
Berminggu-minggu setelah pelarian Will dari Liam saat pulang ngampus, pria itu sepertinya tidak ada bosan-bosannya mengganggu Will. Walaupun perawakan Will gendut namun bisa di bilang gadis ini sangatlah cantik, hidung mancung, dagu lancip dan matanya yang tajam membuat auranya sangat berbeda. Kulitnya yang putih bersih menambah kerupawanan gadis ini. Namun dia tidak pernah percaya saat temannya mengatakan bahwa dirinya cantik. Dia selalu menjawab,
"cantik hatinya sih iya, mukanya enggak", selalu saja begitu. Dwi dan Stefany sampai bosan mengatakannya kepada Will.
Seperti saat ini mereka sedang asik makan di sebuah restoran dalam mall. Stefany dari tadi menjelaskan kenapa sahabatnya Will bisa di kategorikan sebagai gadis yang sangat cantik.
"hidung lo itu mancung banget, dagu lo lancip juga. Body lo itu juga bukan gendut, tapi gempal aja"
"sama aja" jawab Will acuh.
Dwi jadi geregetan "bedaaaa Will"
"coba ni ya gue liat" kata Stefany sambil menarik Will untuk berdiri dan menyuruh gadis itu berputar-putar.
"kann lo itu gak gendut sebenarnya, perut lo rata aja cuma pinggul lo lebar sama booty lo montok banget" jelas Stefany.
"kalo kata Meghan Trainor sih boys like a little more booty to hold at night lah" sambung Dwi.
"ah sama aja, ngaco lu pada" kesal Will.
"ah serah lo aja deh, cape gue" kata Stefany.
Pulang kerumah adalah hal paling di tunggu Will sepanjang hari. Dia ingin merecharge energinya setelah bertemu orang banyak seharian, apalagi sang senior Liam yang gencar menghadangnya saat sudah waktunya pulang.
Sore ini Will tiba di rumah jam setengah 6, dan ternyata sang Daddy sudah menunggu lama di taman belakang tempat mereka biasa berbincang dan bercerita.
"nona Will, tuan sudah nunggu di taman belakang" ujar bibi.
"Daddy udah lama bi??" tanya Will sambil meneguk tandas air yang di berikan bibi kemudian mengucapkan terimakasih.
"lumayan non" sahutnya.
Will meletakkan bawaannya di meja dapur sembarangan demi menyusul David di taman. Dia sangat merindukan pria satu-satunya dalam hidupnya itu, yaa setidaknya satu-satunya untuk saat ini.
Seseorang memeluk David dari belakang dan mengecup pipinya, dia tahu itulah adalah kesayangannya.
"kok baru pulang anak daddy??" tanyanya sambil mengelus tangan Will.
"baru main ke mall sama Dwi sama Stefany juga dad" jawabnya.
David melirik wajah Will yang di letakkan di bahunya "tumben" katanya.
Gadis itu beranjak dari belakang David dan duduk di sebelahnya.
"kan Daddy yang suruh buat main ke mall dan habisin duit Daddy"
David tertawa mendengar jawaban putrinya. Kenapa putriku ini lugu sekali pikirnya.
"ayo masuk, udaranya sudah mulai dingin" ajak David sambil merangkul leher Will dalam ketiaknya.
"hmmmpp Daddy bau masam, belum mandi ya dad??" teriak Will dalam rangkulan itu.
David hanya tertawa dan semakin mengapit kepada Will sampai mereka tiba di pintu belakang dan akhirnya Will bisa bernafas lega.
"daddy kok bau sih" kata Will menjepit hidupnya dengan jari jempol dan telunjuknya sambil menjauh.
"bener gak mau dekat Daddy??"
Will berlari menaiki tangga sambil berteriak "gak mau ah!! ternyata yang bau bukan Daddy tapi Will. Will mau mandi dulu".
__ADS_1
David geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya itu.
"makan malam apa bi??" tanya David pada bibi yang di ketahui bernama Nida itu yang berusia 48 tahun.
"nona Will tadi pagi pesan tumis kangkung, cumi goreng sama sambel bawang tuan" jawan bi Nida menjelaskan.
"kemaren baru panen kangkung bi??" tanya David lagi.
"iya tuan, banyak sekali sampe di bagi-bagi sama tetangga"
David sebenarnya heran kenapa gadisnya ini sangat suka bercocok tanam. Segala jenis tanaman ada, mulai dari buah-buahan, kacang-kacangan, sayur-sayuran bahkan sampai buah-buah yang hanya tumbuh di daerah-daerah tertentu dia punya.
Contohnya buah Binjai yang berasal dari Kalimantan Selatan, unik memang namanya karena sama dengan sebuah kota di Sumut. Buah matoa yang berasal dari Papua dan banyak lainnya. Will susah payah merawat tanaman-tanaman ini agar bisa tumbuh di ibu kota.
Padahal kalau Will ingin, David bisa membeli sayur dan buah-buahan itu untuknya setiap hari sebanyak yang dia mau. Tapi dia kembali berfikir namanya juga hobby.
