Pindah Ke Akun Baru

Pindah Ke Akun Baru
Bentuk Cinta Dan Sayang


__ADS_3

"Kamu sudah diperbolehkan pulang."


Aku mengangguk. "Kita akan pulang ke mana, Mas? Bukan...."


"Tidak, Sayang. Kita tidak akan pulang ke rumah. Lagipula rumah kita masih disegel police line." Reza yang tadinya beberes barang-barang kami yang hendak dibawa pulang -- langsung duduk di depanku. Dia menggenggam tanganku dan menatap mataku dengan lekat. "Untuk sementara kita tinggal di mes resto, ya? Sampai kita diperbolehkan pulang ke Jakarta."


Aku mengangguk lagi. Jelas aku setuju. "Kurasa itu lebih baik."


"Em, tentu. Oh ya, tadi... bunda, tante, oom, mereka minta kita tinggal di rumah mereka sementara. Tapi... aku khawatir kamu tidak mau. Tapi kalau kamu mau--"


Aku menggeleng. "Tidak usah, Mas. Aku tidak mau merepotkan mereka. Apalagi kondisiku seperti ini. Aku tidak mau mereka mengkhawatirkan aku terus nanti."


"Tepat seperti dugaanku. Kamu hanya mau berduaan denganku, kan?"


Hah! Dia mulai kumat. "Dasar! Percaya diri sekali kamu."


"Fakta."


Aku tersenyum. "Iya, iya. Aku... maunya berduaan terus dengan kamu. Disayang-sayang... dimanja-manja... dielus-elus... di--"


"Diterapi cinta terus... ya kan?"


Ck! Spontan aku ngakak. "Kamu... selalu bisa membuat aku tertawa. Terima kasih, ya."

__ADS_1


"Sudah? Hanya seperti itu?"


"Maksudnya?"


"Cara kamu berterimakasih ke suami. Cuma seperti itu?"


Aku mengangguk. Aku paham betul apa yang ia maksud. "Oke," kataku. Yap, dalam sekejap bibir kami pun saling bertaut sempurna. Seperti biasa, dia suka sekali menikmati rasa kenyal bibirku.


Ceklek!


"Eh, Bund, Tant. Sori, maaf," kata Reza. Dia malu tertangkap basah sedang memonopoli bibir si anak di depan mata sang ibu.


Ibuku dan bibiku mesem-mesem. "Santai kelles...," kata bibiku. "Kan halal."


"Yey! Ayo, Mas! Capcusss...," seruku dengan tampang cengengesan.


Wajah Reza langsung merah karena digoda tiga orang sekaligus. "Kamu ini, Sayang. Malah ikut-ikutan."


"Aku serius, Mas! Ayo... gendong aku, ya. Kita seru-seruan di kamar mandi. Ya, ya, ya?" Kugigit bibir bawahku dengan sensual, dengan wajah tersenyum, dan menaikkan alis beberapa kali. Menggodanya.


Reza mendelik, mencubit gemas kedua pipiku, lalu berbisik, "Kamu sama dengan mereka."


"Bunda...," pekikku.

__ADS_1


Spontan Reza menutup mulutku yang ingin mengadu. "Jangan begitu...."


Aku nyengir. "Bercanda, Mas."


Dia mencebik. Semoga tidak berdosa, ya. Kan aku cuma bercanda. Peace....


"Kalian mending tinggal di rumah Tante dulu," ujar bibiku menyelip canda tawa kami. "Lebih banyak orang yang menjaga kan lebih aman. Ya, Sayang. Mau, ya?"


Aku dan Reza saling melirik. Saling menyampaikan pertanyaan melalui tatapan dan mimik muka. Hanya dengan dua alis terangkat, kami berdua saling mengerti pertanyaan masing-masing.


"Kalau Reza oke oke saja, Tant. Tergantung Nara."


Eit dah, nih laki.


"Oke, berarti fix, ya! Ayo, kita pulang."


Aku bengong. Jawabanku tidak penting, kah? "Nara kan belum bilang apa-apa, Tant."


"Kamu dilarang menolak. Harus mau, oke? Tante ke sini khusus untuk menjemput kamu, Sayang. Karena Tante sayang kamu."


Hmm, baiklah. Aku mulai terbiasa dengan cara mereka semua menyayangiku -- dengan menyetirku, mengharuskan aku untuk menuruti semua yang mereka tetapkan.


Reza mengangguk dan mer*mas lembut jemariku. "Menurut saja," pintanya.

__ADS_1


Aku pun balas mengangguk. Dan, yeah, aku harus bersyukur karena orang-orang di sekitarku benar-benar peduli dan sayang padaku, melakukan semua hal tulus dari hati, bukan karena mengharapkan pamrih. Dan kami pun segera pulang.


__ADS_2