Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
Accidentally


__ADS_3

Pagi ini nampaknya tidak terlalu bersemangat bagi Will. Namun matahari tetap memaksa masuk melalui celah gorden untuk membangunkan gadis itu.


"astaga gue ada kelas pagi!!!!" Will berteriak kecil sembari melempar selimutnya ke sembarang arah.


"huh.. gue baru tidur 3 jam, mata gue masih pengen hibernasi sampe bulan depan.." Dia menggerutu sambil berjalan kedalam kamar mandi.


Ini adalah minggu kedua Will sebagai mahasiswa di salah satu universitas ternama di kota X. Sebagai mahasiswa baru, kebanyakan mata kuliah yang ditempuh masih pada jam pagi, tapi gadis ini nampaknya tidak terlalu peduli dengan jam kuliahnya, tadi malam dia malah menonton drama Korea.


"telat mulu perasaan, ngurusin anak sama suami dulu??" tanya Dwi.


"iyaa nih, susah emang kalo udah berumahtangga.." balas Will menjawab candaan sahabatnya tersebut.


"eh.. hari ini matkul siapa sih??" tanya Will.


"gue juga ga inget, ayo masuk ah ntar telat beneran


" Dwi menarik tangan Will.


Mata kuliah baru berlangsung selama 15 menit, namun Will sudah uring-uringan ingin segera keluar.


"ntar makan ke kantin Bu Reni ya.."


"astaga Will, ini belum ada setengah jam matkul lo udah pengen cabut aja.." Dwi mengomel sambil berbisik.


"lah gue laper ya gimana dong.." jawab Will dengan santainya.


"makin gembrot aja lu entar, awas aja minta gue jadi coach lagi.."


Memang benar, Will Adiya Putri merupakan anak seorang pengusaha sukses bernama David Aditya Putra. Will yang merupakan putri semata wayang David sangat memanjakan Will. Tak heran jika gadis ini tubuhnya lebih berisi daripada temannya Dwi. Makan dan ngemil seperti sudah menjadi passion seorang Will.


Kelas sudah berakhir, Will dan Dwi segera melangkahkan kakinya menuju kantin untuk mengisi perut yang tadi pagi belum sempat di isi.


Satu belokan lagi maka mereka akan tiba di kantin, namun tiba-tiba ada yang menabrak Will dari arah berlawanan sehingga membuat dia limbung dan akhirnya jatuh.


"bisa santai aja gak jalannya?" omel Will sambil merapikan celananya yang terkena debu lantai.


"mata kamu tuh yg gak di pake.." jawab pria itu tak kalah galak.


"kok lo yg nyolot sih, elu yg nabrak elu yg marah lagi.." Will mendekat sambil melotot.


"minta maaf gak??" sambungnya lagi.


"nama kamu siapa??" pria itu malah bertanya.


"gak usah banyak tanya, minta maaf gak..?"


Harga diri seorang Liam seolah di robek paksa saat ia diminta untuk minta maaf kepada gadis di hadapannya ini.


"i'm will never do it!!" tekan Liam.


(aku takkan pernah melakukannya)

__ADS_1


"oh really? then f*ck off my way loser!" (oh benarkah? kalau begitu jangan menghalangi jalanku pengecut!)


Liam tersentak mendengar jawaban gadis dihadapannya ini. Dia kesal namun sedikit kagum dengan keberanian dan aksen British gadis itu. Liam malah terdiam saat Will berlalu dari hadapannya, dia tidak sadar gadis itu sudah menghilang dari pandangannya.


"siapa gadis chubby itu?? wajahnya imut namun mulutnya tajam sekali.." ucapnya dalam hati sambil berjalan menuju sebuah ruangan yang bukan lain adalah ruangan Presiden Mahasiswa.


Rian dan Bethany sudah menunggu Liam sejak 30 menit yang lalu.


"mentang-mentang bapak presiden bisa ngaret ya.." sindir Rian.


"sorry gue ada urusan dikit tadi, mana yang mau gue tanda tanganin??" Liam segera mendaratkan bokongnya di kursi kebesarannya itu.


"nih..tapi lo ikut kan..?" tanya Bethany.


"maaf banget lah, kalian kan tau gue banyak urusan, mana gue lagi skripsian ini.." sahut Liam dengan nada menyesal.


"hmm ga asik sih kalo ga ada lo, tapi gapapa lah yang penting skripsi lu lancar.." jawab Rian.


