
"Via capek, mau istirahat pa," Aku beralasan.
"Baiklah, selamat tidur," Papa pergi sambil menghela nafas pelan.
Aku pergi ke balkon kamar, menghirup udara malam. Aku tidak setuju papa menikah lagi, mengapa?
Walaupun dari lahir aku tidak pernah merasakan kasih sayang mama tapi, mama adalah malaikat pertama dan terakhir ku.
Juga karena aku takut, jika Lorenza bersikap buruk kepadaku. Aku takut menyalahartikan rasa kasih sayang itu.
Apa aku egois? apa aku tidak melihat dari sudut pandang papa? benar, selama ini papa pasti kesepian. Aku pun juga begitu, sepi setiap saat.
tapi tetap saja aku menolak dan keputusan ku ini tidak akan berubah.
"Via," Samar samar aku mendengar suara memanggil ku.
Aku melihat ke bawah, ternyata Kak Sad sedang berdiri melihatku.
"Kak Sad ngapain di situ?" Aku berteriak.
Kak Sad tidak menjawab, malah menunjuk ke atas. Aku refleks mendongak. Ah, ternyata malam ini langit menunjukan banyak bintang ya. Aku tersenyum. Memandanginya dengan kagum.
"Terimakasih Kak Sad," Guman ku. Saat aku melihat ke bawah, Kak Sad sudah pergi. Sebaiknya aku istirahat sekarang.
***
__ADS_1
08.00
Saat aku menuruni tangga, Papa sudah rapi. Tapi papa mengenakan pakaian casual, bukan setelan jas.
"Hari ini papa libur? masih Hari Sabtu kan?" Aku bertanya.
wajah papa tampak kebingungan " Papa ambil cuti hari ini."
"Kenapa cuti?" Aku mendekati Papa.
"Via lupa? hari ini kita jalan jalan sama Lorenza. Ayo Via buruan mandi," Papa mengelus rambutku dan pergi ke ruang makan.
Oh, benar. Aku lupa. Tapi hari ini aku mau ke rumah Daylon. Bagaiman ini?
"Floating Market, Lembang. Mungkin sampai nanti malam," Kata papa lalu duduk di kursi makan.
Aku tertunduk lesu, aku tidak usah ikut saja. Aku juga tidak tertarik dengan Lorenza. Benar, untuk apa aku mengenal Lorenza? jalan jalan ini kan hanya sekedar formalitas.
"Via tidak ikut Pa," Aku berkata pelan.
Papa menoleh "Apa Via?"
"Via tidak ikut," kataku sedikit lebih keras.
Papa meletakan sendok nya dan menatapku
__ADS_1
" Via, Lorenza ingin mengenalmu," Ucap Papa lembut.
"Via tidak ingin mengenal Lorenza," Aku menatap papa serius.
Papa terkejut " Via tidak mau?" Tanya Papa.
"Iya, Via tidak mau," Aku bersiap melangkah pergi ke kamar.
"Beri Lorenza kesempatan Via!" Tak ku sangka Papa berteriak. Aku menoleh ke belakang dan Papa sudah berdiri dari kursinya.
"Biar Lorenza mengenalmu, jika ada Lorenza kamu punya teman untuk bercerita," Papa mendekatiku dengan wajah merah.
"Via udah terbiasa bukan? Kenapa Papa repot repot mencarikan Via Mama? mencarikan Via teman untuk bercerita?" Kataku.
"Papa kan yang butuh, Papa sudah menemukan kebahagiaan Papa. Bahkan sampai rela cuti, hanya untuk Lorenza," Aku benar benar mengeluarkan apa yang ada di dalam hatiku.
"Setiap Via minta Papa untuk libur, meluangkan waktu untuk Via. Apa papa menurutinya? Bahkan di Hari Minggu pun apa papa bisa? Tidak bukan? kenapa Papa repot repot seperti itu? Papa ada untuk Via itu sudah cukup." Aku menangis dan berlari meninggalkan ruang makan.
Papa diam termenung. Terkejut atas sikap ku. Aku lepas kendali hari ini.
"Maaf Pa," Guman ku.
"Non Via," Kata Bibi lirih. Bibi yang sedari tadi berdiri di pintu dapur, mencemaskan ku. Kak Sad yang berdiri di sebelah Bibi menghela nafas pelan.
Aku tidak menjawab dan langsung menaiki tangga menuju kamar.
__ADS_1