PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 13 "Pindah sekolah"


__ADS_3

Hari Senin, seperti biasa para siswa sekolah datang lebih awal di banding hari-hari biasa.


Karena hari itu selalu di adakan upacara bendera di semua sekolah.


bisa di bilang upacara adalah kegiatan wajib bagi setiap sekolah, karena dalam kegiatan selalu diperingati hal-hal penting yang pernah terjadi dalam sejarah.


bertujuan untuk menanamkan pengetahuan pada siswa apa nilai dasar dalam bernegara dan sejarah apa yang pernah terjadi sehingga negara bisa berdiri sampai sebesar sekarang.


Anton dan kawan-kawan juga datang lebih awal, meski sebelumnya mereka semua selalu datang terlambat tapi khusus hari ini mereka berangkat lebih awal.


Bukan karena kewajiban melaksanakan upacara melainkan karena alasan lain.


Anton dan kawan-kawan berangkat lebih awal karena Anton ada agenda persiapan dalam sekolah.


Anton bertindak sebagai ketua keamanan dalam kegiatan Pentas seni yang dilaksanakan di SMK NTT.


Kepala sekolah SMK NTT yang bertindak sebagai tuan rumah meminta Nandar untuk membentuk team keamanan dan melibatkan masing-masing perwakilan dari sekolah lain yang juga ikut andil dalam pertunjukkan pentas.


Mau tidak mau Nandar jelas mengajak perwakilan dari STM, dan karena Anton adalah yang paling layak.


Nandar menyerahkan posisi ketua keamanan padanya, lagi pula mereka juga sudah satu aliansi sekarang.


Sebenarnya Nandar keberatan dari lubuk hati yang paling dalam, tapi situasinya tidak memungkinkan Nandar untuk mengambil alih, dengan terpaksa Nandar menyerahkan posisi itu pada Anton.


Pada awal pembicaraan Anton sempat mengira ini adalah siasat Nandar lagi, tapi Anton menyuruh Rusdi untuk menyelidikinya.


dan setelah rapat para tetua aliansi selesai dilakukan Anton kemudian menerima posisi tersebut.


Kepala sekolah SMK NTT juga sempat keberatan terhadap keputusan Nandar, karena sudah seharusnya tuan rumah yang bertindak sebagai ketua keamanan.


tapi Nandar menjelaskan situasinya meski beberapa alasan lain ia sembunyikan, kepala sekolah akhirnya mengerti.


Anton berangkat ke sekolah bersama tiga orang yang lain, Amir yang mengemudi motor membonceng Rusdi, sedangkan Anton di bonceng anggota yang lain.


Amir dan Rusdi berada di depan, untuk sampai ke sekolah mereka biasanya mereka memang mengambil jalur jalan poros, selain jalannya lebih aman juga lebih cepat untuk sampai ke sekolah.


Sayangnya untuk sampai di sekolah harus melewati Polsek lebih dulu, kebetulan hari ini polisi sedang melakukan apel di halaman kantor.


Amir melihatnya tiba-tiba terbersit untuk melakukan sesuatu. Bukannya mengambil kesempatan untuk jalan lebih cepat agar tak di ditilang karena tak memakai helm Amir justru melakukan tindakan yang bisa membuat polisi naik pitam


Amir memencet kopling dan menarik gas beberapa kali.


brummmmmm.....

__ADS_1


brummmmmm....


Suara bising knalpot menganggu kepolisian yang sedang melaksanakan apel pagi.


Komandan Polisi yang sementara berpidato di depan anggotanya pun terganggu, suaranya tak lagi terdengar karena suara knalpot Amir yang begitu keras menutupi pendengaran mereka.


Beberapa anggota spontan berlari keluar mengejar Amir, beberapa yang lain mengambil motor bersiap untuk mengejar, tentu saja karena tindakan itu begitu menyinggung mereka.


Sayangnya sebelum mereka beralih dari tempat Amir sudah lebih dulu menarik gas dan melaju kencang meninggalkan mereka tanpa jejak.


Anton yang berada jauh dibelakang melihat kejadian itu, matanya melebar.


"Sial apa yang si bodoh itu lakukan" Anton menyuruh anggotanya memberhentikan motor.


Beberapa anggota polisi mulai keluar dari kantor dan menahan beberapa pengendara yang tidak dalam keadaan lengkap berkendara.


Satu anggota polisi melihat ke arah Anton yang juga tidak sedang memakai helm, Anton melihat satu anggota polisi sedang melaju ke arahnya.


