PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 10 "Pertarungan Penentu"


__ADS_3

Anton muai melakukan pemanasan mulai melenturkan otot-ototnya, sedikit melakukan gerakan memukul angin dengan cekatan matanya memperhatikan Ryan Deva yang juga melakukan hal sama dengannya tapi berbeda dengan Anton, Ryan Deva lebih berfokus pada tendangannya.


Ryan Deva terlihat beberapa kali melakukan beberapa variasi tendangan terakhir ketika ia mengangkat kakinya bergantian lurus keatas menempel di kepalanya.


Anton yang melihat sedikit terpukau tapi sikap itu ia tutupi dengan wajah datar.


Tak lama setelah mereka berdua melakukan pemanasan, seorang pria memakai seragam memasuki ring.


Pria itu bernama Surya, seorang pria yang bertindak sebagai juri pada pertarungan Anton dan Ryan Deva.


"Ok selamat siang namaku Surya, aku bertugas sebagai panitia dalam pertarungan kalian" pak Surya memperkenalkan diri


"Saya pikir kami akan melakukan pertarungan bebas tanpa wasit" Anton mengoceh karena Surya tidak datang lebih cepat.


"Hahahaha... tentu saja pertarungan seperti ini butuh wasit, klw tidak kalian bisa ada yang mati salah satunya".


"Yahhh kau benar juga, aku juga tak ingin bertanggung jawab jika itu terjadi pada dirinya" Anton menunjuk Ryan Deva.


Ryan Deva melihatnya, hanya saja ia tipikal orang yang tidak terlalu senang mengeluarkan suara apa lagi ketika ingin bertarung, sebagai bentuk profesionalitas ia begitu disiplin ketika sedang melakukan persiapan tanding.


"Oke aturannya sederhana, kalian boleh bertarung melakukan apa saja, tapi menendang alat kelamin tidak dibenarkan sisanya terserah kalian, pertandingan akan berakhir ketika salah satu dari kalian terkapar, terlihat tak bisa melanjutkan pertarungan atau di antara kalian ada yang menyerah".


"Aku boleh mematahkan kakinya?" Anton menunjuk Ryan Deva.


"Heiii.. kau banyak tanya juga yahh, sebaiknya kau fokus ke pertandingan bukannya menyerang lawan dengan kata-kata seperti itu".


"Pak Surya, bolehkan kita memulainya lebih cepat?" Ryan bersuara pertama kalinya


"Oh tentu saja"


Pak surya mulai mempersiapkan mengatur posisi berdiri mereka berdua sebelum ia memberi aba-aba tanda pertandingan sudah dimulai.


"Oke kalian siap? Aku berhitung mundur dari 3.....2......1 mulai..". pak surya menggerakkan tangannya kebawah tanda pertandingan dimulai.


Anton mulai mengangkat kedua tinjunya maju beberapa langkah bersiap melepas pukulan, Ryan Deva juga maju beberapa langkah menggerakkan kakinya lebih ke depan, gerakan tubuhnya terlihat lentur dan rapi.


Anton fokus ia begitu hati-hati sembari menunggu kesempatan.


Anton mempelajari Ryan Deva yang terlihat seperti sedang menunggunya melakukan serangan lebih dulu


'dia... kenapa dia tak melakukan serangan lebih dulu? apa dia tipikal orang yang melakukan serangan balik? kalau begini terus aku tak bisa membaca serangannya, ahhhh... sebaiknya aku menyerang ia terlebih dahulu untuk memancing'


Anton mulai bergerak cepat melepaskan pukulan ke wajah Ryan Deva.


PAKKKK!!


Tendangan Ryan Deva ternyata lebih cepat mengenai Anton lalu terjatuh, tendangannya begitu keras


'sial.... kakinya begitu cepat aku tidak bisa menyerangnya tanpa rencana, tapi bagaimana caranya'

__ADS_1


Anton terus bertanya dalam hati


'Ryan Deva benar-benar tak bisa diremehkan'


tapi Anton tak punya rencana untuk sekarang kali ini dia menyerang secara brutal dan Ryan Deva meladeni serangan Anton.


Jual beli serangan terjadi dan Ryan Deva unggul dari segi kecepatan ia beberapa kali melesatkan tendangan keras ke tubuh dan wajah Anton.


Anton juga beberapa kali mengenai Ryan hanya saja tinjunya tak mengenai dengan tepat sehingga tak berakibat fatal bagi Ryan, sebaliknya Anton justru terlihat kesakitan memegangi tubuhnya.


Wajahnya terlihat memar andai saja kekutan fisik Anton tak sekuat itu ia mungkin sudah terkapar sejak tadi.


"Apa kau akan menyerah? sayang sekali aku belum terhibur lohh".


"Kau bercanda, aku baru akan memulainya..." Anton tersenyum setelah mengusap darah dibawah bibirnya.


"Kau...?" Ryan Deva terheran..


Di barisan penonton terjadi kekhawatiran di kubu Rusdi, ia jelas menyimak pertarungan sejak tadi Ryan Deva terlihat lebih unggul, Amir tak kalah khawatirnya ia tak bisa menahan diri ia mendekati Rusdi memastikan sesuatu.


"Rusdi bagaimana menurutmu apa Anton akan kalah?".