"yaudah thanks ya, kita mau lanjut dulu banyak urusan juga. emang lu doang yang sibuk..." sambung Rian sambil berlalu bersama Bethany.


Liam hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatnya itu. Kemudian dia melanjutkan beberapa tugas yang sudah menanti.


.


.


.


Sementara di kantin, Will sedang mengomel karena pinggangnya sakit akibat terjatuh tadi.


"lo beneran gak tau itu tadi siapa Will?" tanya Dwi.


"gue gak peduli dia siapa, yang penting dia salah ya harus minta maaf lah.." jawabnya nyolot.


Dwi berdecak sambil menggelengkan kepalanya


"dia itu Presma di sini Will, lo garang banget tadi astaga...gue aja takut tadi ngeliat muka dia.."


"ohh jadi karna itu lo tadi mingkem mulu ga belain gue..?"


"ya bukannya ga mau belain, tapi kita belum 2 minggu jadi Maba masa udah bikin masalah sih sama Presma lagi.." Dwi ngeri membayangkan kalau mereka berdua di bully karena melawan mahasiswa paling berkuasa di kampus mereka.


"iya juga sih, tapi kan tetep aja dia salah masa gue yang minta maaf sih, males banget.." Will memutar bola matanya malas.


Dwi hanya mengangguk - anggukan kepalanya mendengar sahabatnya sambil menghabiskan makanan mereka.


Setelah beberapa menit terdiam dan fokus dengan makanan masing-masing, Dwi membuka pembicaraan lagi.


"lo tadi pagi kenapa hampir telat sih??"


"lo yang salah..." jawab Will santai yang bertanya malah nyolot.

__ADS_1


"lah kok gue yang salah??"


"kan Jumat kemaren lo rekomendasiin Drakor sama gue, yang gue marathon lah, penasaran banget soalnya.. seru..." Will sangat bersemangat menceritakan drama yang baru di selesaikannya jam setengah 4 subuh tadi.


"gila kali lo ya, itu ada 18 episode lo kelarin 2 hari?"


mata Dwi melotot ke arah Will.


Sedang asik berdebat, seseorang merangkul pundak mereka berdua.


"tega banget makan gak ngajak gue.." Stefany duduk di antara mereka berdua.


"eh fan masa tadi si Will barentem sama kak Liam coba..." Dwi mengadu.


"Kak Liam Presma??" Stefany memperjelas.


"kok bisa..kok bisa..?" lanjut Stefany lagi.


"iya itu tadi kak Liam nabrak si Will waktu mau ke kantin, eh bangornya si Will keluar. Disuruh minta maaf sama si Will..." Dwi menepuk dahinya mengingat kejadian beberapa menit lalu itu.


"accidently..." sahut Will malas.


(gak sengaja )


"hati-hati entar kena masalah lo, kita masih maba udah cari masalah aja sama Presma lagi..." Stefany menggelengkan kepalanya, sementara Will hanya manggut-manggut saja.


Will sedang duduk di kursi taman kampus menunggu supir sang daddy menjemputnya. Namun tiba-tiba..


"nama kamu siapa..?" tanya seseorang dari belakang yang mana membuat Will langsung menoleh.


Will menatap malas kepada seseorang yang sekarang malah duduk di sampingnya tanpa permisi.


"nama gue Will, gue udah maafin lo jadi kita ga ada urusan lagi..." jawab Will bertubi-tubi.


"namaku Liam..."


"hmmm ok..." Will terlihat tidak peduli.


"kamu lagi nungguin siapa..?" tanya Liam lagi.


"aku kamu... aku kamu, kaku banget kaya besi bangunan..." Will sedikit tertawa menanggapi cara bicara Liam.


"yaudah lo lagi ngapain disini...?" tanya Liam lagi.


"nungguin jemputan gue..."


"gue duluan.." sambung Will melihat supirnya sudah datang.


Liam hanya tertegun di tempat duduknya melihat gadis gendut itu mengabaikannya, dia bertanya-tanya apakah gadis itu benar-benar tidak tau siapa dirinya dikampus ini.


Liam Joseph Abraham anak dari Roy Abraham yang merupakan seorang pengusaha berdarah Amerika. Roy menikah seorang wanita Indonesia bernama Sarah.

__ADS_1


Mereka memiliki dua anak yang tak lain salah satunya adalah Liam dan adiknya bernama Serra Hana Abraham.


Mereka lama bertempat tinggal di Amerika Serikat, namun beberapa tahun kebelakang mereka memilih untuk pindah ke Indonesia karena sang ibu yang menginginkannya.


__ADS_2