
Mereka berbincang sampai larut malam tak terasa kopi mereka tinggal menyisakan ampasnya saja.
Nandar terus memprovokasi mereka berdua, Gio dan Bagong bukannya tak menginginkan Anton jatuh, hanya saja sampai sekarang belum ada solusi untuk mengalahkan Anton.
Mereka ragu rencana Nandar akan berhasil, apa lagi rencana itu mempertaruhkan keselamatan mereka.
Bukan tanpa alasan, sebelumnya mereka sering mendengar isu bahwa Anton tak hanya memiliki kelompok geng di sekolah, tapi juga memiliki kartu as lain yang belum mereka ketahui sampai sekarang.
Nandar tak kehabisan akal, segala bujukan ia pakai, agar malam ini mereka berdua bisa sepakat untuk menggulingkan Anton.
"Bagaimana kalau kita menantang Anton duel satu lawan satu" usul Nandar.
"Kau gila!!! Siapa yang bisa mengalahkan Anton?" Gio tak setuju rencana gila Nandar.
"Kau terlalu cepat menepis... Begini... aku punya kenalan dia seorang atlet taekwondo kejuaraan Provinsi memiliki pangkat sabuk hitam" jelas Nandar.
"Kau bisa menjamin teman taekwondo mu bisa kita ajak bekerja sama?" Bagong bertanya dengan penasaran
"Hahahaha.... aku anggap pertanyaan mu tanda sepakat.... Namanya Ryan Deva dia adalah teman lama, ambisi dan nafsu bertarungnya amat tinggi dan benci kekalahan, maka dari itu dia menghabiskan harinya berlatih begitu keras untuk menjadi yang terbaik"
"Kedengarannya menarik kita bisa memanfaatkan itu, terus apa rencanamu soal negosiasinya dengan Anton?, bukankah kau tahu tak hanya kulitnya... sikapnya juga begitu alot" kembali Gio kurang yakin dengan rencana itu.
"Kita bisa memulai menawarkan dengan membentuk aliansi yang akan dihuni oleh 5 geng, dimana yang memenangkan duel akan menjadi ketua aliansi... Anton menyukai persatuan bukan?" Nandar tersenyum tipis.
"lalu ketika Ryan deva berhasil mengalahkan Anton dia akan menjadi ketua?" Tanya Gio.
"Kenapa tidak?"
"Kau menarik kami dari sarang ular lalu menaruh kami ke lubang buaya itu sama saja"
Gio menerka rencana Nandar tak menguntungkan mereka.
"Cerdas ... Hahahaha" bahu Nandar naik turun tertawa
"Kenapa kau tertawa kau mempermainkan kami?" Bagong kesal.
"Lagi-lagi kau terlalu terburu-buru, Ryan Deva tak butuh posisi itu, ini hanya modus, setelah Anton dikalahkan kita akan mengatur semuanya" Nandar tersenyum terlihat sedikit menyeramkan.
"Sebenarnya apapun rencanamu, siapapun ketuanya aku tak peduli, yang aku inginkan cuman satu bagaimana kita bisa terlepas dari si Anton brengsek itu, bagaimana denganmu Bagong?"
__ADS_1
"Itu sama saja aku benci penindasan... Hmmm hari-hariku seperti tak punya harga diri lagi karenanya, bahkan banyak orang-orang ku merencanakan keluar dari The Refour karena di anggap tak punya taring lagi".
"Tepatnya kau benci ditindas bukan" Gio meluruskan lalu tertawa
Bagong tersenyum pahit mendengar ejekan gio kepadanya.
"Kita akan mengembalikan fungsi mengapa dan apa tujuan geng itu di ciptakan, kita akan kembali merasakan sensasi dalam pertarungan"
Nandar tertawa tipis begitu jahat ia mengambil handphone dari saku celananya menggerakkan jarinya diatas layar menghubungi Ryan Deva.
Tuuuuut..tuuuuuut...tuuuuuut...
"Halo...."
"Selamat malam saudaraku hhhhh, maaf aku baru menelpon mu sekarang, soal projek yang aku tawarkan kemarin"
"Jadi teman-temanmu sepakat?" Tanya Ryan Deva diseberang telpon.
