PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 12 "Pacaran"


__ADS_3

Langit terlihat mendung sejak tadi pagi tapi hujan belum mengguyur bumi. Cuaca hari ini sangat mendukung bagi pasangan yang memanfaatkan hari libur sekolah.


Roy dan Lina berjalan-jalan di sekitaran kota Wonomulyo menikmati hari Minggu dengan bahagia, terutama Roy.


Beberapa Minggu terkahir hubungannya bersama Lina terasa lebih dekat, mereka banyak menghabiskan waktu setiap harinya terutama saat berangkat dan pulang sekolah, mereka terlihat selalu bersama.


selepas jalan-jalan dengan memakai motor, Roy mengajak Lina untuk makan siang di salah satu rumah makan favoritnya.


"Apa kau benar-benar sering makan disini?" Lina bertanya ragu.


"Tentu saja, ini tempat favoritku" Roy menjawab dengan tersenyum.


"Sebelumnya.... kau kesini dengan siapa?" selidik Lina.


"Eichh.... kenapa kau bertanya begitu?"


"Aku pernah dengar kalau rumah makan ini sering di kunjungi orang yang sedang berpacaran?" tanya Lina sambil menyipitkan mata menyelidik.


"Itu sih....." Roy menggaruk dagunya


"Owh iya aku sering kesini dengan teman-teman sekolahku, tepatnya sih rumah makan disini kesukaan para remaja" jelas Roy tanpa merasa ada yang aneh.


Lina mengangguk mengerti, mereka berdua akhirnya masuk ke dalam dan memesan makanan.


Beberapa Minggu yang lalu, Lina sempat menolak Roy yang berusaha mendekatinya, tapi Roy bukan tipe orang yang mudah menyerah terutama jika tantangan itu datang dari seorang wanita.


Roy selalu berusaha mendekati Lina, tak jarang Roy bertamu ke rumah Lina dengan keinginannya sendiri.


Metode pendekatan Roy masih tergolong biasa dan jadul, Lina sempat merasa risih di awal tapi sikap pantang menyerah yang Roy tunjukkan membuat hati Lina tertarik.


Lina menganggap Roy adalah pria baik, meski ia masih terlihat amatiran tapi ketulusan hatinya terlihat jelas dari cara roy memperlakukan Lina, Lina berpikir akan bodoh jika menyia-nyiakan Roy.


mereka akhirnya menyantap masakan yang ia pesan sejak tadi sambil mengobrol satu sama lain


"Aku tak menyangka kita benar-benar sudah sedekat ini" Roy merayu.


"Maksudnya?" Lina mengerutkan dahi bertanya


"Yahhh, awalnya mendapatkan hatimu adalah mimpiku, bisa dibilang ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan" sambung Roy.


"ooooohhh yahhh?" Lina tersenyum mengangguk pelan.


"Owh iya aku ingin menanyakan sesuatu?"


"Yahh.. tanya saja"


"Kenapa kau dan sandi bisa putus?" tanya Roy terbata


"Maaf Roy tapi aku tak mau membahas masa lalu" Lina nampak enggan untuk membahas kenangan yang tidak mengenakan.


"Kenapa begitu, bukannya sudah selayaknya kau memberi tahu aku, kan kita sudah........" Roy tak melanjutkan.


"Aku merasa itu tak penting saja" tegas Lina menatap Roy, tapi Roy sedikit membuang muka terlihat kecewa.


"Owh begitu yahh..." Roy menghela nafas.


Mereka membisu beberapa saat sampai Lina kembali membuka percakapan.

__ADS_1


"Jadi kau benar-benar ingin tahu?" Lina merapatkan wajahnya.


Roy sedikit kaget melihat wajah Lina sedekat itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Waktu seakan berhenti sejenak Roy baru kali ini melihat wajah cantik Lina sedekat ini


'dia.. apa dia benar-benar pacarku, ya tuhan iya begitu cantik, ditambah ia tersenyum kepadaku itu terlihat begitu manis sekali, bibirnya merah tipis bagaikan cabai merah... owh tidak apa yang kupikirkan'


Roy menghentikan lamunannya rasa gugupnya tak bisa ia tutupi.


"Kau kenapa?" suara Lina seakan menyudahi pikiran Roy yang mulai mengembara.


"Ahhh tidak.. maaf aku tadi sedikit ngantuk" jawab Roy terbata beralasan.


"Ya sudah aku anggap kau tidak benar-benar ingin mengetahuinya" Lina menarik dirinya.


"aaaaaa' kalau itu aku benar-benar ingin mengetahuinya, aku sudah lama ingin menanyakan itu padamu"


"Oke aku akan memberitahumu" tegas Lina.


"Ya sudah apa jawabannya?" Roy tak menyembunyikan rasa penasarannya


"Sederhananya sih, aku tak menyukai laki-laki yang kesehariannya hidup di jalanan, aku tahu jika sandi itu anak geng di sekolah, anak-anak sering berbicara negatif tentangnya, aku tak nyaman dengan orang seperti itu" jelas Lina.


"Owh begitu yah... " Roy mengangguk mengerti tak melanjutkan pertanyaannya.


"Kau tidak ingin bertanya lagi?"


"Tidak... itu sudah cukup" Roy sedikit gelisah


"kalau begitu.. sekarang giliran ku bertanya padamu?"


