PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 11 "Kemenangan"


__ADS_3

Ryan Deva dalam posisi berlutut, ia benar-benar kelelahan. Dia telah mengeluarkan semua apa yang dia bisa untuk mengalahkan Anton.


Anton juga terlihat kelelahan tapi dibanding dengan Ryan, Anton masih memiliki cukup tenaga staminanya juga masih cukup jika harus bertarung beberapa pukulan lagi.


Tapi Anton benar-benar babak belur, matanya lebih sipit karena membengkak akibat dari tendangan bertubi-tubi yang ia terima.


Anton dan Ryan Deva saling berhadapan, Anton dalam posisi berdiri terlihat puas melihat wajah putus asa Ryan Deva.


Ryan Deva perlahan berdiri, ia terlihat sedikit memaksa dengan mengeluarkan tenaga.


"Ayo mulai lagi... kita selesaikan ini" Ryan Deva berbicara perlahan.


"Kau.....!! Apa kau masih berharap menang?" tanya Anton yang sedikit heran.


"Aku pemenang kejuaraan bela diri tingkat provinsi beberapa kali... kau meragukan itu?" Ryan Deva berusaha menyembunyikan putus asanya.


"Begitu yahh.... sungguh disayangkan kau akhirnya kalah oleh petarung jalanan yang tidak berpengalaman" Anton langsung menyerang kepercayaan diri Ryan.


"Jangan meremehkan ku dasar sial..!!!.... hiaaaaaaaaa....." Ryan berteriak kali ini ia melepaskan tinjunya, kakinya mungkin tak punya kekuatan lagi atau ia menyimpannya untuk serangan pamungkas.


Anton hanya menghindar dengan berjalan mundur Ryan terus menyirami pukulan ke arah Anton, sayangnya Ryan benar sudah tak bertenaga. Pukulannya tidak membuat Anton merasa kerepotan.


"Kenapa kau tidak menyerah saja?" Anton kembali bertanya dengan serius.


"Menyerah bukanlah sifat seorang petarung" Ryan masih menyerang, tapi tenaganya benar-benar sudah hampir terkuras habis.


"Aku mengerti maksudmu..... kau berharap aku menyelesaikan ini kan?" Anton menyipitkan matanya sembari menahan beberapa pukulan Ryan dengan tangannya.


"Sialan kau.....hiaaaaa...." Ryan berada pada puncak emosinya, ia sudah tak terkendali. Ryan Deva kemudian mengumpulkan semua tenaganya yang tersisa pada kaki kanannya dan mulai melepaskan tendangan ke anton.


Bughhhhh!!!


Ryan berhasil mengenai Anton dengan tepat sasaran. Kaki Ryan menempel di pinggang Anton, meski merasakan sakit tapi Anton mampu menahannya, lengan Anton meraih kaki Ryan Deva dan menguncinya.


"Lepaskan dasar sial..!!" Ryan berteriak


"Ini akan menjadi tendangan terakhirmu..... aku sarankan setelah ini kau banyak melatih fisik dan stamina mu, seharusnya sejak awal kau paham kalau level mu jauh dibawah ku" saran Anton.


"Berhentilah berbicara seolah kau mengerti semuanya bajingan" Ryan merapatkan giginya menahan emosi.


"Aku sudah muak mendengar ocehan mu... kau harus tahu teknik saja tak cukup untuk memenangkan pertarungan, sekali lagi berlatihlah lebih keras lagi.

__ADS_1


Tapi sebelum itu kau harus mengistirahatkan tubuh mu di rumah sakit selama beberapa Minggu" Anton mengangkat lengannya mengumpulkan banyak tenaga pada sikunya.


"Kau..... apa yang..." mata Ryan melebar ketakutan seperti tahu hal mengerikan apa yang akan menimpanya.


"Berhentilah mengoceh dan nikmati ini hiiaaaaa....!!!" Anton berteriak dengan keras ia menyikut paha Ryan yang ia kunci di pinggangnya sejak tadi dengan sekuat tenaga.


Krakkkk!!!


Bunyi tulang paha Ryan Deva menandakan tulang pahanya mengalami retak atau bisa jadi lebih buruk dari itu.


" Aaarrrrgghhhhh. aaaaaaaahhhhh....." Ryan berteriak retakan itu benar-benar memberi rasa sakit yang tak tertahankan, air mata Ryan mengalir dengan deras.


Ia tak henti-hentinya berteriak histeris kesakitan, pikirannya melupakan semuanya yang ada hanya rasa sakit yang kini serasa meremukkan seluruh badannya.


Pak Surya yang bertindak sebagai wasit dalam pertandingan dengan cepat melerai mereka berdua demi menghindari hasil yang tak di inginkan, tanda pertandingan berakhir dengan kemenangan Anton...


"Dengan ini berakhirlah sudah....." Anton dengan wajah babak belur melirik ke arah penonton.


