
Jam istirahat
Aku dan Bella menghabiskan sisa waktu istirahat di taman belakang. Soal perut sudah kami atasi dari tadi.
"Kok bisa sih? lo pakai pelet apa?" Ternyata Bella masih tidak percaya.
"Enak aja pakai pelet, Daylon nerima sendiri tuh," Aku menjulurkan lidah.
"Seneng ya lo?" Ucap Bella.
"Iya dong seneng," Kataku bahagia. Bella menanggapi dengan gelengan kepala.
"Eh, by the way kemarin malem lo chat gue kenapa? sorry gue nggak sempet bales," Tanya Bella kepadaku.
"Ohh itu, aku mau nanya. Daylon sama Braylon tuh ada hubungan apa sih?" Kataku.
"Hubungan apa maksud lo?" Ucap Bella santai.
"Ya, kayak saudara atau keponakan gitu?" Aku menatap Bella.
"Setahu gue mereka cuman sebatas teman sekolah dan mereka pun nggak pernah kelihatan akur," Balas Bella ringan.
"Benar?" Aku memastikan lagi.
"Iya Pluvia Adney. Lagipula banyak kok yang namanya mirip bahkan sama tapi nggak ada hubungan darah," Jelas Bella sedikit menekan. Aku diam.
Bella meluruskan kaki dan memandang langit "Udah nggak usah dipikirin."
"Iya," Ucapku singkat. Bener sih kata Bella. Tapi disisi lain ada yang mengganjal di hati aku. Dan aku tidak tahu itu perasaan apa.
__ADS_1
Dari kejauhan terlihat Ray berjalan menghampiri kami dengan membawa 2 buah minuman kaleng. Dia melambaikan tangan dan tersenyum.
"Nih buat kalian," Ray menyodorkan minuman itu kepada kami.
"Tumben Ray," Bella menerimanya. Aku mengucapkan terima kasih.
"Nggak masalah kan?" Ray tersenyum dan memperlihatkan lesung pipi nya.
"No problem, thanks," Bella meminumnya.
"Boleh duduk?" Ray menunjuk di kursi depan kita yang kosong. Aku mengangguk.
"Nanti pulang sekolah lo senggang nggak? Tanya Ray kepadaku.
"Iya," Jawabku singkat. Bella melirik Ray dan tersenyum.
"Mau temenin gue nyari gitar nggak?" Tanya Ray.
"Oke, nanti gue tunggu di gerbang," Ucap Ray. "Kalau gitu gue mau ke perpus dulu," Ray pergi ke arah perpustakaan.
Bella memandangi punggung Ray yang menjauh "Udah baik cakep lagi," Ucap Bella sambil melirik ku. Aku tak menggubris.
"Apaan sih bel, aku nggak suka loh" Aku protes ke Bella.
"Gapapa kali, Jarang jarang loh jalan berdua sama Ray. Beruntung deh lo," Kata Bella ringan.
"Tapi..." Aku hendak protes lagi, namun Bella memotong ku.
"Ayo ke kelas, udah masuk tuh," Bella menarik tanganku dan aku mengikuti dengan lesu.
__ADS_1
***
Pelajaran hari ini selesai, Aku dan Bella berjalan di koridor kelas.
"Kamu aja ya Bell yang pergi sama Ray," Aku memohon.
"Kan lo yang di ajak, lagian aku juga mau ngedate sama Gibran," Bella merapikan rambutnya. Aku cemberut.
Ternyata benar, Ray sudah menunggu dengan Motor Ninja nya. Dia melihatku dan melambaikan tangan. Aku dan Bella menghampiri nya.
"Yuk," Ray mengajakku. Aku ragu dan melirik Bella.
Bella mengalihkan pandangan dan berkata "Gibran udah nunggu di depan cafe, gue duluan ya. Ray titip Via ya, dijagain jangan sampe ilang," Bella mengedipkan mata dan pergi begitu saja. Ray membalas dengan tangan hormat.
"Nih helm nya," Ray memberiku helm.
"Tapi Ray, aku..." Belum sempat mengakhiri kalimatku, suara klakson mobil memutusnya. Ternyata Kak Sad yang berhenti di depan kami.
"Ayo Via," Kak Sad menyuruhku masuk.
Ray menoleh ke arah ku "Siapa? supir lo ya?"
"Iya, a..aku udah di jemput," Aku berkata dengan terbata bata.
Tiba tiba Ray mendekati jendela mobil "Kak, nanti saya yang anter Via pulang, sekarang kita mau pergi dulu. Kakak duluan aja," Ray berkata sopan.
Kak Sad melihatku dan aku diam saja "Baik, jagain Via ya," Kak Sad akhirnya memutuskan pergi.
"Masalah belum bilang kalo lo mau pergi sama gue selesai kan?" Ray tersenyum dan membenarkan rambut di telingaku. Aku tidak nyaman.
__ADS_1
Ray hendak memakaikan helm ke kepalaku. Tapi ada tangan yang menggandeng ku dengan erat. Aku mendongak ke atas, dan ternyata Daylon.
"Dia udah ada janji duluan sama gue," Kata Daylon dingin.