Pluviophile

Pluviophile
Tangis dan gerimis yang menenangkan


__ADS_3

Pagi pagi sekali aku bangun, membuka hp Samsung J1ace menekan tombol data seluler untuk kembali online.


Aku mencoba untuk membuka beberapa akun sosial media ku, entah kenapa rasanya berdebar. Tidak, bukan karena pesan romantis dari seseorang, tetapi aku cemas saat ingin mencoba membuka Group Kelasku, aku takut untuk membaca 1000 lebih pesan dari teman kelasku di Group itu, karena apapun topiknya pasti salah satu dari mereka akan mempelopori untuk juga mengucilkanku. Hey, kalian fikir hanya dengan mengetikkan kata kata bullying untuk seseorang tidak akan berpengaruh bagi keadaan Psikis nya? Jelas itu berpengaruh teman, bukan hanya ocehan kalian yang membuatku runtuh tetapi kata kata kalian juga.


Aku tidak berniat untuk membaca percakapan mereka dari awal, hanya cukup ku buka dan membaca sekilas pesan di bagian akhir. Aku tidak mampu, aku merasa tidak siap untuk pagi pagi sekali harus menguras tenaga menahan kesedihan dan menahan emosi.


Kebetulan saat itu sahabat ku juga sudah online, dia cowok hanya saja beda sekolah denganku dan umurnya juga lebih muda satu tahun dariku. Tapi, entah kenapa aku merasa lega dan kuat saat dia ada di hari hariku. Ardian namanya, selama 1 tahun aku terpuruk saat itu, hanya dia yang membuatku tenang, sebanyak apapun keluh kesahku dia tetap sabar mengerti dan memberi saran.


Aku juga pernah dengan tidak tahu diri meminta dia untuk tidak pernah meninggalkan aku.


Aku mulai mengetikkan pesan untuk dia.


'Udah bangun?' Kukirim pesanku untuknya


Tidak lama dia langsung membaca pesanku dan mulai mengetik.


'Udah, knp lagi kamu?' Seakan akan paham dengan keadaanku, dia langsung saja menanyakan hal itu.


Aku sering terbangun di jam 3 pagi karena memang sudah beberapa bulan terakhir ini aku tidak pernah merasakan nyenyaknya tidur, apalagi setelah kejadian di siang hari yang begitu sulit biasanya aku akan susah tidur dan sesekalinya bisa tertidur akan sangat cepat bangun. Aku merasa saat itu mengalami gangguan kecemasan yang berlebihan, setiap saat aku ingin selalu memantau akun sosial media mereka takutnya memang kalau mereka kembali menyindirku lewat sosmed bahkan secara terang terangan mereka juga pernah menyakiti hatiku dengan kata kata kasar, ini akan aku ceritakan di part selanjutnya.

__ADS_1


Gangguan kecemasanku lainya juga membuatku sering menggantungkan diri pada sebuah ramalan harian zodiak , biasanya aku membuka ramalan harian sebelum berangkat sekolah, sebagai bentuk jaga jaga untuk aku harus bersikap bagaimana nantinya di sekolahan.


'Ar, aku takut. Makin lama aku makin males sekolah, setiap harinya juga kerasa banget jam berputar lambat. Telingaku udah capek dengerin omongan mereka. Sekarang mereka udah mulai makin ngelunjak Ar, kemarin aja sewaktu pelajaran bahasa Indonesia ada yang memancing untuk kembali membahas aku, sedangkan aku nggak tau Ar dimana pastinya kesalahanku. Aku harus gimana Ar, aku udah banyak Introspeksi tapi tetep aja mereka nganggep aku selalu salah' Jujur saja saat itu aku meneteskan air mata, tidak ada kemunafikan dalam hal itu jujur aku saat itu mulai semakin tidak nyaman dengan sikap mereka.


Sekitar satu menit pesanku dibaca, dan dimenit kedua Ardian kembali mengetikkan sesuatu.


'Jangan begitu, tinggal beberapa bulan kamu harus berjuang An, setelah ujian kamu bakalan bebas dari ocehan mereka. Jangan jadi Ana yang lemah, aku nggak suka. Kamu kuat An. Lagian emang bener yang dibahas saat pelajaran itu kamu? Bisa jadi teman sekelasmu yang lain, jangan terlalu negatif thinking An, Nggak baik buat pikiran kamu' Jawabnya.


