
Anton berbaring ditempat tidur ia benar-benar memikirkan apa yang baru saja Amir sampaikan.
'Apa yang Nandar rencanakan, aku tak percaya jika ini tak ada sangkut paut dari siasat licik Nandar tapi Gio dan Bagong juga terlibat, dan siapa satu orang lagi yang ingin bertarung melawanku? Aliansi yahh? Hmm kedengarannya tidak buruk, tapi tetap saja ini terasa janggal mungkin besok aku akan tahu'.
Anton menghabiskan sisa malam di tempat tidur bukan untuk menikmati alam mimpi melainkan terganggu akan kegelisahannya tentang teka-teki dibalik rencana pembentukan aliansi.
__________________
"Kau yakin ini tempatnya?" Rusdi bertanya.
"Tentu saja kau pikir aku pelupa?" Amir menjawab dengan geraman.
"Kita sudah duduk disini selama 15 menit, kau tahukan Anton tak suka menunggu? Dia tipikal orang yang suka buru-buru".
"Kau membicarakan ku Rusdi? tak sopan" Anton yang sejak tadi diam dengan dagu bersandar di kedua tangannya.
Tak berselang lama, 4 orang terlihat memasuki ruangan Nandar dengan wajah terlihat ceria, Gio dengan wajah biasa datar, dan Bagong sedikit memperhatikan situasi, terakhir ada Ryan Deva yang berjalan paling akhir yang memakai jaket tebal ia terlihat begitu menonjol di antara mereka berempat.
Badannya tegap dan terlihat kuat, Anton meliriknya meski tak memandangnya langsung tapi jelas Anton tahu jika hanya dia orang yang baru dia temui tentunya dia adalah yang akan menantangnya dalam perebutan ketua aliansi.
"Haiii Anton..... wajahmu terlihat pucat hari ini" Nandar menegur Anton dengan wajah ceria tanpa tekanan.
"Nandar raut wajahmu terlihat aneh kau seperti telah merencanakan sesuatu" Rusdi curiga terhadap Nandar.
"Rusdi.. justru kau terlihat paling khawatir disini, yahh itu wajar karena sebentar lagi bos kalian akan menjadi bawahan" Nandar tertawa..
"Heii .. kepala bohlam lampu. . bekas pukulan di wajahmu saja masi eksis, tapi mulutmu sudah begitu berani" Amir mulai kesal dengan sikap Nandar yang awalnya mengira ini hanya pembentukan aliansi biasa tetapi setelah melihat sikap Nandar, Amir mulai memahami situasi.
"Sebaiknya bocah ingusan seperti mu diam saja" Nandar terpancing emosi karena Amir menyinggung soal kepalanya baginya itu sensitif.
mereka berdua hampir saja saling beradu tinju untung saja Gio dengan cekatan melerai mereka berdua.
"Nandar sudahlah... ini pembentukan aliansi tapi mulutmu memancing pertikaian, kita semua tak akan bersatu jika kau tak merubah gaya bicaramu" Gio menyadarkan Nandar yang kelewat batas.
"Baiklah-baiklah... aku akui aku terbawa suasana, aku minta maaf" Nandar menurunkan nada suaranya tapi masih dengan wajah mengejek.
"Nandar, jadi dia orangnya?" Anton bertanya dengan wajah datar memperhatikan Ryan Deva yang duduk di samping Nandar.
"Wahhh.. kau tak sabaran yah..yah kau benar sekali tapi kalian tidak akan bertarung sekarang".
"Kapan rencanamu?" tegas Anton.
__ADS_1
"Hari Minggu nanti di GOR l, aku sudah berbicara dengan panitia disana untuk mengosongkan tempat tersebut" Nandar menyampaikan dengan kalimat tanpa hambatan.
"Hmmm wajahmu tak mengenakkan hari ini, aku tahu kau merencanakan sesuatu" Anton tersenyum.
"Hei .. wajah apa itu.. hahahaha kau takut yahh, kau menuduhku merencanakan sesuatu, padahal ini dibuat untuk kebaikan aliansi bukankah memiliki ketua terkuat itu baik untuk aliansi?" Nandar menatap Anton tersenyum seram.
"Sebenarnya aku juga tak peduli apa rencanamu, lagi pula aku respect terhadap rencana ini, dan kau.. (Ryan Deva) apapun yang Nandar tawarkan padamu itu akan sia-sia" Anton menunjuk Ryan Deva lalu berdiri meninggalkan tempat pertemuan tanpa basa-basi lagi ..
"Heii heii.. kau baper yah... kami baru saja tiba kau main pergi saja" Nandar berteriak kesal sampai Rusdi menghampirinya sebelum menyusul Anton.
"Setelah kemenangan Anton besok, aku akan merobek mulutmu liat saja" Rusdi mengancam Nandar.
"Kau ... sial!!.. " Nandar kesal, tapi tidak bisa membalas ancaman Rusdi.
