Pluviophile

Pluviophile
Chapter 08. Apartemen Jo


__ADS_3

Jangan Lupa pencet tombol ❤ dan 👍. Dukung author juga dengan Vote/tips and Rate bintang lima ya😉Comment di bawah tentang chapter kali ini!


Thanks readers!🥰


------------------------------------------‐-------


Salma mengecek berkali-kali alamat yang tertulis pada secarik kertas. Setelah yakin, ia mengetuk pintu apartemen. Karena tak kunjung dijawab, Salma mengetuknya lebih keras. Salma tak tahu jika ada bel disana.


Ceklek!


"Hooaamm ...." Joshua hanya menguap tanpa mempersilahkan masuk. Dengan ragu Salma masuk dan menutup pintunya.


Salma menatap ruangan besar apartemen Joshua. Jenis apartemen tipe loft. Tipe apartemen ini memberikan kesan lapang karena tidak disekat-sekat. Plafon apartemen tipe loft tinggi, sebab biasanya ada tambahan ruang, seperti area mezzanine. Area setengah lantai inilah yang dinamakan loft dan cenderung digunakan sebagai kamar tidur.


Ruangan ini hanya terdapat satu sofa panjang dengan sebuah meja yang menghadap ke tv, kitchen yang satu bagian dengan pantry, sebuah toilet dan kamar tidur di lantai atas memberi kesan simple. Sedangkan warna gelap yang mendominasi beberapa sisi memberi kesan manly.


Salma menatapnya kagum. Katakanlah ia norak. Bagaimana pun ia baru dua kali melihat apartemen berharga miliaran. Yang pertama, ia pernah berkunjung ke apartemen Luna yang diberikan ayahnya sebagai hadiah ulang tahunnya ke-17. Dan ini yang kedua, apartemen Joshua.


"Cepat kemari!" perintah Joshua yang tengah duduk di pantry. Salma langsung tersadar dari lamunannya dan berlari kecil ke arah Joshua.


"Bikinin kopi!" perintahnya lagi.


"Hah?" Salma nampak bingung.


"Hukuman lo karna bangunin gue tidur."


"Tapi kan ...."


"Gue suruh dateng jam tujuh, bukan jam enam."


Salma memang datang satu jam lebih awal. Dipikirnya lebih baik datang awal daripada terlambat.


Salma buru-buru mencari kopi dan gula dalam lemari penyimpanan. Dibukanya satu persatu lemari namun hasilnya sama, kosong.


"Kopi sama gulanya ditaruh mana?" tanya Salma.


"Toko," jawab Joshua singkat.


"Terus?"


"Ya lo beli!"


Salma hanya bisa melongo mendengar jawaban Joshua. Salma menarik napas panjang mencoba bersabar menghadapi Joshua. Ia tidak ingin membuat keributan yang akan menimbulkan masalah. Sungguh, ingin sekali Salma menjambak rambutnya lagi.


"Mau kemana lo?" tanya Joshua yang melihat Salma akan keluar.


"Beli kopi sama gula," jawabnya setenang mungkin.


"Uangnya?"


"Gue tau, pasti pake uang gue kan?"


"Bagus deh!"


Salma mengumpat dalam hati. Ia pikir Joshua akan berbaik hati memberinya uang, ternyata ia salah.

__ADS_1


"Gue tunggu lima menit. Terlambat sedetik, lo ...."


"Iya iya bawel."


Salma lalu berlari menuju mini market terdekat. Lima menit merupakan waktu yang terlalu cepat. Naik turun lift saja membutuhkan waktu hampir 2 menit, bagaimana jika di mini market banyak yang mengantri? Dan cukupkah 3 menit berlari menuju mini market terdekat?


Salma hanya bisa berlari secepat mungkin. Ternyata mini market hanya terletak di depan gedung apartemen. Ia segera berlari masuk dan mengambil kopi instan lalu membayar segera ke kasir. Ah, beruntung masih pagi sehingga masih sangat sepi.


Tok tok tok!


Salma tiba di depan pintu apartemen segera mengetuknya dengan keras.


Ceklek!


Tanpa babibu Salma langsung memasuki apartemen dan menuju pantry masih dengan keadaan berlari.


"Huuhh ... huhh ... huh ...." Salma terengah-engah. Keringat membanjiri dahinya.


Akhirnya sampai sepuluh detik sebelum terlambat. Salma bisa bernapas lega sekarang. Setelah mengatur napasnya, ia segera mengambil panci. Astaga, lengkap sekali peralatan dapur dan makannya.


Ia meletakkan panci berisi air di atas kompor gas tanam berwarna hitam. Berkali-kali ia menyalakan kompor namun tidak ada api yang keluar. Salma mengerutkan dahinya. Alamak, tak ada tabung gas kau rupanya!