"Heii kau ini bicara apa sejak awal aku sudah mengatakan ini hanya masalah waktu Dev".
"Bagaimana dengan bayarannya?"
"Baik itu bukan masalah"
Tutttt...tuttttt telepon mati
"Hmmmm... Dia selalu sok keren" Nandar menghela nafas
mereka bertiga akhirnya sampai pada kesepakatan, Nandar mengatur timing yang tepat untuk mengajak Anton melakukan negosiasi membentuk aliansi.
___________________________
Jam sekolah... Anton datang begitu pagi bahkan sebelum pukul 07:00.
Ia bersama dengan Rusdi. Rusdi masih belum mengerti kenapa Anton mengajaknya datang sepagi ini, Anton hanya mengisyaratkan bahwa ia akan mengetahuinya sebentar lagi.
Anton tipikal orang yang tak suka basa-basi dan lebih mementingkan untuk bergerak lebih dulu, dengan dibekali insting yang tajam dan tentunya firasat yang jarang sekali meleset.
Anton masuk ke ruang Kepala Sekolah. Ardianto seorang pria berumur 48 tahun dengan model kepala rambut terbelah, ditengah kepalanya sudah tak di tumbuhi rambut.
__ADS_1
Anton meminta daftar absen berencana meminta daftar absen sekolah untuk diperiksa.
"untuk apa kau memintanya?" pak Ardianto menyipitkan matanya
"ini berhubungan dengan anak STM yang di keroyok kemarin pak" Anto menjelaskan
"owh begitu yahh..... tunggu." pak Ardianto berjalan ke ruangan guru mengambil daftar absen siswa
setelah beberapa saat Pak Ardianto kembali dengan beberapa kertas absen siswa di tangannya lalu memberikannya pada Anton.
Anton dan Rusdi mulai memeriksa per lembar absen sekolah. meski memakan waktu cukup lama, tapi rasa penasaran mendorong mereka.
setelah melakukan pemeriksaan beberapa saat, Rusdi dan Anton melepas absen ke meja, mereka berdua teras lemas setelah melihat catatan kehadiran siswa yang menyentuh angka 50 absen (tidak hadir) di tiap harinya.
"kalau situasinya begini bagaimana kita bisa mencari pelaku pengeroyokan" Rusdi merasa putus asa dengan menghela nafas, di ikuti Anton yang menyenderkan pundaknya pada kursi.
Pak Ardianto sedikit prihatin melihat keadaan mereka berdua, ia melihat absen lalu mencari tahu penyebabnya.
"Jadi begitu yahhh,.... Aku mengerti, kalian bisa melihat daftar merah siswa di ruangan ku setelah itu kalian bisa mencocokkan dengan absen ini"
"Haaaaaaaa...?" Anton dan Rusdi serentak kembali tegap bersemangat
Setelah memeriksa absen dan daftar merah siswa hasilnya ada 26 siswa yang sering Alfa dan belum di daftar merah, beberapa diantaranya hanya Alfa beberapa kali.
Anton kembali memeriksa daftar nama yang Alfa di waktu kemarin dihari pengeroyokan lalu hasilnya ada 8 nama.
Anton kemudian beralih bersama Rusdi ia memutuskan untuk memeriksa ke ruangan para siswa 8 orang tadi mereka menanyakan di tiap kelas soal bagaimana sikap, gerak gerik dan tingkah lalu ke 8 siswa ini.
Setelah memeriksa dari ruangan ke ruangan, mereka berdua masih belum bisa mendapat gambaran siapa pelakunya.
Rusdi mengadu pada Anton yang duduk dibawah bayangan pohon rindang, bagaimana rencana ia selanjutnya.
Anton termenung sebentar dengan keringat di tubuhnya. ia merenung beberapa saat sampai akhirnya membuka matanya kembali lalu tersenyum.
"Aku sudah tahu siapa yang akan kita temui selanjutnya"...
"apa...?" mata Rusdi memancarkan harapan
Rusdi tahu betul jika Anton sudah berada pada mode serius begitu, maka sebentar lagi ia akan menemukan sesuatu yang berharga yang tentunya mengejutkan.
__ADS_1