia menyimpan beban yang begitu berat. "Bisa dengar aku dulu? Tolong?"


Aku menggeleng. "Aku tidak setuju, Mas. Aku tidak mau."

__ADS_1


"Sayang, dengar aku dulu. Oke?"


Aku pun mengangguk -- dengan terpaksa.


Reza menggenggam tanganku. "Aku mengiyakan--"


"Itulah kamu!" teriakku sambil menyentak tangannya. "Selalu, ya. Tidak pernah berubah. Aku muak sama kamu, Mas! Muak!"


Tangisku pecah lagi. Aku terisak. Aku membenci diriku yang sekarang. Sangat cengeng. Kuseka air mataku, sementara Reza terdiam menunduk.


"Aku tidak bermaksud mengadopsinya sebagai anak," katanya sesaat kemudian. "Aku tidak bermaksud mengajaknya untuk tinggal bersama kita. Hanya saja, aku tidak bisa membiarkan dia diadopsi orang lain."


Aku menggeleng dengan rasa tidak terima yang kentara. Bukan karena tidak suka pada Aulian, tapi mungkin karena masih ada rasa cemburu yang mendominasi di dalam diriku pada mendiang Salsya. "Kamu tidak rela karena dia anak Salsya? Begitu, kan?"


"Bukan. Tapi karena Salsya menitipkannya padaku. Dan aku sudah terlanjur mengiyakan. Aku sudah berjanji untuk menjaganya."


Persetan!


"Please, Sayang. Aku hanya ingin membiayai dan menjamin kelangsungan hidupnya. Hanya itu. Untuk sementara dia tetap di panti. Tapi mungkin...," - ia mengedikkan bahu - "aku akan meminta mbok Tin untuk merawat Aulian."


Aku mend*sah sambil memejamkan mata. "Apa Aulian itu anak kandung kamu, Mas? Tolong jujur."


"Ya Tuhan... bukaaaaan. Jangan pertanyakan kesetiaanku. Please! Jangan pernah! Aku tidak pernah menyentuh Salsya atau perempuan mana pun selain kamu. Apa perlu aku bersumpah?"


Percuma. Kamu sering ingkar.


Dari kursi pengemudi, Reza menatapku.


Dari kursi penumpang, aku menatap Reza.


Kami saling menatap dalam diam, tapi mata kami bicara banyak. Lagi-lagi aku menemukan kejujuran di sana.


"Berikan aku alasan, kenapa aku harus setuju?" akhirnya aku yang lebih dulu buka suara.

__ADS_1


Reza menunduk lemah. "Rasa bersalah yang membuat aku begini." Lalu dia mend*sah dan menatap ke luar jendela. "Semua yang terjadi pada Salsya itu karena kesalahanku."


Resah. Gelisah. Rasa takut seketika menyergapku. Apa maksudnya?


__ADS_2