"Soal anak STM yang menghajar sandi beberapa Minggu yang lalu, katanya mereka membalas dendam mu?" tanya Lina penasaran.


"Ahhhhh... bukan begitu"


"Tapi kau mengenal mereka?"Lina kembali bertanya


"Yahh.. aku mengenal mereka, tapi kalau untuk bergabung dengan geng mereka aku tidak seperti itu" Roy meyakinkan


"Tapi kenapa mereka membelamu?"


"Mereka semua adalah teman lama... di waktu SMP kami begitu dekat, tapi sekarang aku sudah tak bersama-sama mereka lagi, bisa dibilang aku tak nyaman berbaur dengan orang-orang seperti mereka"


"Roy..... kau tak menjawab pertanyaan ku, kenapa mereka membelamu?" Lina sedikit kesal


"aku tak tahu pasti, tapi mungkin saja mereka masih menganggap ku sebagi saudara mereka, lagi pula dulu aku sering membantu mereka, ini seperti tentang membalas Budi" Roy mencoba merasionalkan alasannya


"Jadi begitu.... baiklah.."


"Kau tak keberatan kan" tanya Roy khawatir


"tidak... aku tidak mempermasalahkan itu. berteman dengan mereka tidak buruk asalkan kau tidak berjalan bersama mereka melakukan apa yang mereka lakukan".


"Kalau soal itu kau tak perlu khawatir" Roy akhirnya merasa lega, ia merasa gugup beberapa saat tapi sekarang tidak lagi.


Selepas makan siang mereka akhirnya pergi ke rumah salah satu teman Lina, sore ini Lina ada tugas kelompok yang harus ia kerjakan.


Roy mengantar lina ke sana.

__ADS_1


Setelah beberapa menit mereka akhirnya sampai.


Mila terlihat sudah menunggu Lina, sebelum sampai disana Lina sudah mengiriminya pesan singkat jika dirinya sudah dekat dirumah Mila.


"Lina... apa kau dapat pesan dari pak Bayu?" Mila membuka percakapan.


"Tidak... memangnya pak Bayu bilang apa?"


"Tadi dia mengirim pesan padaku... dia me minta nomor HP kamu, katanya ada yang ia ingin tanyakan padamu"


"Owh iya...." Lina mengecek HP dari kantongnya, tapi tak ada tanda panggilan dan pesan


"kayaknya belum ada deh.. memangnya apa yang dia ingin tanyakan?"


"Aku sih kurang tahu... tapi ini mungkin soal tugas kita ini sihh" Mila berasumsi


Pak Bayu adalah guru di sekolah SMK NTT iya juga mengajar di ruangan Lina dan Mila.


Mereka berdua mulai mengerjakan tugas sekolah, Roy juga bersama mereka dan hanya menunggu. Setelah hampir dua jam mereka berhenti.


"Untuk hari ini sepertinya cukup.... besok pagi kita baru menemui pak Bayu untuk menanyakan bagian itu"


"Iya kau benar hanya di poin itu aku sedikit kurang mengerti, dari pada kita nantinya salah lebih baik kita bertanya" Lina menunjuk buku.


"Owh iya.... Roy, besok kau masih mengantar lina ke sekolahkan?" tanya Mila.


"Iya tentu saja" Roy melirik Lina


"Kalian harus datang lebih awal, agar aku dan Lina memiliki lebih banyak waktu menemui pak Bayu"


"Iya... kau bisa mengandalkan ku Mila" Roy mengangkat jempolnya dengan tersenyum.


Sebelum pulang mereka bertiga mengobrol.


Mila menyarankan jika Roy harus bisa berada di sisi Lina setiap waktu apa lagi ke depan Lina akan sibuk di acara sekolah untuk mempersiapkan pentas seni bulan depan, Lina kebetulan mengambil bagian dari pertunjukkan.


"Kau tentu tidak ingin jika ada orang lain yang menemani Lina kan Roy" Mila merayu Roy.


"Mila kau mulai dehh...." Lina menegur Mila.


"Aku tidak bicara omong kosong lohhh..... Roy, kau tau tidak jika disekolah banyak yang mengejar-ngejar Lina"


"Aku tidak tahu.. memangnya siap saja?"


"Jangan dengar apa katanya... Mila orangnya memang seperti itu dia suka bicara omong kosong" ucap Lina ingin mengentikan pembahasan ini.


"aduh Lina.... atau aku memberi tahukan Roy, siap-siapa yang menitipkan salam padaku" Mila tertawa.


Mendengar itu Roy merasa ada ancaman, entah Mila bercanda atau serius, tapi sudah sewajarnya jika banyak orang yang mengejar-ngejar Lina, bukan hanya cantik Lina juga termasuk populer di sekolah.


"Kau benar Mila.... kau akan melihatnya nanti aku akan selalu berada di samping Lina" putus Roy


"Nah gitu dong.... aku tunggu tindakanmu"


Lina memandangi mereka bergantian, Lina bingung apa yang mereka sedang bicarakan, terutama tindakan Roy yang Mila maksud.


Lina mulai mengajak Roy untuk mengantarnya pulang karena hari juga sudah semakin sore, Mila sempat menyarankan untuk tinggal lebih lama tapi mereka berdua menolak.

__ADS_1


__ADS_2