PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 2 "Tanggung Jawab"


__ADS_3

Anton mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, di ikuti belasan anggota dari belakang, dengan jarak STM ke SMK NTT kisaran 10 km.


Anton telah sampai dan memarkir motornya tepat di depan pintu gerbang SMK NTT, tak lama berselang rusdi dan yang lain juga tiba.


Rusdi sempat merenung, tindakan ini sama saja dengan bunuh diri memasuki sekolah lain dengan niat menyerang.


meski semua anggota yang ikut satu arahan dalam perintah Rusdi, tapi itu tak membuat perasaan Rusdi lebih baik.


Anton membuka pintu gerbang dengan ekspresi santai seperti sedang masuk rumah sendiri sekalipun tak menoleh ke kiri dan kanan.


Tak ada yang tahu apa yang ada di benak pemuda yang terlihat santai tapi susah didekati ini.


Seperti ada aura di sekitarnya yang jadi tembok penghalang untuk dimasuki orang lain.


Anton yang dengan tinggi 173 cm berat 80 kg, body fat di angka 10%. Dengan kuliat sawo matang yang sehat, begitu eksotis.


Bagi seorang siswa, tentunya itu bukanlah bentuk tubuh yang wajar.


Anton memiliki bentuk tubuh seperti itu selain dari gen, iya juga rutin melakukan GYM di salah satu pusat olahraga di Polewali Mandar.


Anton mulai berjalan cepat, ia terlihat telah memiliki visi yang jelas, matanya mengarah pada belakang bangunan tua.


Penjaga pos satpam yang sedang menyantap makanannya di kantin sekolah melihat siswa asing baru saja melewati pintu gerbang.


ia minum dengan segera agar mendorong sisa makanan dalam mulutnya lalu kemudian berlari menuju ke Anton untuk mencegahnya masuk lebih jauh.


Rusdi melihat Anton sedang dikejar oleh pak satpam, ia dan beberapa anggota yang lain dengan cepat menghalau pak satpam


"Pak pak...., tidak masalah, ini hanya pertemuan biasa"


"Pertemuan biasa apa? Kalian memasuki sekolah tanpa permisi, kalian tak tahu aturan"


"Aduh bukan begitu pak, tapi ini emergency, percaya dehh ini tanpa keributan kok"Rusdi membujuk pak satpam


"Kalau dibiarkan kalian bisa kebiasaan"


"Cuman sekali doang pak, lagi pula ini akan benar-benar akan ribut jika bapak memaksa untuk mengejar"


"Kalian mengancam ku? Haaa!!"


"Pak pak, gini dehh mending kita berdua ke kantin saya yang traktir pak, kalau ada keributan nanti saya yang tanggung jawab" bujuk Rusdi.


"Benar kau yang tanggung?"

__ADS_1


Rusdi berhasil membujuk pak satpam, mereka berdua akhirnya ke kantin sekolah, setidaknya pak satpam mendapatkan jaminan keamanan dari Rusdi serta melanjutkan makan tanpa harus membayarnya.


Meski berhasil membujuk, Rusdi masih khawatir pada Anton yang menuju ke belakang sekolah sendirian.


Rusdi kemudian memberi kode perintah ke beberapa anggotanya untuk cepat menyusul Anton.


Rusdi berharap Anton tak melakukan gerakan yang tak perlu yang bisa merugikan dirinya.


Anton sudah berada di depan bangunan berukuran 4x6 m yang sekelilingnya dipenuhi gambar-gambar dan tulisan, ia siap untuk masuk kedalam ada dua siswa dari SMK NTT yang menahannya.


Anton menggeser mereka dengan lengannya memaksanya menepi dengan terpaksa.


mereka hendak melawan tapi kemudian menurunkan niat, feeling mereka mengatakan tindakan itu akan sia-sia karena anton terasa begitu kuat.


Anton langsung masuk kedalam, salah satu siswa yang lain sudah berdiri dihadapannya, ia adalah tangan kanan Nandar, bos kandang serigala.


sandi mencoba menghadang Anton yang tiba-tiba berhenti secara mendadak, mereka saling tatap beberapa saat.


