Pluviophile

Pluviophile
Chapter 09. Apartemen Jo [2]


__ADS_3

Jangan lupa Like, Vote, and Rate bintang lima untuk mendukung Authorā¤ Terima Kasih


Mie instan, telur, sosis, sawi, dan saus ekstra pedas sudah tersedia di meja. Bahan itu akan dimasak menjadi mie instan spesial ala Salma. Dalam hal memasak instan ia memang sangat berbakat. Tetapi jika memasak yang lain seperti nasi goreng, maka rasanya kadang terlalu asin, atau terlalu manis, atau rasa terlalu kuat.


Hanya butuh waktu 10 menit mie instan spesial ala Salma siap di meja pantry. Salma segera memanggil Joshua untuk makan.


"HEI KAU, CEPAT KEMARI. MAKANANMU SUDAH SIAP." Salma berteriak memanggil Joshua di lantai atas.


"Pengen kehilangan pita suara lo teriak gitu?" kata Joshua dengan nada mengancam menuruni tangga.


Salma memilih membersihkan dapur daripada meladeninya. Joshua menatap makanannya lalu berganti menatap Salma yang tengah merapikan dapur tanpa berkedip. Tentu Salma menyadari itu.


"Pengen kehilangan mata ya lo ngeliatin gitu?" ujar Salma ketus.


"Wah udah berani ngancem ya sekarang," balas Joshua.


"Mentang-mentang bawa pisau di pinggang terus berani gitu," lanjutnya.


Salma melebarkan matanya. Ia bertanya-tanya bagaimana Joshua tahu kalau ia menyelipkan pisau di balik sweater-nya? Salma sedari rumah memang telah membawa pisau untuk berjaga-jaga menghadapi Joshua di apartemennya sendiri. Ia sadar benar kalau sekarang ia sedang berada di kandang macan.


"Ini masakan apa?" tanya Joshua.


"Ck, itu mie instan. Masak kayak gitu aja gak tau. Gak pernah makan?" kata Salma.


"Enggak," jawab Joshua datar.


"Hah, apa?"


"Gue gak suka mengulangi perkataan."


Salma mematung. Joshua masih dengan wajah datarnya menatap Salma, yang menatapnya dengan tatapan terkejut.


"Kenapa, kenapa lo gak pernah makan?" tanya Salma.


"Buat apa ada cafe dan restoran?" tanya Joshua balik.


Salma yang mematung buru-buru mengembalikkan kesadarannya dan melanjutkan acara menata sisa telur ke kulkas.


Sedangkan di sisi lain, Joshua dengan mata berbinarnya menikmati makanan. Hampir separuh botol saus ekstra pedas ia gunakan. Benar-benar menyukai rasa pedas. Gurih, manis, hangat dan pedas membuat Joshua dalam waktu tiga menit menghabiskan makanannya. Padahal Salma membuatnya dari dua kemasan mie yang dijadikan satu porsi.


"Gue mau lagi," titah Joshua.


Mendengar hal itu Salma dibuat terkejut lagi.


"Gue gak suka mengulang perkataan," lanjutnya.


Akhirnya Salma membuatnya lagi yang sama persis dari yang pertama. Beruntung Salma sengaja membeli bahan lebih.


Setelah sepuluh menit, mie instan spesial ala Salma siap. Benar-benar spesial rupanya. Dan hanya butuh waktu tiga menit Joshua menghabiskannya.


"Sebenernya lo mau ngapain suruh gue kesini?" tanya Salma yang sudah kesal.


Joshua naik ke kamarnya tanpa menjawab pertanyaan Salma.

__ADS_1


"Woy gue pulang nih kalo gak ada apa-apa lagi!" ucap Salma sedikit berteriak.


"Kalo lo pulang sekarang, besok senin gue pastikan ada keributan di sekolah." Joshua menuruni tangga.


"Sepertinya mengancam orang lain sudah mendarah daging ya," gumam Salma.


"Cepet kesini!" perintah Joshua.


"Oh, salah. Mengancam dan memberi perintah orang lain sudah mendarah daging sampe tulang-tulangnya." Salma bergumam lirih.


"Dasar beggo, gue denger kalik. Nanti gue kasih hukuman lagi," ujar Joshua.


Ternyata selain memiliki mata tajam, Joshua juga memiliki indera pendengaran tajam yang membuat Salma berdecak kesal.


"Kemarin lo udah berani narik rambut gue."


"Sekarang lo harus memijat kepala gue!" lanjut Joshua.


Dengan hati dongkol ia menuruti permintaannya. Minyak kelapa ukuran 250 ml berpindah tangan ke Salma. Minyak kelapa berguna untuk meningkatkan sirkulasi darah di kulit kepala. Para ahli mengatakan ini mungkin adalah minyak terbaik yang dapat digunakan untuk memastikan bahwa kulit kepala direvitalisasi serta lebih nyaman.


"Aww ...." Joshua berteriak.


"Pijat yang bener!" serunya.


"Iya ini juga udah bener," balas Salma.


"Lo mijet apa ngajak tawuran? Lembut dikit napa."


