PISAU TUMPUL

PISAU TUMPUL
Chapter 14 "Pindah Sekolah 2"


__ADS_3

Rusdi terus membujuk Roy untuk berpikir sekali lagi untuk tidak pindah sekolah.


apalagi tujuan Roy pindah adalah ke sekolah tempat Nandar berkuasa, seperti yang ia ketahui Nandar bersama geng kandang serigala selalu mengusik mereka.


Rusdi khawatir jika Roy pindah ke SMK NTT Roy akan menjadi bahan bullyan dan bulan-bulanan para anggota Kandang serigala.


Amir juga tak kalah, ia begitu cerewet tak hanya membujuk Amir juga mengungkit-ungkit masa lalu.


Amir berharap Roy Kembali mengingat semua apa sudah mereka lalui, hanya karena wanita yang baru ia kenal Roy rela mengorbankan dan memutus hubungan yang sudah terjalin begitu lama.


"Roy..... kau tak ingat, Anton pernah membelamu disaat kau di keroyok sandi?" Amir membujuk Roy.


"Amir.. aku tentu tak lupa semua itu, aku hanya pindah sekolah, kita masih bisa bersama-sama kan setelah pulang sekolah" Roy mencoba memberi pengertian.


"Itu bullshit...... beberapa Minggu ini kau bahkan begitu jarang nongkrong dengan kami" Amir meluapkan kekesalannya.


"Aku bahkan tak mengingat kapan terakhir kali kita nongkrong bersama" lanjut Amir kesal.


"Terserah.... kau mau bilang apa, tekat ku sudah bulat untuk pindah" Roy menegaskan sedikit merasa tersinggung.


"Cihhh.. dasar kau ini......" Amir tak bisa lagi menahan kekesalannya, Amir melepaskan tinju ke wajah Roy tapi Rusdi menahannya.


"Lepaskan...." bentak Amir.


"Amir... kau selalu saja melakukan hal bodoh" Rusdi menyadarkan.


Amir bukan hanya kesal untuk hari ini ketika mengetahui Roy akan pindah sekolah, tetapi kekesalannya sudah ia pendam sejak lama.


Roy sudah sejak lama terlihat mengabaikan teman-temannya yang membuat Amir begitu kesal, Roy melakukan itu semua hanya karena seorang wanita, Amir benar-benar tidak habis pikir a apa yang ada dalam pikiran Roy.


"Asal kau tahu brengsek...!! aku juga punya pacar... tapi aku bukan budak cinta seperti dirimu... kau seperti bukan laki-laki saja, kau terlalu tunduk pada seorang wanita" Amir membentak dengan teriakan, wajahnya berkeringat begitu serius.


Roy yang mendengarnya merasa tersinggung dan kesal, amarah juga ikut meluap.

__ADS_1


"Tahu apa kau tentang diriku haaaa....!!!" Roy melangkah mendekati Amir ingin memegang kerah bajunya, Rusdi yang bersama mereka langsung melerai.


"Hentikan kalian berdua..." Rusdi menyadarkan dengan tindakan memisahkan.


"Heii.... apa-apaan kalian ini, kalian seperti anak kecil saja, berkelahi di tengah keramaian, kalian akan jadi pusat perhatian jika bertengkar sesama saudara sendiri, itu memalukan tahu" Anton berbicara sambil berjalan mendekati mereka bertiga dan kemudian memegang pundak Roy, mereka bertiga hanya diam.


Amir tak ingin bersuara lagi urusannya dengan Anton tadi belum benar-benar selesai, Amir tahu jika Anton berbicara sesantai itu artinya Anton sedang menahan sesuatu yang besar.


Amir tentu tak ingin hanya karena ia masih melanjutkan omongannya kepalanya kemudian meledak seketika karena pukulan Anton.