Melihat itu, Nandar benar-benar merasa hancur melirik kiri kanan saja tak berani apa lagi menatap wajah Anton, Rusdi dan Amir.


Matanya melebar, ia benar-benar tak menyangka Ryan Deva dikalahkan dengan cara yang mengenaskan.


Yang ada dalam pikirannya tak hanya itu, tapi setelah ini berakhir ia akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak, Betapa akan direndahkannya dia.


ia tak ingin mengucapkan apapun ia berbalik dan berniat menuju pintu keluar, tapi Amir sudah menghadangnya, Amir tak memberi jalan.


"Kau bilang apa tadi...? aku ingin mendengarnya sekali lagi" Amir mengejek.


"Enyah lah dari hadapanku atau ku habisi kau..!!" bentak Nandar.


Bukan tidak mungkin jika Nandar dan pasukan Gio, Bagong bersatu dan menyerang kubu Amir maka Nandar akan memenangkan perang.


tetapi tak sesederhana itu, meski berhasil memenangkan sekarang.


Setelah Anton pulih kembali, Anton akan mengajar mereka satu persatu tentu Nandar memperhitungkan semua itu.


Amir masih terus menyudutkan Nandar.


"Sekarang kau adalah bawahan.... harusnya kau belajar menuruti atasanmu hahahaha" Amir tertawa mengejek.


"An**Ng kau.... haaaaaa" Nandar tak bisa menahan lagi ia melepaskan pukulan ke arah Amir... tapi Gio sudah lebih dulu memegang pergelangan tangan Nandar.

__ADS_1


"Jangan melakukan hal bodoh Nandar" gio menyadarkan Nandar.


Nandar menatap Gio, Nandar mengerti apa yang dikatakan Gio, amarah Nandar mulai menurun panasnya.


"Heii.... kau yang merencanakan pertarungan ini kau sendiri yang menolak hasilnya, kau benar-benar tak punya malu yahhh... tak apa aku tak mempermasalahkan itu... tapi kau tidak mungkin meninggalkan dia disini kan?". Anton menunjuk Ryan Deva yang dalam kondisi baring setengah sadar.


"Sial..." Nandar merapatkan gigi.


Anton mulai meninggalkan ring dan bergabung dalam rombongan.


Anton memberi tahu Rusdi untuk mempersiapkan pertemuan aliansi sebentar lagi, Gio dan Bagong ikut dalam rapat pertama aliansi, Nandar juga tak punya pilihan lain.


Para anggota Nandar yang lain mengurus Ryan Deva dan membawanya ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan.


________________________________________


Rapat aliansi berlangsung, Gio dan Bagong hanya menuruti semua apa yang Anton katakan. Nandar hanya terdiam sepanjang rapat, ia tak hanya menahan rasa malu yang besar tapi juga masih mengingat hasil pertarungan tadi.


Gio begitu hati-hati dalam bersikap agar Anton tak merasa curiga bahwa ia juga terlibat dalam rencana yang dibuat Nandar, meski dalam hati Gio mengecam Nandar karena rencananya tetap saja gagal. Nandar hampir membawa dirinya dalam masalah besar.


Bagong pun demikian, ia bukan tipe pemikir seperti Gio. Sejauh ini apa yang dilakukan Gio, Bagong hanya mengikutinya saja.


"Kita mulai dari mana yahh ....... pertama jangan berkomentar soal kondisiku" mulai Anton.


"Kau malu terlihat buruk seperti itu kan?" tanya Amir.


"Sudah tak usah dibahas...... hmmmm oke pertama aliansi kita diberi nama apa ?" Anton membuka percakapan.


"Kau sebaiknya bertanya padanya" Rusdi menunjuk Nandar, Nandar menatap Rusdi tapi tak berkata apapun.


"Apa kau punya nama untuk di rekomendasikan?" Anton bertanya pada Nandar.


Nandar melirik ke kiri dan kanan sebelum menjawab "aku tidak punya" jawabnya singkat.


"Bagaimana kau ini, seharusnya sebelum membuat rencana ini kau harus menyiapkan nama terlebih dulu... ini menandakan kau tak profesional dalam bekerja" Amir lebih mengejek Nandar.


Nandar hanya terdiam ia menahan amarahnya karena itu tidak akan berguna sama sekali, keadaan saat ini amarah hanya akan membawanya pada kehancuran lebih besar lagi.


Rapat terus berlangsung, Gio dan Bagong juga beberapa kali memberikan pendapat. Nandar hanya terdiam, ia hanya akan menerima apapun hasilnya.


Tapi nama aliansi belum di tentukan, Beberapa pendapat mengatakan untuk menyiapkan nama harus dengan persiapan matang, setiap kata atau kalimat harus memiliki arti atau makna yang dalam, nama aliansi tak boleh hanya sekedar kalimat biasa.

__ADS_1


Anton mengingat kembali nama gengnya. Plogelteam itu benar-benar tak memiliki arti dan tak bermanfaat sama sekali.


__ADS_2