"Bawel."


Joshua yang dilihat kali ini oleh Salma adalah orang yang suka mengancam, suka memerintah, dan bawel. Sama seperti orang yang dilihat Salma pertama kali di toilet dan berbeda orang ketika bertemu di sekolah. Apa betul Joshua mempunyai kembaran?


"Mm ... gue boleh nanya sesuatu gak?" tanya Salma.


"Pijat yang benar baru boleh nanya," jawab Joshua.


"Ih menyebalkan. Iya iya ini udah bener."


"Hmm."


"Nama lo Joshua kan?"


"Hmm."


"Yang kita ketemu di toilet cewek itu kan?"


"Hmm."


"Yang kita ketemu di sekolah kan?"


"Hmm."


"Berarti lo gak punya kembaran kan?"

__ADS_1


"Hmm."


"Tapi kenapa sifat lo beda?" tanya Salma ragu-ragu.


"Hmm."


"Ha?"


"Hmm."


"Yah malah keenakan."


"Hmm."


"NYEBELIIINNN ...!!!" teriak Salma sambil menarik rambut Joshua dengan kuat. Kata 'h' dan 'm' kini sudah kembali pada diri Joshua.


"Aaa ... aawww ... aw aw ...." Joshua berteriak merasakan panas pada kepalanya.


Joshua segera menarik tangan Salma dari kepalanya dan menggunakan teknik kuncian untuk kedua tangan Salma. Joshua menatapnya tajam bak elang menemukan mangsa. Salma tak tinggal diam. Salma menendang dengan ujung kaki tepat mengenai bagian ulu hati karena posisi Joshua yang sedang dibawah. Joshua merintih kesakitan. Ulu hatinya nyeri sekali. Tendangan Salma sungguh mematikan.


Di sekitaran ulu hati terdapat organ lambung, limpa, dan hati. Organ-organ ini dapat terancam jika perut mengalami benturan maupun pukulan dari luar jika kekuatannya cukup besar. Dan ya, tendangan dari Salma keras dan tepat. Tentu itu benar-benar mengancam jiwa.


Salma merasa sangat tidak tega dengan Joshua. Dia segera menelepon Dokter Nisa. Dokter Nisa merupakan sahabat dari bundanya. Jika Salma sekeluarga sakit, maka mereka memanggilnya atau pergi ke kliniknya. Hanya Dokter Nisa satu-satunya kontak di ponselnya yang berhubungan dengan medis. Ia tak memiliki nomor kontak rumah sakit atau menghafal kontak darurat medis lainnya.


Setelah itu ia membantu Joshua untuk duduk di sofa sambil menenangkannya. Melihat wajah Joshua yang menahan sakit membuat Salma tak sadar meneteskan air mata. Ini salahnya, itulah yang dipikirkan Salma merutuki kesalahannya sendiri.


Andai ia tak terpancing emosi. Andai ia bisa mengendalikan diri untuk tidak menarik rambutnya. Andai dia tak memancing emosi Joshua. Andai ia tak menendangnya. Semua hanya andaian saja.


Iya, niat Salma hanya untuk melindungi diri. Tapi ini sudah keterlaluan hingga mengancam jiwa bukan? Banyak orang tak selamat akibat jurus mematikan tersebut. Dan Salma tak ingin membunuh orang.


"Bertahanlah," bisik Salma di telinga Joshua.


Butuh lima belas menit untuk Dokter Nisa sampai. Salma sudah menjelaskan apa yang terjadi melalui telepon. Dokter Nisa lalu memeriksa kondisi Joshua.


Pada kasus ini, baiknya diberikan kompres es atau etyl spray terlebih dahulu. Bila selama pemberian es dan etyl spray pemain masih terus merasakan sakit maka sangat dianjurkan untuk segera dibawa ke rumah sakit karena ditakutkan terjadi pendarahan pada bagian dalam.


"Dokter, apa teman saya tidak apa-apa?" tanya Salma yang tengah berada di pantry dengan Dokter Nisa.


"Dia sudah terlihat baik. Tapi untuk memastikan ada atau tidaknya luka organ bagian dalam, sebaiknya dibawa ke rumah sakit." Dokter Nisa menepuk bahu Salma.


"Apa dia pacarmu?" tanya Dokter Nisa.


"Bukan. A--aku kemari se-sedang mengambil buku. Aku tak sengaja menendangnya karena mem-buatku kaget."


"Jangan bilang Ayah sama Bunda ya Dok," lanjutnya.


"Iya." Dokter Nisa mengangguk.


---------------------------------------------------


Maaf ya readers kemarin tidak update. Saya baru menyelesaikan tugas laporan dan video. Seharusnya minggu ini sudah tidak KBM sekolah, tapi karena saya belum menyelesaikan tugasnya sama sekali, jadi kemarin saya tidak update. Hadeh, penyakit males tugasku meronta-rontašŸ˜†


Oh iya, Cover ini udah ganti loh. Gimana pendapat kalian? Thanks.

__ADS_1


Saya pasti usahakan update setiap harišŸ‘


__ADS_2