Pluviophile

Pluviophile
Bagian 11


__ADS_3

Aku diam tak bereaksi, tepatnya bingung harus bagaimana. Di satu sisi aku senang karena Daylon datang, di sisi lain aku juga


merasa kasihan kepada Ray.


"Beneran udah janjian sama Daylon dulu?" Ray menatapku berharap aku menjawab dengan gelengan.


"Iya, kita mau pergi sekarang. Permisi," Daylon menariku menuju mobilnya. Terlihat di mata Ray ada rasa sedih dan kecewa. Maaf Ray, batinku.


Di dalam mobil, Daylon hanya diam dan menatap depan.


"Daylon, aku bisa pulang sendiri. Aku nggak mau bikin repot kamu lagi," Aku membuka pintu mobil, hendak turun.


"Ngapain? siapa yang nyuruh lo turun?" Daylon menatapku. "Naik," Lanjut Daylon.


Aku kembali naik ke mobil dan Daylon mulai mengemudikan mobil.


"Kenapa kamu bicara kayak gitu ke Ray? kita kan nggak ada janji apa apa," Ucapku.


"Gue tau lo nggak mau pergi sama Ray," Daylon berkata datar.


"Maaf Daylon aku ngrepotin lagi," Aku tertunduk takut Daylon marah.


"Lupain," Daylon terus menyetir, tidak melihatku.


Mobil terus melaju dan tidak terasa hampir sampai di komplek perumahan ku. Aku berharap bisa berlama lama dengan Daylon.


"Loh Daylon, rumah aku belok kanan. Kenapa lurus?" Aku heran ketika mobil Daylon tidak menuju rumahku.


"Emang gue bilang mau anter lo pulang?" Ucap Daylon. Aku menjawab dengan menggeleng.


"Terus mau kemana?" Tanyaku penasaran.


"Rooftop Cafe," Daylon menyebut cafe yang cukup terkenal di kota. Aku mengangguk.

__ADS_1


Aku menatap langit, mendung terlihat menggantung di atas sana. Ahh, sepertinya akan turun hujan. Aku tersenyum tipis.


Tak perlu waktu lama, kita sudah sampai di tempat tujuan. Tapi ada yang berbeda kali ini, cafe terlihat sepi, tidak seperti biasanya. Daylon turun duluan dan aku menyusulnya.


Seperti namanya rooftop cafe, yang hanya menyediakan tempat di atas dan juga tanpa atap. Hanya meja di dekat pintu saja yang menggunakan atap. Dan Daylon memilih meja di pinggir pagar. Dari sini kita bisa melihat sibuknya jalanan. Menikmati angin sore yang menerpa pelan di wajah. Walaupun mendung masih bisa aku rasakan.


"Daylon suka di rooftop ya?" Aku bertanya basa basi.


"Tergantung," Ucap Daylon singkat.


"Tergantung apa?" Aku menopang dagu.


Daylon tak manjawab dan malah melambaikan tangan ke pelayan.


"Kalau sekarang Daylon suka nggak?" Tanyaku tak putus asa.


"Nggak," Daylon menulis menu yang dipesan.


"Karena ada lo," Ucap Daylon dingin.


Aku diam tak bergeming. Dan mendadak hatiku terasa ngilu dan dadaku sesak. Aku menatap depan, entah harus berkata apa ke Daylon.


Tiba tiba gerimis turun, butir air jatuh ke wajahku. Aku lega hujan datang disaat yang tepat. Aku tetap diam, memejamkan mata membiarkan banyak air membasahi seragamku.


Daylon beranjak dari duduk dan menoleh ke arahku "Nggak mau neduh?" Tanya Daylon.


Aku diam tidak menjawab. Daylon menghela nafas dan menarik ku ke meja dekat pintu.


"Gue mau nanya," Kata Daylon. Aku menoleh.


"Lo nggak mau balikin jaket yang gue pinjemin kemarin lusa?" Tanya Daylon.


Aku melongo, ku kira Daylon akan bertanya apa aku marah. Tapi aku ternyata salah. Wahh, aku tidak menyangka.

__ADS_1


"Iya, besok aku kembalikan," Jawabku.


"Lo mau ke rumah gue?" Daylon bertanya lagi.


"Aku nggak bilang gitu," Ucapku.


"Besok libur, lo mau ke rumah gue?" Tanya Daylon sekali lagi.


Iya ya, besok Hari Sabtu jadi libur. Ahh, kenapa aku lupa. Daylon menunggu jawaban ku.


"Ya udah besok aku ke rumahmu," Jawabku cepat. Daylon mengangguk.


Makanan datang dan kami menghabiskannya tanpa suara. Hanya suara rintikan hujan yang semakin menderas.


Aku melirik jam yang melingkar di tanganku, pukul 17.00 udah sore ternyata.


"Daylon pulang sekarang yuk?" Aku mengajak Daylon untuk pulang.


"Lo pulang sendiri bisa nggak?" Ucap Daylon.


Daylon nggak mau nganter ya, batinku.


"Bisa nggak?" Daylon mengulangi lagi.


"Bisa kok, nanti aku suruh Kak Sad jemput," Aku mengemasi tasku dan turun meninggalkan Daylon.


Sampai di bawah hujan masih deras. Aku mengeluarkan handphone mencari nama Kak Sad di daftar kontak. Tapi tidak ada, dan saat itu juga aku baru ingat bahwa aku belum meminta nomor Kak Sad. Gimana ini?


"Gue bercanda," Tiba tiba Daylon datang dan berdiri di samping ku.


"Ayo," Daylon menarik ku dengan berlari menuju parkiran.


Aku tersenyum, menatap punggung yang mengajak ku berlari. Ahh, sungguh romantis. Hal yang selama ini aku idamkan, diwujudkan oleh Daylon.

__ADS_1


__ADS_2