
"Kita beli beras dulu ya Daylon," Kataku sembari mendorong troli belanja. Daylon berdehem.
"Sini gue yang bawa," Daylon mengambil alih troli dan berjalan cepat ke bagian beras. Aku tersenyum tipis.
Saat di supermarket aku sangat menikmati waktu bersama Daylon. Kami mencari bahan bahan yang diperlukan dan menjelaskan betapa sehatnya makanan organik kepada Daylon, walau Daylon hanya berdehem dan menyebut ku cerewet. Walau begitu aku tetap senang, Karena Daylon juga diam diam memperhatikan.
Tanpa terasa sudah 1 jam kita berkeliling, saatnya membayar dan pulang.
"Kruyukk," Perutku tiba tiba berbunyi saat perjalanan pulang.
"Mampir makan?" Tanya Daylon tanpa melihatku.
"Enggak usah, langsung ke rumah Daylon aja. Nanti aku ajarin Daylon bikin sup ayam. Biar bisa nanti masak sendiri," Aku berkata riang.
"Cih, emang Lo bisa masak sampai ngajarin segala," Daylon meremehkan ku.
"Kalau sup ayam aku jago, tapi kalau menu lainya aku belum bisa. Nanti aku minta ajar sama Bibi lalu mengajari Daylon," Kataku panjang.
"Nggak usah, gue juga bisa kalau cuman masak," Kata Daylon ringan.
Aku menoleh cepat, " Beneran Daylon bisa masak? terus sama ini kenapa nggak masak aja?" Tanyaku bertubi.
__ADS_1
"Gue udah bilang, yang instan aja ada kenapa harus bikin," Ucap Daylon.
"Tapi mulai sekarang, Daylon nggak boleh berfikir begitu ya? yang sehat aja ada kenapa harus mencari sumber penyakit," Kataku membalas perkataan Daylon.
Aku melirik Daylon dan sekilas aku melihat Daylon tersenyum tipis. Daylon membelokan mobilnya di rumah makan.
"Kok berhenti di sini? kan mau masak di rumah aja," Kataku tidak mengerti.
"Lo laper banget kan? kelamaan kalau masak di rumah," Daylon berkata dan turun dari mobil. Aku segera menyusul Daylon.
Akhirnya kami memutuskan untuk makan di restoran, ternyata Daylon peka juga ya. Sudah ku duga, dibalik dingin nya Daylon ada titik hangat di dalam hatinya. Dasar, manusia tsundere.
***
"Di angkat tuh," Daylon menyenggol lengan ku.
"Ha? eh eng.. enggak peting kok," Jawabku terbata bata juga terkejut karena senggolan Daylon.
"Lo kenapa?" Daylon yang melihat ku sedikit melamun bertanya.
"Nggak, nggakpapa," Ucapku berbohong. Daylon melihatku dengan tatapan dalam.
__ADS_1
"Lo itu pura pura kuat apa emang kuat?" Tanya Daylon.
Aku terdiam sebentar, menatap ke bawah
"Kenapa tanya gitu?"
Daylon menghela nafas, menggeser posisi duduk mendekati ku. "Gue tadi pagi ke rumah Lo."
Aku refleks menoleh ke arah muka Daylon. "ha?" memasang muka bertanya tanya.
"Gue udah duduk di ruang tamu, nungguin Lo keluar. Tapi gue denger ada suara ribut di dapur. Jadi, gue pulang dulu," Daylon berkata panjang.
"Daylon tahu ya," Aku tertunduk dan tersenyum masam.
"Gue kira Lo nyampe sini bakalan masang muka sedih, marah atau apalah. Tapi Lo pura pura nggak terjadi apa apa," Daylon melihatku yang masih tertunduk.
"Gue tanya lagi, Lo itu pura pura kuat apa emang kuat?" Daylon mengulang pertanyaan tadi.
"Kuat, aku kuat kok," Aku menjawab dengan suara bergetar menahan tangis.
"Cerita aja ke gue, kalau Lo itu lagi pura pura," Kata Daylon menyentuh pundak ku.
__ADS_1
Aku merasa terhimpit, sesuatu yang tidak kuduga amat menyesakan. Fakta bahwa Daylon mengetahui, membuatku merasa sangat menyedihkan.