"Gawat... hei putar balik motormu cepat" Anton beberapa kali memukul-mukul pundak Reza yang kebetulan membonceng dirinya.


Reza mulai membalik motor dengan cepat dan menancap gas, tapi motor tidak melaju dengan cepat Anton terheran kenapa laju motor begitu pelan.


"Hei... tancap gasnya.." Anton panik.


"Aku sudah menarik gas dengan penuh"


"Dasar bodoh... jika kau menancap gas, kau harus mengopernya kembali ke gigi satu agar kecepatannya motor maksimal di awal" Anton benar-benar marah terhadap Reza, bisa-bisanya dia menancap gas motor tanpa mengoper gigi terlebih dahulu.


Reza pun mulai mengoper persneling ke gigi satu.


"Apa yang kau lakukan" Anton kembali membentak.


"Mengoper gigi ke satu"


"Astaga.. seharusnya kau hanya mengoper ke gigi dua karena kita sudah separuh jalan" tapi sebelum Reza melajukan motor dengan benar anggota polisi yang mengejarnya sudah berada di samping dan memberhentikan mereka.


Anton diberi sanksi tilang karena melanggar UU lalu lintas, polisi itu menjelaskan sebenarnya mereka malas melakukan patroli, hanya saja tadi ada siswa yang melakukan perbuatan yang memancing dan membuat mereka marah.


Anton jelas paham karena ia melihat dari kejauhan Amir mengeber-geber gas motornya lalu pergi, Anton tak bisa berbuat banyak ia pasrah karena tak membawa SIM dan STNK motornya pun di sita polisi.


Anton dan Reza melanjutkan perjalanan ke sekolah dengan menaiki angkot.


sepanjang perjalanan Anton mengumpat dalam hati, ia masih begitu kesal terhadap Amir, akibat dari kejahilannya, Anton yang kena batunya

__ADS_1


_____________________________


Sesampainya di sekolah, Anton buru-buru ke markas yang biasa mereka tempati.


Ia langsung menuju ke Amir yang sementara itu sedang tertawa bersama yang lain.


Amir sedang memaparkan betapa kerennya dirinya tadi yang berani men geber-geber motor didepan kantor Polsek.


tapi tawa itu tak berlangsung lama, Anton sudah memegang kerah bajunya.


"Heii si bodoh..." Anton menyeret Amir.


"Apa yang kau lakukan bajuku bisa sobek"


Anton menyeret dan mendorong Amir.


kemudian menjelaskan ke Amir bahwa ia baru saja ditilang akibat dari ulahnya, semua tertawa mendengarnya, Amir pun sebenarnya ingin tertawa tapi ia tahan, karena tak ingin amarah Anton makin besar kepadanya.


Tiba-tiba fokus mereka pada seseorang yang baru saja keluar dari kantor staf sekolah yang lokasinya tidak jauh dari tempat mereka. Rusdi yang melihatnya terlebih dahulu.


Roy baru saja keluar dari kantor dan menuju keluar pintu gerbang dengan membawa kertas berwarna putih di tangannya.


"Bukankah itu Roy, apa yang dia bawa" ujar Rusdi tiba-tiba dan mengalihkan perhatian mereka dari Anton dan Amir.


"Perasaanku tidak enak... kau hampiri dia" Anton menyuruh Rusdi untuk menemui Roy, dan melupakan sejenak perdebatan dengan Amir. Amir mengambil kesempatan untuk terlepas dari Anton dengan mengikuti Rusdi.


"Roy tunggu..." teriak Rusdi


"Roy apa yang kau bawa itu?" Amir bertanya penasaran.


Roy yang mendengarnya pun memberhentikan langkah.


"Ahhh ini ......" Roy terbata, merasa tidak enak dengan keputusan yang sudah diambil.


"Sini biar aku baca " Amir menarik paksa kertas di tangan Roy dan membacanya.


Selang beberapa waktu, muka Amir yang awalnya biasa saja membaca kini berubah menjadi ekspresi keheranan.


"Roy ... kau mau pindah sekolah?" Amir tak percaya.


Rusdi juga sedikit terkejut mendengarnya.


"Owhhh aku tahu jadi ini gara-gara perempuan itu yahh" lanjut Amir

__ADS_1


"Amir bukan begitu..." sanggah Roy


"Roy aku tahu situasinya, tapi tidak harus pindah sekolah juga kan" Rusdi menjelaskan bahwa Roy seharusnya tidak mengambil tindakan seperti itu, apa lagi sejak dulu mereka sudah sering bersama-sama, sangat di sayangkan jika mereka harus berpisah sekarang.


__ADS_2