"Memangnya kenapa kalau Roy ingin pindah sekolah... kalian ini tak berpikir panjang, kita masih bisa bersama dengan Roy kan' meski tak satu sekolah lagi... benar kan Roy?" Anton menatap Roy tersenyum.


"Bos ...!!" mata Roy melebar ia tersentuh dengan sikap Anton


"Sudah lah.... silakan pergi, kita bertemu lain kali... disini upacara sudah akan dimulai, kami tidak ingin terlambat cuman karena masalah sepele mu" Anton menyarankan Roy untuk beranjak, Roy mengangguk mengerti lalu menetap mereka bergantian sekali lagi sebelum akhirnya pergi.


Anton juga tak lupa memberi pengertian pada Rusdi dan Amir, lagi pula Nandar sudah resmi menjadi bawahan mereka dalam satu aliansi ia tak mungkin lagi macam-macam karena sudah jatuh beberapa kali.


"Sekarang kalian bersiap-siap untuk upacara" arahan Anton sambil berjalan meninggalkan halaman sekolah.


"Kau sendiri kemana?" tanya Rusdi


"Akhir-akhir ini kakiku sering kram... tak tahan jika harus berdiri dalam waktu lama... kalian upacara saja aku ingin mengistirahatkan kaki ku dulu" Anton berjalan meninggalkan sekolah dan mencari tempat aman dan beristirahat, tak ada yang berpikir jika Anton sebenarnya sedang menenangkan diri.


Rusdi dan Amir mengumpat dalam hati.....


'dia... tak pernah bisa jadi contoh yang baik..hmm dasar' kata Rusdi dan amir dalam hati.


_______________________________


Ketika upacara selesai dilaksanakan, Anton menuju ke ruang kepala sekolah untuk membicarakan rencana keamanan dalam pentas seni bulan depan.


"Jadi kau yang bertindak sebagi ketua keamanan yahh" terang Ardianto Kepsek STM.

__ADS_1


"Apa ada masalah?"


"Tidak.... hanya saja itu jarang terjadi, biasanya yang bertindak sebagai ketua keamanan yah tuan rumah... tapi ini malah dari sekolah lain" Kepsek mengangkat kedua bahunya dan merapatkan bibir.


"Owh kalau itu sih..... menurut penjelasan dari bagian keamanan SMK NTT, tahun ini mereka butuh ketua yang lebih tampan agar acaranya lebih menarik" Anton berbasa basi.


Pak Ardianto yang mendengarnya tersedak ludah sendiri


"Kau ini.... suka sekali membuat lelucon hmmm.." menghela nafas.


"Aku tak meminta bapak percaya... tapi buktinya mereka memilihku" Anton menaikkan alis mengangguk pelan.


"Yahhh... biar bagaimanapun itu bisa dibilang prestasi... sekolah kita patut bangga padamu"


Mereka berbincang cukup lama, membahas apa-apa saja yang akan Anton siapkan, Anton meminta saran dari pak Ardianto.


kring..!!!


kring .!!!


Bel sekolah berbunyi, mereka menyudahi pertemuan, Anton beranjak dan menuju ruang kelas.


Ardianto masih mengawasi mengintip Anton dari belakang belakang pintu


'cihh.. aku tak yakin ia akan ke kelas, paling belok ke kantin lagi'


Ardianto terus mengawasi beberapa detik sampai akhirnya matanya melebar karena terkejut tak percaya, Anton benar-benar memasuki kelas 'apa...!! dia benar benar masuk kelas yahh'


Anton berhenti dibawah pintu dan mengangkat jempol yang sebenarnya ia tujukan pada pak Ardianto meski tak membalik badannya


Pak Ardianto tersentak kaget 'aaaaaa..... jadi dia tahu kalau aku mengawasinya, haaaa dasar' pak Ardianto kembali ke ketempat duduk


Lepas itu Anton berbalik dan tak melihat pak Ardianto, Anton kembali dan keluar meninggalkan ruang kelas dan menuju ke kantin belakang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2