
Kalau kalian sudah aku kenalkan dengan Ardian, sebelumnya aku juga sudah berteman baik dengan Firman. Perkenalanku dengan Firman jauh lebih lama daripada perkenalanku dengan Ardian, meskipun mereka juga berteman baik dan satu sekolahan, tetapi perkenalanku dengan salah satu dari mereka mutlak dari aku sendiri yang mengajak berteman walaupun pada awalnya kita berteman tidak secara langsung, Online.
Iya, mungkin kalian fikir aku ini cewek genit atau bagaimana, tetapi tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku mengajak mereka berteman karena memang aku membutuhkan mereka, mereka jauh lebih dewasa daripada aku yang sebelumnya. Bertahun tahun aku hanya menceritakan sesuatu kepada mereka curhat lah bahasa gampangnya dan karena kita kebetulan klop atau satu pemikiran akhirnya kita bertiga membuat Grub WhatsApp saat itu.
Awalnya sangat ramai, sampai masuk bulan kedua setelah kita membuat Grub itu, sepi mulai datang menghampiri. Firman menjauh, entah kenapa. Aku fikir mungkin Firman sedang butuh suasana yang berbeda, aku cukup memahaminya. Bisa jadi dia butuh beradaptasi kesana kesini mencari kenyamanan baginya.
Namun lama kelamaan dia benar menjauh, tak ada lagi percakapan di Group tersebut, hingga akhirnya satu persatu keluar. Menyisakan beberapa kenangan yang tak pernah ku hapus saat itu di hp lamaku.
Aku mulai paham, Firman bukan sedang mencari suasana baru tetapi memang dia sedang menikmati suasana baru, menikmati indahnya romansa dunia dalam percintaan.
Ya, dia memiliki kekasih baru, cantik dan putih. Setiap hari dia memamerkan beberapa keromantisan nya di beberapa sosmed.
Aku fikir aku akan ikut bahagia atas kebahagiaan temanku, tapi nyatanya hatiku tidak bisa mengiyakan. Jujur, sejak dia berpacaran dia sudah jarang mengabariku, hanya saling melihat story dan aku meragu untuk sekedar Coment.
Aku tahu mungkin dia memiliki alasan, seperti menjaga perasaan kekasihnya. Yang aku tahu kekasihnya memang cukup cemburu dengan mengenai kabar kedekatanku dengan Firman kala itu. Padahal, aku tidak ada hubungan lebih, hanya saat itu aku memang sempat menaruh perasaan lebih untuknya.
Setelah kabar Firman berpacaran, aku memang sadar diri tidak pernah mengabarinya dahulu. Beberapa keluh yang ingin aku sampaikan juga tak tersampaikan. Beberapa rinduku terbayar dengan melihat kebahagiaan walau tak denganku atau Ardian lagi.
Sudah beberapa bulan Firman tak berkabar, aku sungguh rindu. Perasaan luka ku juga sudah mengering, aku sudah ikhlas. Bagaimanapun aku ingin kita bertiga kembali bersama meskipun harus mengurangi beberapa waktu.
Tentu saja keadaan ini juga membuat Firman tak pernah tau bagaimana perih yang aku rasakan karena bullying itu.
__ADS_1
Sempat malam itu Firman bertanya kabar.
'An, keadaanmu baik?' karena aku tak mau membuatnya resah aku berfikir untuk aku tak menceritakan apa yang terjadi, toh udah sejauh ini kalau aku cerita bakalan panjang banget.
'Baik Fir,' Jawabku singkat namun bahagia ku banyak.
'Kata Ardian kamu kenapa² ? Nggak mau cerita sama aku?'
'Nggak ada yang perlu diceritain, Aku baik.'
'Kenapa sekarang nggak pernah bareng sama mereka mereka lagi?' Tanya Firman yang ternyata merasakan perubahan pada diriku dan mereka teman temanku
'Jarang, aku lebih suka sendiri sekarang.'
'Alasan apa yang harus membuatku marah?'
'Sekarang kan aku jarang bareng sama kamu dan Ardian'
'Kamu juga punya hak untuk menikmati bahagiamu sendiri.' Jawabku lebih pada realita.