"Apa tujuanmu datang kesini?"sahut Sandi, salah satu siswa yang mencoba menghadang Anton tadi


Anton membuang muka lalu kembali berjalan terburu-buru mencari ketua Geng Kandang Serigala .


Sandi berusaha menahannya dengan tangannya tapi ia kewalahan, tubuh Anton terasa begitu kuat baginya.


Nandar yang sejak tadi mendengar  keributan diluar pun akhirnya meninggalkan tempat duduknya mencoba menghampiri sumber keributan.


Anton dan Nandar berhenti bersamaan, mereka bertemu tepat di antara pintu yang terbuka.


"Kauuuu...., Kena..?"


Anton langsung menyeretnya dengan menarik kerah bajunya, para anggota Geng Kandang Serigala langsung menyerang Anton


"Berhenti-berhenti..!!" Nandar mengangkat telapak tangannya


"Apa maksudmu, ia menyeret mu tapi menyuruh kami berhenti" Sandi kesal melihat sikap ketua


"Sudah-sudah ini urusan saya, kita tak bisa ribut disini, aku sudah berjanji dengan KEPSEK untuk tidak melakukan keributan dalam sekolah"


Anton yang hanya terdiam melihat sandi dan Nandar saling bercakap, ia kembali menyeret Nandar hingga keluar markas kandang serigala.


"Hei hei... kau tak perlu menyeret ku begini bukan"


"Ayo jalan kita bicara setelah sampai di rumah Roy"

__ADS_1


"Apa maksudmu?  Ohhhh kau mengira aku yang melakukan itu?"


"Lalu siapa, kau pikir aku bodoh?"


"Kau tak punya bukti menuduhku begitu"


"Aku tak perlu bukti kan"


"Oke oke.... Tapi setidaknya jangan menyeret ku begini, aku bisa jadi pusat perhatian oleh siswa yang lain"


" aku tidak peduli, ayo jalan.."


"Ok... kalau kau tak peduli soal image ku, tapi kau pedulikan jika para guru dan semua siswa melihat siswa dari sekolah lain menyeret siswa dalam? apa yang akan terjadi?" Nandar tersenyum mengejek.


Anton berhenti sejenak, iya memperhatikan di sekitarnya, ia benar-benar telah diperhatikan oleh para siswa-siswa.


"OHH ok ok saudaraku, sekarang ayo kita jalan beriringan" Anton memasang muka riang sambil merapikan baju Nandar yang dia acak-acak sebelumnya.


Perubahan sikap berubah 100 derajat, Anton tentu tak ingin menarik perhatian orang dalam.


mereka akan menganggap kedatangan Anton ke sekolah mereka sebagai bentuk pemberontakan.


Nandar tahu tapi membiarkannya saja, dengan itu ia tak perlu kehilangan muka sebagai ketua geng kandang serigala.


Nandar mengoceh sepanjang jalan serta menepis tuduhan Anton bahwa dirinya bukan dalang pelakunya pengeroyokan.


Nandar mencoba membujuk Anton dengan mengatakan kalau ia baru saja datang setelah pengeroyokan itu terjadi.


Anton tidak berniat mempercayainya, mungkin saja Nandar telah berusaha mengelabui dirinya.


Anton tetap membawa Nandar dan memintanya menjelaskan semuanya di hadapan Roy.


Rusdi melihat Anton bersama dengan Nandar, ia kemudian beralih meninggalkan kantin menghampiri mereka berdua.


tapi ia di hentikan oleh suara pak satpam yang menagihnya membayar makanan yang mereka berdua santap barusan.


Nandar kembali mencoba membujuk serta menawarkan bantuan menginvestigasi dengan nada tinggi, sebagai gantinya Anton mau melepasnya, tapi reaksi anton malah memukul kepalanya tak peduli.


"Kau berani berkata dengan nada tinggi kepadaku? Oke aku terima tawaranmu untuk ikut menginvestigasi tapi setelah kita bertemu Roy"


"Aaarggghhh.... Kenapa kau selalu langsung menyakiti fisikku, aku bahkan tak mendapatkan keuntungan dari negosiasi ini" keluh Nandar.


Mereka bertiga Anton, Nandar, dan Rusdi bergegas menuju ke rumah Roy.

__ADS_1


__ADS_2