"Kampret!" Salma menggerutu.


"Kemana tadi Jo sialan itu," gumam Salma.


"PERSIMI ... ADA ORANG?" Salma berteriak ke seluruh ruangan.


"Apa?" tanya Jo yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Maaf Tuan, apa anda memiliki tabung gas disini?" Salma bersikap formal dan lembut menutupi kejengkelannya.


"Wah begitu ya Tuan, ah sayang sekali saya tak memiliki uang untuk membeli tabung gas Tuan kaya raya ini."


"Gue udah pesen, lo tunggu aja."


"Aih begitu ya Tuan."


"Berhenti bersikap formal atau ...."


"Ehh iya iya iya. Kau ini, suka sekali mengancam orang."


Tak berapa lama kemudian seorang petugas gas datang membawa gas dan membantu memasangnya sekaligus. Oke, Salma mulai membuat kopinya. Salma sengaja membeli kopi instan agar tidak ribet.


"Ini, sudah jadi." Salma meletakkan kopi di hadapan Joshua yang sedari tadi mengamatinya di pantry.


"Ganti kopinya!" perintah Joshua setelah meminumnya.


"APA?"


"Terlalu manis dan gue gak suka rasanya."


"Astaga tap ...."


"Ingat, gue laki-laki yang sama yang nodongin pistol di toilet!"

__ADS_1


Salma menelan ludah dengan alot. Astaga ternyata dia masih mengingatnya.


"Gue bisa lakuin apa aja sama lo!"


"Tidak tidak tidak! Oke tunggu."


Salma kembali berlari menuju mini market. Joshua tersenyum penuh kemenangan.


Setelah sampai, Salma segera membuat kopi hitam dengan dua sendok gula.


"Ganti!" ujar Joshua.


Salma melototkan matanya.


"Mau yang bagaimana?" tanya Salma.


"Tanpa gula."


Salma segera membuatkan kopi tanpa gula seperti perintah Joshua.


"Ini baru pas!" ujar Joshua menatap Salma.


"Hmm."


"Bersihkan tempat tidur gue!"


"HAH?"


"Bersihkan tempat tidur lalu buatkan sarapan gue!"


"Sebenernya gue disuruh kesini untuk ngapain sih?"


"Setelah sarapan gue kasih tau."


Dengan perasaan dongkol Salma berjalan menuju tempat tidur Joshua melewati tangga. Argh, tempat tidurnya seperti kandang kambing saja. Dengan fokus Salma segera membersihkannya. Salma membereskan pakaian yang berserakan dan mengumpulkannya ke keranjang. Setelah itu ia mengganti seprei. Merapikan sebentar, selesai.


Salma memperhatikan hasil kerjanya, bagus juga ternyata. Matanya secara tak sengaja menatap benda yang menempel di dinding. Benda itu adalah dua pedang samurai dan sebuah pedang katana. Ngeri juga Salma menatapnya.


"Itu yang bakal nebas leher lo kalo lo gak buat sarapan sekarang," ancam Joshua yang baru saja datang.


Mata Salma membesar, terkejut juga ketakutan. Buru-buru ia menetralkan mimik wajahnya. Ia tak mau terlihat lemah dan takut di depan Jo. Bisa-bisa Joshua makin menjadi-jadi lagi. Hei, kemana saja kamu selama ini Salma?


"Lo tuh ya, suka banget perintah-perintah sambil kasih ancaman segala. Laki bukan lo?" kata Salma.


"Oh lo mau tau gue laki atau bukan, oke." Tangan Joshua bergerak seakan-akan membuka celananya.


"Orang sintiiiiing!" ujar Salma berlari meninggalkan Joshua yang sekarang tersenyum lebar.


Joshua lantas memilih duduk di ranjang dan membuka laptopnya daripada meladeni Salma. Sedangkan Salma sedang membungkuk dan memegang kedua lututnya mengatur napas.


Melihat Joshua tidak meladeninya lagi, ia memutuskan tetap akan membuat sarapan. Salma membuka kulkas, dan tidak ada apapun disana. Salma mendengus kesal.


"Buat apa punya kulkas kalau gak ada isinya," gumam Salma.


"Kering kerontang ini nanti dompet gue," lanjutnya.

__ADS_1


Salma lantas berbelanja ke mini market yang sudah ia kunjungi dua kali selama pagi ini. Salma berpikir harus memasak apa, pasalnya ia sama sekali tidak jago masak. Mie instan, ya, ia bisa memasak mie instan. Apakah tidak apa untuk sarapan? Sudahlah, toh hanya itu yang Salma bisa masak.


Astaga Salma, ngapain aja selama ini kamu di rumah saat bundamu masak?


__ADS_2