Aku emang sangat sadar dan peka arah pembicaraan mereka saat itu, yang kebetulan sedikit nyambung ke Materi pembelajan Bahasa Indonesia mengenai Unsur Interinsik Cerita yaitu Penokohan.


Ada seorang temanku yang badanya besar, kulitnya putih, dia pernah dan sangat berteman baik denganku dulu, tapi sekarang Mulutnya sangat berpotensi menyakiti hatiku. Dia mulai memancing satu kata saat itu.


"Tukang Ngadu Bu, bisa kan Bu dibuat sebagai sifat dari tokoh Dalam cerita" Ucapnya saat itu.


"Hahaha, Persis Doi dong. Tukang ngadu, galak, sok tegar Haha, temen Lo itu"


Bagaimana mungkin aku tidak paham kalau yang mereka bicarakan itu aku, dia saja menyebut kata Doi yang jelas jelas itu adalah sebutanku saat mereka sedang membicarakanku.


Aku memang sempat mendengar kabar dari seseorang kalau alasan mereka marah atau menjauhiku karena saat itu aku memang menjabat sebagai ketua OSIS di sekolahan ku. Mereka bilang kepimpinanku terlalu tegas, kata mereka aku juga galak, aku juga di bilang tukang ngadu ke pembina osis. padahal niatku shering ke pembina OSIS karena meminta saran kepada beliau gimana seharusnya aku menegur anggotaku yang suka bergurau jika sedang diadakan rapat dan membuka pendapat bagi anggotaku. apa salah aku bilang dan meminta saran kepada pembina OSIS? aku rasa wajar.

__ADS_1


Selain itu aku juga dibilang tukang ngatur, karena di kelas sering sekali menegur temanku yang suka bergurau dan cerita saat guru sedang menyampaikan materi. Aku paham sekali mereka ingin bergurau, tapi apa pantas jika guru sudah menegur masih saja bergurau. seharunya ada rasa kesadaran, dan aku sebagai teman mengingatkan untuk diam sebentar karena guru sedang memberikan materi.


Ternyata selama ini niat baikku dianggap mereka sebagai seseorang yang galak, suka mengatur dan tukang ngadu. Ternyata aku saat itu banyak dianggap salah Dimata mereka.


Rasanya sudah tidak betah lagi saat itu, tapi benar kata Ardian. Aku harus berusaha, sebentar lagi akan Ujian, sebentar lagi aku akan lepas dari jeruji ini. Aku ingin melepas sakit itu jauh jauh, menjauh dari mereka.


'Kamu nggak tau Ar, aku paham betul kalau itu aku yang mereka maksud' Balasku setelah lama membaca pesan dari Ardian.


Kebetulan sekali saat sekitar pukul 3.30 WIB mulai turun gerimis, tidak berpotensi hujan tetapi sangat lama jangka waktunya.


Aku menutup ponselku, menenangkan diri.


Aku memutar lagu dan mendengarkan melalui Earphone yang aku sambungkan ke Hpku, aku sengaja memutar lagu dengan volume lagu yang kecil, karena aku mana mungkin bisa melewatkan suara gerimis yang menenangkan.


Air mataku mulai luruh, Batinku merasa tersiksa. Aku merasa ketakutan, malas dan tidak percaya diri.


Air mataku cukup banyak yang mengalir di pipi, lalu aku sadar dan mulai memotivasi diriku sendiri.


Aku harus kuat, sebentar lagi akan segera usai, aku bakalan hidup jauh dari mereka, aku tidak mau satu sekolahan lagi dengan mereka. Oleh karena itu aku harus berjuang agar mendapat nilai bagus, aku ingin kembali sekolah Ke Salatiga kota asal ayahku dan merupakan tempat tinggal sekaligus aku pernah menempuh pendidikan di sana saat SD.

__ADS_1


"Gerimis baik banget ya, mau nemenin aku nangis. Aku juga harus jadi seperti mereka, yang berkali kali jatuh tetapi Meraka tidak pernah tidak iklas, bahkan ia tetap selalu ada dalam satu posisi keadaan dibenci dan disukai. Gerimis tidak pernah membenci mereka yang mengumpat dengan kehadirannya, karena Gerimis berniat untuk memberi kehidupan bagi umat manusia walaupun tidak dihargai dan tidak disegani sekalipun" Batinku.


• Jangan tersungkur terlalu lama, kamu perlu bangkit sebelum orang orang kembali menginjakmu karena dianggap lemah, sekalipun kamu harus melewati Lika liku kehidupan di dunia yang fana ini.


__ADS_2