"Sekarang aku tak bisa memastikan, tapi yang terlihat Ryan Deva lebih unggul".


"Sial..." Amir mengumpat.


Di kubu Nandar terlihat menikmati pertarungan. Nandar beberapa kali melirik ke arah barisan Rusdi senyumnya terlihat sedang merencanakan sesuatu yang buruk, ia tak henti-hentinya memprovokasi dengan berteriak ke dalam ring


Rusdi dan Amir yang mendengarnya tak bisa berbicara apapun ia hanya mendengar tapi tak menggubrisnya, mereka memilih untuk fokus dengan pertandingan .


Anton mulai berdiri,kepercayaan dirinya tak ciut sama sekali, ia menghela nafas menatap mata Ryan Deva.


"Kau pikir aku menyerang tanpa rencana?... Kau sudah masuk dalam permainanku" Anton tersenyum tipis.


"Kau hanya pandai bicara sekarang majulah akan ku selesaikan ini dengan cepat".


"Ok jangan sesali ini ...".


Anton bergerak maju dengan cepat sekali lagi ia melepaskan pukulan dengan cepat ke wajah Ryan Deva.


"Kau.. Apa kau tak belajar yahh?"


Ryan menendang Anton dengan cepat, tapi Anton bukannya meneruskan pukulan tapi tangannya berbalik menangkap tendangan Ryan Deva..


"Aa..?" mata Ryan melotot.


"Kau pikir aku bodoh?"


Anton memegangi kaki Ryan dan mengangkatnya. Anton membanting Ryan beberapa kali sebelum akhirnya melemparnya, tak sampai disitu Anton kembali berlari melompat ke arah Ryan.

__ADS_1


Ryan melihatnya dan ia melepas tendangan ke arah Anton dengan cepat, Anton mundur beberapa langkah sebelum akhirnya duduk di antara lututnya.


Ryan dengan cepat mengambil posisi berdiri tapi tak menyerang... badannya masih terasa sakit.


"Sial ... Kau?" Ryan mengeram memegangi lengannya yang terbentur.


"Itu belum seberapa.... selanjutnya kau akan melihat yang sebenarnya" Anton masih tersenyum.


Nandar melihat momen dimana Anton membanting Ryan beberapa kali, kali ini ia yang terlihat khawatir ia mulai sedikit merasakan ancaman dari pertarungan...


Rusdi dengan spontan berteriak "Bagus... begitu" setelah ia melihat Anton membanting Ryan seperti bantal guling


barisan mereka berdua tak kalah panas dibanding pertarungan Nandar dan Ryan Deva.


Anton mulai kembali berlari menyerang, Ryan Deva tak punya pilihan ia meladeni serangan Anton.


Ryan mulai melepas tendangan tapi Anton kembali menangkapnya tapi wajah Ryan terlihat menyembunyikan senyum..


"Kali ini kau terjebak..."


Dengan kaki kiri yang dipegang Anton Ryan memanfaatkan itu sebagai pijakan, ia kemudian melepaskan tendangan dari kaki kanannya dengan sangat keras.


Anton tak membacanya sama sekali kaki Ryan mendarat tepat di kepala Anton. Anton terkapar... telinganya berdengung seperti sedang mendengar bunyi klakson tanpa henti.


"Kau pikir aku tak punya rencana lain?" Ryan terlihat puas.


"Kau.......!!! Itu memang sakit tapi jangan remehkan aku... aaaaaarrrrgggghhhh".


Amarah Anton memuncak ia kembali berdiri dan menyerang Ryan.. pertukaran serangan terjadi selama beberapa menit.


Lagi-lagi Ryan unggul dari on target beberapa kali tendangannya mengenai Anton, sebaliknya pukulan Anton hanya mengenai Ryan beberapa kali namun tidak maksimal.


Anton berbaring melintang ia mulai merasa kesakitan di sekujur tubuhnya.


Ryan Deva berdiri diantara lututnya meski unggul dalam pertarungan tapi nafasnya terengah-engah menandakan ia benar-benar kerepotan.


"Akhirnya selesai juga......" Ryan Deva tersenyum mulut terbuka mengontrol nafasnya.


"Kauu memang menghiburku... tapi tetap saja hasil akhir adalah aku pemenangnya" lanjut Ryan Deva.


"Kau... masih saja bercanda meski sedang bertarung" Anton perlahan bangun dari lantai. wajahnya terlihat babak belur tapi nafasnya masih teratur dibanding Ryan.


"Kau.....? " mata Ryan melotot tak percaya.


"Aku sudah bilang.. aku tak mungkin menyerang tanpa rencana" Anton mulai berjalan mendekati Ryan.


"Aku merasa sudah menendang mu sekuat tenaga beberapa kali.." raut wajah Ryan mulai khawatir.


"Kau memang unggul dari segi itu... tapi kau tak sadar selain mempelajari gerakan mu, aku juga memancing mu untuk melakukan serangan terus menerus itu bertujuan untuk menguras tenaga dan stamina mu" Anton memberi faham.

__ADS_1


"Tapi bgmana kau bisa masih berdiri?".


"Sayang sekali kekuatan fisikku jauh melebihi mu.... itu faktanya hitunganku tak meleset" Anton berdiri tepat dihadapan Ryan...


__ADS_2