'An, kata katamu mendalam'
__ADS_1
'Fir, yang nantinya bakal ada buat kamu kalau semisal kamu patah itu teman. Kalau sekarang aja kamu ngejauhi temanmu, bukan menjamin nanti temanmu bakal ada saat kamu butuh Fir, Timbal balik. Kalau kamu masih tetap bersama teman temanmu saat senang atau sedih, teman temanmu juga akan begitu. Mereka akan selalu ada saat kamu sedih maupun senang' Akhirnya unek unek yang ada di hati dan pikiranku harus aku ungkapkan, entah ini akan begitu menyakitkan saat Firman membacanya atau tidak, tetapi sikap Firman harus segera aku sadarkan.
'Maaf An' Balasnya, aku yakin dia sekarang sudah mulai berfikir.
'Gaada yang perlu di maafin, aku cuman mau kamu sadar'
'Aku maunya kita tetap berteman An, tapi mau bagaimana? Dewi cemburu saat melihat aku masih menjalin komunikasi denganmu. Aku mau jaga perasaan dia An, tapi nyatanya aku sendiri membunuh Perasaanku, aku nggak nyaman sama sekali. Dan aku udah melukai perasaan kamu.' Jelas dia.
'Aku tau kamu sudah lama kenal dengan dia, aku gapapa. Kamu harus jaga hubungan kamu sama dia, kamu baik baik ya. Aku gapapa, jangan khawatir' Gatau kenapa aku meneteskan air mata, mungkin dari hatiku yang paling dalam aku belum rela melepas Firman sepenuhnya.
Semenjak Chat itu, beberapa kali aku bertemu dengan Firman di jalan, muncul kecanggungan saat kita berpapasan. Seperti ingin menyapa tetapi meragu. Sudah beberapa kali juga aku berpura pura untuk tidak melihatnya saat dia tidak sadar dengan kehadiranku di dekatnya atau satu lokasi dengan dirinya.
Yang aku rasakan dari chat malam itu adalah suatu kelegaan, aku merasa senang karena Firman mau menjelaskan walaupun tidak dari awal. Tapi di sisi lainnya aku masih kecewa dengan sikapnya yang aku anggap dewasa ternyata tidak untuk saat ini dalam dunia percintaan.
Beberapa waktu terakhir juga aku sering mendengar kabar jika Firman dan kekasihnya sering ada problem, aku fikir mungkin karena perbedaan pendapat atau bagaimana dan hal itu masih dapat di perbaiki pikirku. Tapi pada akhirnya, pada saat waktu yang berbeda aku mendengar jika Firman dan kekasihnya memilih untuk mengakhiri hubungan mereka.
Yang membuat ku merasa sedih saat itu adalah beredarnya kabar aku sebagai salah satu penyebab mereka akhirnya putus. Hey, aku sadar mungkin kehadiranku sangat mengganggu bagi kekasih Firman saat itu. Tapi mau bagaimana, apakah seorang teman tidak boleh saling bertukar kabar? Ohh, mungkin karena kekasih Firman saat itu terbakar oleh api cemburu.
Aku saat itu memutuskan untuk mencari kabar melalui mereka langsung, bahkan aku saat itu tidak malu untuk bertanya apakah permasalahan dari mereka putus adalah aku dan mereka berdua kompak menjawab "Iya, salah satunya karena kamu. Tapi tidak itu saja, emang dari kita banyak memiliki perbedaan dan memang sudah tidak dapat dipertahankan lagi"
Jujur saat itu aku benar benar kecewa dengan diriku sendiri. Walaupun saat itu Firman sudah mencoba untuk kembali kepadaku dan Ardian', keputusan yang aku ambil cukup membuat aku sendiri sesak.
__ADS_1
Aku lebih memilih menjaga jarak dengan Firman, aku tidak banyak muncul dalam kehidupannya. Mungkin aku benar benar pengecut, karena aku adalah teman yang tak mau ada saat temanku butuh dukungan. Kalian harus tau, aku begitu saat itu karena aku kecewa dengan diriku sendiri.
Sejak awal bukan kabar ini yang aku nanti, walaupun aku menanti kabarnya yang dapat menenangkan hati tetapi bukan berarti mengenai kabar berakhirnya hubungan mereka, yang aku mau sejak awal adalah Firman tetap berteman baik dengan aku dan Ardian' kala itu, dan Firman juga tetap baik baik saja dengan Dewi. Meskipun kadang permintaanku egois, dalam setiap doa aku berharap Dewi mau menerima aku sebagai teman Firman tanpa rasa cemburu.