
Dengan surat pindah yang ia pegang, Roy menuju SMK NTT untuk mendaftarkan diri sebagai siswa pindahan.
Dalam benak Roy, ia hanya ingin cepat-cepat memberitahukan kejutan yang menyenangkan ini pada Lina, ia seakan lupa kalau ia baru saja bersitegang dengan Amir.
Setelah sampai di SMK NTT, Roy lebih dulu berjalan menuju kantor Kepala Sekolah untuk mengajukan pendaftaran dirinya sebagai siswa pindahan.
Sebelumnya Roy sudah menghubungi salah satu staf sekolah untuk membantunya mendaftar, sehingga proses pendaftarannya tidak mengalami kendala.
Roy memasuki kantor dan mendapati pria berambut putih duduk di atas meja dengan pakaian seragam PNS. Pak Hamdar menyambutnya mempersilahkan dirinya masuk.
"Silahkan duduk..." Pak Hamdar dengan ramah.
"Iya pak.. terima kasih" Roy duduk dihadapan Pak Hamdar, meja menengahi mereka berdua.
"Ada yang bisa saya bantu...?".
"iya pak..... perkenalkan nama saya Roy pindahan dari STM" Roy memperkenalkan dirinya.
"Jadi kau orangnya yahh.... hahahaha staf ku sudah memberitahukan kepindahan mu" tawa pak Kepsek, entah apa yang lucu.
"Begitu yahh.....hmmmm" Roy tersenyum.
"Ya sudah...... kau diterima setelah membayar semua biaya yang di tetapkan sekolah".
"Baik pak.." Roy mengiyakan.
Pak Hamdar menyodorkan beberapa lembar kertas berisi persyaratan dan pembayaran yang harus Roy penuhi agar bisa diterima di sekolah SMK NTT.
Roy membacanya, ia tak terkejut dengan total nilai yang ia harus bayar, karena staf yang ia koordinasikan sudah memberi tahunya lebih dulu.
Yang menjadi masalahnya adalah karena seragam sekolah STM dan SMK NTT itu berbeda, Roy harus menunggu beberapa hari atau bahkan seminggu agar baju seragam sekolah baru selesai dibuat karena baru akan di pesan.
Sama dengan sekolah sebelumnya, Roy juga masuk ke jurusan teknik automotif, kebetulan di SMK NTT dan STM memiliki beberapa jurusan yang sama.
______________________________
Setelah urusan di kantor semuanya selesai, Roy buru-buru beranjak keluar dan mencari Lina, ia sudah tak sabar memberi kejutan ini pada Lina.
Di tengah perjalan Roy tak sengaja bertemu siswi yang tak lain adalah sahabat dan teman kelas Lina. Roy berjalan menghampiri Mila.
"Mil.... " Roy melambaikan tangan
"Roy .... kenapa kau ada disini?" Mila terheran karena sekolah melarang siswa luar masuk ke halaman sekolah.
"Pasti kau terkejut kenapa aku bisa masuk..." Roy sedikit tertawa.
"Hmmmm..... kau?" Mila menyipitkan matanya.
__ADS_1
"Yahh... aku baru saja dari kantor kepala sekolah mengajukan pendaftaran sebagai siswa baru disini" Roy terlihat bahagia.
"Kau pindah sekolah...." Mila menunjuk Roy terkejut.
"Kenapa kau terkejut... aku mengikuti saran mu lohh untuk terus bisa berada di samping Lina"
"Wah-wah aku tak menyangka kau benar melakukan itu demi Lina.. owh iya apa Lina sudah mengetahui kepindahan mu?".
"Aku belum memberitahunya mil" ucap Roy malu-malu.
"Jadi kau berencana memberikan Lina kejutan yahh?" Mila memiringkan wajahnya dan menebak dengan benar maksud Roy.
"Tentu saja hehehehe.... owh iya Mil aku mau menemui Lina, kau bisa membantuku?" tanya Roy.
"Raut wajahmu terlihat bahagia hari ini..... tentu saja kebetulan aku juga ingin ke ruang kelas"
"Benarkah....." Roy tersenyum.
Mereka berjalan menuju ruang kelas menemui Lina yang tak jauh dari tempat mereka berdiri sekarang. Mila masuk ruang kelas lebih dulu, Roy memutuskan menunggu Lina di luar.
Sementara di dalam ruang kelas Lina sedang mengobrol dengan teman sekelasnya, kehadiran Mila sedikit mengejutkan karena memegang pundak Lina dari belakang.
"Lina.... sini..." Mila menarik lengan Lina.
"Apaan sih mil.... tanganku sakit" Lina mengeluh karena tiba-tiba ditarik oleh Mila tanpa penjelasan lebih dulu.
"Apa itu?" Lina penasaran
"Seseorang menunggumu diluar, ayo ikuti aku" Mila kembali berjalan keluar menarik tangan Lina.