Ryan Deva tak berbicara sepanjang pertemuan dalam benaknya hanya ada Anton, ini kali pertama ia melihat anak SMK dengan tubuh sebesar dan sekuat itu
meski Ryan Deva unggul dari segi umur yang sudah menginjak 20 tahun, tapi setelah melihat Anton ia merasa umur tak ada hubungannya dalam pertandingan kali ini.
Ryan Deva tak kehilangan kepercayaan diri lagi pula ia adalah pemilik tendangan terkuat pada pertandingan resmi yang baru saja ia menangi di kejuaraan provinsi.
Anton dan anggotanya menuju markas, mereka melakukan sebuah analisis singkat tentang rencana Nandar membentuk aliansi.
Meski Nandar sudah menghubungi Anton dengan menyampaikan ketidak terlibatannya dalam kasus ini dan akhirnya mengeluarkan Sandi dari geng Kandang Serigala, tapi tentu saja Anton dan Rusdi tak berpikir kalau Nandar akan melupakannya begitu saja.
terbukti hari ini Nandar menantang Anton. Yang menjadi pertanyaan bagi Anton dan Rusdi adalah Gio dan Bagong ikut terlibat dalam rencana Nandar.
Padahal mereka berdua selama ini tak pernah sama sekali melakukan perbuatan yang bisa menyinggung Anton dan kawan-kawan.
"Menurutmu apa yang direncanakan Nandar?" Anton bertanya pada Rusdi.
"Aku tak tahu pasti tapi aku memperhatikan orang yang akan menjadi lawan tanding mu".
"Kenapa dengannya?"tanya Anton.
"Dia terlihat seperti bukan siswa sekolah saja, dia tentu lebih tua dari kita".
"Aku juga sepemikiran denganmu".
"Dengan kata lain, dia bukanlah anggota geng dari sekolah, melainkan seorang anggota geng luar itu pendapatku" terang Rusdi
"Kau tak melihat style berpakaiannya yahh?" Anton bertanya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Rusdi Amir serentak penasaran.
"Aku sering melihat style seperti itu di pertandingan-pertandingan bela diri, aku curiga dia adalah seorang ahli bela diri".
"Kalau begitu ini gawat" Amir sedikit panik.
"Tidak juga, aku justru merasa semakin bersemangat ini akan menjadi sejarah bagi perjalanan hidupku ketika bisa mengalahkan orang seperti dia" Anton menghapus keraguan Amir.
"Kau benar, lalu apa rencanamu?" Rusdi ingin tahu lebih jauh.
"Kita lihat saja besok" singkat Anton.
Mereka bertiga berbincang selama berjam-jam selain mempersiapkan semua apa yang akan mereka lakukan besok ketika pertandingan sudah dimulai.
Anton juga memberi beberapa arahan soal kemungkinan terjadi perang antar mereka meski ini hanya sekedar asumsi tapi potensi terjadinya juga besar.
___________________
Keesokan harinya di gedung GOR mereka semua akhirnya bertemu di dalam gedung.
Anton dan Ryan Deva memasuki ring lebih cepat, mereka mulai melakukan pemanasan dan mencoba untuk bersahabat dengan kondisi ini bertujuan untuk menghapus rasa gugup dari dalam dirinya agar bisa bertarung dengan maksimal.
Rusdi dan kawan berada di luar ring dan mulai megambil barisan untuk melihat pertarungan yang akan dilakukan sebentar lagi.
Gio dan Bagong terlihat menyatukan barisan anggota mereka. Gio tak ingin terlihat memihak dalam pertandingan ini, karena jika salah mengambil tindakan ini tak akan baik untuk dirinya dan orang-orangnya .
"Kalian sebaiknya siap, karena setelah Anton terkapar maka selanjutnya giliran kalian " Nandar tersenyum Rusdi yang mendengarnya terkejut dan memandangi Nandar.
"Jadi itu tujuanmu yahh... kita lihat saja nanti, aku pastikan kata-kata itu akan berbalik padamu" Rusdi merapatkan giginya.
"Kalian terlalu percaya diri" Nandar tertawa kecil.
"Kaulah yang tak tahu diri" Amir mulai kesal dengan sikap nandar yang semakin menjadi-jadi.
Situasi sempat memanas diantara keduanya sampai Amir yang mendengar Nandar begitu merendahkan mereka tak lagi bisa menahan diri.
Ia mulai melompat ke arah Nandar dan hendak memukulnya tapi karena banyaknya orang di dalam ruangan mereka akhirnya menyerah dan berhenti bertikai.
Satu hal yang Rusdi akhirnya pikirkan jika Anton benar-benar kalah dalam pertarungan, berarti apa yang dikatakan Nandar akan sangat buruk bagi mereka karena Gio dan Bagong pastinya juga memihak mereka, sedangkan Rusdi hanya mengandalkan orang-orangnya.
Rusdi mulai memikirkan apa yang Anton katakan kemarin.
__ADS_1