
Pagi itu, di sebuah sekolah SMK TEKNIK MESIN, sekolah yang hanya di huni oleh para siswa laki-laki.
Para siswa di haruskan masuk pada pukul 08.00 pagi.
Aturan ini umum bagi semua siswa di Kabupaten Polewali Mandar, bagi yang terlambat bisa diberi sanksi berupa tugas membersihkan halaman sekolah.
Anton datang terlambat, telat 30 menit dari waktu yang ditetapkan, dengan mengendarai sepeda motor miliknya ia memasuki pintu gerbang.
Pak Agus satpam sekolah yang sementara berjaga di pos satpam melihat Anton baru saja memasuki pintu gerbang, ia kemudian berlari keluar menyapa Anton
"Anton, datangnya terlambat lagi?"
Anton menoleh sambil berkendara menuju tempat parkir sekolah
"Owh Pak Agus, iya nih pak semalam begadang soalnya" Anton dengan wajah ramah menjawab Pak Agus
"Ya udah, lain kali lebih cepat lagi yahh"
"Iya pak nanti di usahakan"
Anton mengangkat tangannya menyapa Pak Agus masih dengan wajah ramah, selepas itu ia kemudian berjalan menuju ruang kelas.
Pak Agus kembali ke pos jaga menggelengkan kepalanya
'aduh anak sekarang benar-benar tak punya adab, sudah tahu aturan jam masuk sekolah tapi masih saja datang terlambat, bisa habis aku kalau Kepala Sekolah sampe tahu'.
Pak Agus melepas topinya lalu seketika memasangnya kembali setelah melihat 4 siswa baru saja melewati gerbang sekolah.
"Ehh.. ehhhh mau kemana?"
"Ke ruangan Pak"serentak
"Kau tidak tahu ini sudah jam berapa?"
"Memangnya jam berapa?"
"Anak ini memang di rumahmu tidak ada ada jam yah? sana pulang dan kembali lagi besok pagi"
__ADS_1
Pak Agus berlari keluar dari pos menghampiri 4 siswa itu.
para siswa itu merasa Pak Agus sedang tidak ramah hari ini mereka berempat berlari keluar pintu gerbang karena merasa sedang terancam.
pak Agus dengan keringat di dahinya lalu menutup pintu gerbang agar tak ada lagi siswa terlambat yang berusaha masuk ke sekolah.
Masih pagi, Pak Agus sudah di sibukkan oleh siswa-siswa yang tak disiplin
'aku sudah harus merencanakan pekerjaan baru, setidaknya membuka usaha penjualan, oh tidak aku ingat tetanggaku dulu yang kini sudah bangkrut karena banyaknya pembeli yang berutang'
Pak Agus terus menggerutu dalam hatinya.
****
Anton memasuki kelas, para siswa serentak memandangi wajahnya, Pak Salim yang sementara menerangkan pun ikut memandanginya dari tempat duduk.
"Heii heii.. kenapa kalian memandangiku? Apa hari ini aku terlihat sedikit lebih tampan?"
Semua murid membentak dalam hati apa yang dia katakan, sudah tahu apa kesalahannya masih saja meminta pujian dari orang lain.
"Anton mata pelajaran kami sudah berjalan separuh waktu, kami tidak mungkin mengulanginya lagi bukan"
"Aaaaaa', tidak, tidak perlu kau boleh duduk" Pak Salim kembali memaparkan materi.
Semua siswa di dalam ruangan geram tak bersuara, Anton seperti memiliki hak istimewa di dalam sekolah, mereka merasa ini tidak adil.
Setelah jam istirahat, Anton menuju kantin sekolah yang berada dibelakang gedung perpustakaan.
di jalan salah satu guru sekolah juga sedang mengarah kesana, pak Ida tersenyum pada Anton sedikit memiringkan bibirnya.
Di kantin ada belasan siswa, hampir semuanya sedang merokok beberapa di antaranya duduk dengan kaki di atas meja.
Tak berselang lama Pak Ida memasuki kantin, ia langsung di sambut oleh belasan siswa tadi
"Pagi pak! mau merokok?"
"Amir saya tidak merokok"
__ADS_1
"Atau setidaknya bapak bergabung dengan kami bagaimana?"
Pak Ida mengangkat telapak tangannya tanda menolak ia kemudian kembali keluar mencari kantin lain terdekat.
"Kalian sungguh tak sopan pada guru, Amir bisa kau turunkan kakimu dari meja" suara Anton mengejutkan pengunjung kantin
Anton menegur Amir, ia menyuruhnya untuk mengejar Pak Ida dan me minta maaf padanya.
"Tapi kan....." Amir tak menyelesaikan perkataanya Anton lalu meraih kerah bajunya menyeretnya keluar kantin serta mendorongnya.
"Sudah-sudah tak perlu bicara lagi, tolong dengar apa kataku, tanganku sedang sakit, aku tak bisa memukul dengan maksimal sekarang "
Amir tak lagi berucap sepatah kata lagi, ia kemudian beranjak mengejar pak Ida.
"Ketua.... Apa kau sudah mendengar kabar baru-baru ini?"
Anton menoleh ke sumber suara dan melihat Rusdi duduk di pojok kursi.
"Kabar apa? Wajahmu sedikit tidak menyenangkan, firasat ku ini kabar buruk" menyipitkan matanya.
"Tadi pagi Roy di keroyok di SMK NTT, sampai sekarang kami semua belum tahu siapa para pelakunya"
Setelah mendengarnya mata Anton terbuka seperti sedang kesetrum tegangan listrik.
iya bertanya-tanya apa yang terjadi terhadap Roy, mungkinkah dia membuat masalah di sekolah itu, tapi ini masih begitu pagi.
"Sebelumnya apakah Roy punya masalah dengan anak SMK NTT?"
"Kalau soal itu kami tidak tahu, Ketua".
"Yahh kalian tak perlu tahu... tapi sekarang ajak beberapa anggota, kita menuju ke SMK NTT sekarang"
"Tapi kan Ki....."
Rusdi tak menyelesaikan kalimatnya, Anton sudah lebih dulu meninggalkan kantin sekolah dengan buru-buru, ia menuju ke tempat parkiran motor lalu bersiap menuju ke SMK NTT.
Rusdi mengeluh dalam hati sebenarnya ia tak berniat datang kesana karena potensinya bisa terjadi keributan atau lebih buruk dari itu.
__ADS_1
bukan tanpa alasan Rusdi merasa mereka belum melakukan persiapan apapun, bahkan masalahnya saja belum ia ketahui pasti, tapi Anton sudah lebih dulu bergerak menuju ke sana.
Rusdi tak punya pilihan lain, ia kemudian menyiapkan beberapa anggota untuk menyusul Anton ke SMK NTT .