Lina hanya mengikuti perkataan Mila dan berjalan mengikutinya keluar dari ruang kelas. Di depan sudah ada seseorang yang menyambutnya, Lina terkejut melihat kehadiran Roy. Lebih tepatnya di jam sekolah, siswa luar seharusnya tidak boleh masuk ke halaman sekolah.
"Kau......." Lina terheran
"Kenapa terkejut begitu Lin.."
Roy berjalan mendekati Lina
"Kenapa kau bisa disini?" tanya Lina penasaran tanpa menyembunyikan keheranannya.
"Aduh Lina.... kau polos banget sih, sudah jelas-jelas Roy disini itu artinya dia sudah menjadi teman sekolah kita" Mila menutup rasa penasaran Lina.
"Roy itu benar...?" Lina sulit percaya.
"Yahh tentu saja..." Roy tersenyum mengangkat tangan dan bahunya..
"Lina kau tak terlihat senang... ada apa?" Mila bertanya ekspresi Lina tak seharusnya.
__ADS_1
"Bukan begitu mil ... hanya saja ini begitu mendadak" jawab Lina.
"Owh begitu yahhh" Mila memonyongkan bibirnya mengangguk pelan.
Roy juga memperhatikan ekspresi raut wajah Lina, tentu saja respon Lina tak sesuai harapan Roy yang berharap lebih dari itu.
Mila juga merasakan hal yang sama, suasana tidak berjalan sesuai rencana mereka, itu merusak mod mereka berdua.
"Kau tidak senang aku pindah.. yah?" Roy kembali memastikan dengan senyuman.
"Aku senang Roy.... aku cuman tidak tahu bagai mana harus menyikapi ini".
"Mengetahui kamu senang... aku sudah bahagia Lina.. hehehehe" Roy menyembunyikan kekecewaannya dengan tawa kecil.
Mereka bertiga berbincang-bincang, Roy kembali menjelaskan alasan ia pindah dan menceritakan proses pendaftarannya. meski Roy belum resmi masuk hari ini tapi Roy tetap memilih untuk berada dalam sekolah menemani Lina. Kebahagian Roy jelas hanya bersama Lina untuk saat ini.
Di tengah perbincangan, salah seorang guru menghampiri mereka, dia tak lain adalah pak Bayu yang pernah meminta no HP Lina di Mila. Pak Bayu adalah seorang guru muda yang berumur 23 tahun, dan memilik postur tubuh yang gagah. Dia mengajar mata pelajaran kesenian di SMK NTT.
"Hai..... bapak ganggu yahh?" pak Bayu menyapa dengan riang.
"Pak Bayu...." Lina Mila serentak
Roy Merasakan ketidak nyamanan kehadiran pak Bayu, ia mulai memerhatikan pak Bayu, penampilannya lumayan rapih dengan model rambut tersisir ke kiri.
Yang membuat Roy tak nyaman, semenjak kedatangan pak Bayu, ia pandangan pak Bayu terfokus pada lina hanya sesekali melirik Mila.
"Owh iya Lina.... bagaimana persiapan mu untuk pentas nanti". tanya pak Bayu memulai obrolan.
"masih banyak yang harus di perbaiki pak" jawab Lina seadanya.
"Owh iya.... nanti setelah jam istirahat bapak kita kembali bertemu di aula yah..."
"Iya pak..... masih banyak yang harus saya pelajari dari bapak, terutama di bagian reff lagunya"
"tentu saja... itu memang bagian tersulit, tapi itu ada tekniknya lohh" ucap pak Bayu dengan ramah.
"Benarkah...." mata Lina melebar merasa senang.
Roy merasa obrolan mereka berdua seakan melupakan kehadirannya, ditambah cara Lina merespon pak Bayu seakan mereka berdua sudah begitu akrab. Hati Roy sedikit sakit, ia kembali mengingat kapan Lina mengobrol dengan terbuka seperti itu dengannya
Mila juga merasakan hal yang sama, Mila melirik Roy dan mendapatinya dalam keadaan sedikit gelisah, ia terlihat sedang menahan sesuatu.
"Bapak pergi dulu yahh...." pak Bayu menatap mereka bergantian lalu pergi.
"Iya pak... jangan lupa ya nanti ajari Lina" Lina mengingatkan di tambah senyuman manis.
"Yahhh tentu saja..." pak Bayu menjawab kemudian pergi meninggalkan mereka sambil melambaikan tangan.
__ADS_1
Melihat itu, Roy merasa terpukul, ia beberapa kali mengedipkan matanya, entah mengapa air mata seakan ingin keluar dari matanya. Ia hanya bisa berharap semoga apa yang ada di pikirannya itu hanya karena kekhawatirannya yang berlebih.