
"Malah senyum senyum, mau turun nggak?" Ucap Daylon menyadarkan ku.
"Udah sampai ya?" Tanyaku. Daylon hanya diam.
"Duluan ya Daylon, kamu hati hati," Aku hendak turun dari mobil.
"Yang tadi gue juga bercanda," Ucap Daylon menatap depan.
"Yang mana?" Tanyaku tidak paham.
"Karena ada lo," Ucap Daylon. Aku tersenyum dan turun dari mobil. Daylon pergi.
Ahh, jadi Daylon cuman bercanda. Yang tadi membuat dadak ku sesak, itu cuman bercanda. Bercanda nya Daylon nyakitin ya?
"Via kenapa disitu, masuk nanti sakit loh," Kak Sad berteriak ketika melihatku berdiri di depan pagar dengan hujan yang masih mengguyur.
Aku menoleh "Iya."
"Via nggakpapa?" Tanya Kak Sad.
"Iya, Via baik baik aja," Kataku.
"Ya sudah, Via ganti baju terus makan," Ucap Kak Sad.
"Via udah makan kok Kak," Aku melepas sepatu yang basah "Via ke atas dulu," Ucapku dan berlalu meninggalkan Kak Sad.
***
20.00
Terkadang aku merasa aneh dengan Daylon. Di satu waktu Daylon membawaku terbang melampaui perasaan bahagia. Di waktu lain Daylon membuatku jatuh, membuat sesak. Aku berfikir apa Daylon hanya melihatku sebagai teman di kala sepi.
__ADS_1
Aku menggelengkan kepala cepat. Apapun itu aku harus tetap bertahan, harus berjuang lebih keras. Aku yakin suatu saat Daylon pasti luluh.
Aku mengambil handphone yang berada di sampingku. Mencari nama Daylon di daftar kontak.
"Malam Daylon :)," Ketik ku di layar handphone.
Daylon langsung membalas "Apa?"
"Alamat rumah kamu dimana?" Aku menanyakan alamat Daylon karena aku besok mau ke sana.
"Perum Raya, blok C, nomor 54." Tulisan itu tertera di layar handphone ku.
"Besok aku ke sana jam 10.00," Balas ku cepat. Aku yakin Daylon tidak akan membalas lagi.
Aku bergegas pergi ke ruang ganti, mencari jaket Daylon. Namun aku tidak menemukan nya. Aku panik dan mengobrak abrik isi lemari.
"Bibi," Aku ke kamar Bibi dan menemui nya.
"Bibi lihat jaket warna hitam nggak?" Tanyaku cepat.
"Jaket yang mana non?" Bibi menatap ku kebingungan.
"Yang kemarin lusa Via pakai," Aku tidak sabaran.
"Yang basah kehujanan itu ya?" Tanya Bibi. Aku mengangguk cepat.
"Bibi simpan di lemari papa nya Via," Ucap Bibi santai. Aku mengerutkan dahi.
"Bibi pikir itu punya tuan," Kata Bibi.
"Makasih Bi," Aku pergi ke kamar papa.
__ADS_1
Gelap, itu yang ku lihat. Aku menyalakan lampu dan menuju ke ruang ganti papa. Terlihat jaket hitam menggantung di antara kaus papa.
"Papa nyadar nggak ya, kalau jaket nya disini," Aku khawatir.
"Tapi papa kan jarang pakai kaus," Aku tersenyum. Dan bergegas keluar.
"Loh papa udah pulang?" Tanya ku ketika melihat papa menuju arah kamar. Aku yang masih didepan pintu segera menyembunyikan jaket di belakang badan.
Papa mengangguk "Via cari apa?" Tanya papa
"Umm cari charger laptop, tapi nggak ada," Aku beralasan. Aku tau papa selalu membawa charger nya.
"Papa bawa," Papa merogoh tasnya dan mengeluarkan charger "Nih."
Aku menerimanya "Makasih pa, Via ke kamar dulu."
***
Di kamar.
Aku menghela nafas lega "Untung papa nggak tau." Aku segera menyimpan jaket nya di paper bag biru.
Tiba tiba papa masuk ke kamar "Via papa mau bicara boleh?"
Aku mengangguk dan mendekat ke arah papa.
"Papa akan punya istri baru dan Via juga akan punya mama," Kata papa. Aku diam.
"Besok kita jalan jalan sama Lorenza, calon mama kamu. Kamu mau kan?" Lanjut papa.
Rasa panas menyebar di ruang hatiku.
__ADS_1