"sayur yang kemarin udah di bagiin bi??" tanya Will sembari menyimpan piring kotor di dalam wastafel.
"sudah non" sahut bibi.
Sudah pukul 09.00 malam, Will sedang menonton series kesukaannya bersama sang daddy. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang membuat keduanya menoleh kearah pintu.
"biar daddy aja" kata David, karna memang jika malam hari hanya ada Will dan David di rumah, serta satpam yang berjaga di gerbang yang jaraknya agak jauh dari pintu utama rumah.
"malam om, maaf saya ganggu" sapa Liam.
"ada apa malam-malam kerumah saya?" tanya David dingin.
"ehh itu om, ada yang mau saya sampaikan sama Will" jawab Liam ragu.
"apa?" tanya David yang mana membuat Liam berfikir lama.
Dari belakang kepala seseorang menyembul dari samping lengan David dengan piyama abu-abu dengan gambar hello Kitty berwarna pink disana, serta bando berwarna biru membuat Will terlihat sangat menggemaskan di mata Liam.
"kak Liam??" sambungnya lagi.
"itu teman kamu katanya ada yang mau di omongin" jawab David.
"daddy masuk duluan, suruh temannya masuk juga Will" sambung David sambil berlalu.
Will menoleh melihat daddynya masuk kedalam rumah kemudian mendekat kepada Liam.
"ada apa kak??" tanya Will heran. Kenapa pemuda ini aneh sekali pikirnya.
"besok pagi aku jemput ya, kebetulan tadi lewat sini jadi aku mampir aja bilangin itu"
"HAH!" Will tertawa sumbang sedetik kemudian.
"kesini cuma mau bilang itu doang?" Will kesal bercampur geli. Apa-apaan pria ini batinnya.
"aku balik ya" kata Liam kemudian pergi sebelum gadis itu sempat menjawab. Will hanya menatap heran kepergian pria itu lalu masuk ke rumah.
Dan benar saja, beberapa menit lalu bi Nida melaporkan bahwa sudah ada pemuda menunggu di depan rumah. Will ingin kabur saja tapi tidak mungkin dia memanjat dinding di sekeliling rumahnya yang tingginya 15 meter itu.
"saya berangkat sama anaknya ya om, pasti di jagain" pamit Liam.
David disana hanya mengangguk setelah melepaskan pelukan putrinya.
Setibanya di parkiran kampus, Will yang biasanya langsung pergi terlihat diam saja kali ini. Membuat Liam heran, apa gadis ini kesurupan atau bagaimana.
__ADS_1
Will menarik ujung baju Liam, di sudah menimang-nimang ini tadi malam. Dia harus menanyakan hal ini.
"ada apa hmm?" tanya Liam mendekatkan wajahnya kepada Will membuat gadis itu mundur otomatis.
Setelah mengumpulkan keberaniannya, Will akhirnya buka suara.
"kenapa kak Liam begini sama aku??" tanya Will.
"begini bagaimana??"
"ya begini, aneh aja gitu masa kak Liam baik terus sama aku"
"memangnya kenapa?" tanya Liam yang berhasil membuat gadis itu mendongakkan kepalanya.
"memangnya kenapa??!!" bentak Will.
"kalo aku baper gimana?? Kakak beberapa bulan ini sering nganter jemput aku, bahkan nyamperin kerumah segala, sok dekat sama daddy aku juga" cerocos Will dengan mata tertutup saking kesalnya.
Liam tertawa dalam hatinya, sangat menggemaskan pikirnya.
"kalo ternyata aku suka sama kamu gimana??"
Will memutar bola matanya, tidak mungkin pikirnya.
"hahaha kalo ngelawak jangan pagi-pagi kak" jawab Will.
"kok ngelawak??"
"ya mana mungkin kakak suka sama aku!!" Jawab Will garang.
Sulit sekali meluluhkan gadis ini pikir Liam. Tapi dia tidak tau bagaimana Will setiap malam membayangkan dirinya dengan Liam, hanya saja Will sangat pintar membentengi dirinya dan perasaannya.
"udah gak usah di bahas dulu, gih masuk kelas nanti telat lagi" kata Liam sambil mengusap pucuk kepala Will.
Will akhirnya berlalu meninggalkan Liam yang masih terpaku disana memandang kepergian Will. Liam sebenarnya tidak ada kelas hari ini, karena dia tinggal menunggu jadwal sidang skripsi saja.
"gimana??" tanya Rian.
"apanya??" tanya Liam balik.
Bethany datang tiba-tiba dengan tangannya yang penuh dengan barang-barang dan makanan.
"nih makan lo berdua, hasil masakan gue pagi ini" tukas Bethany dengan wajah berseri. Berbeda dengan kedua mahkluk yang ada di hadapannya sekarang, wajah mereka terlihat pias. Ini bukan pengalaman pertama mereka dijadikan kelinci percobaan oleh Bethany.
"gue udah sarapan!!!" jawab Liam dan Rian serempak setengah berteriak.
"cobain aja, gak usah di abisin" tawar Beth lagi.
Wajah kedua pria itu semakin pias, terakhir kali mereka memakan masakan sahabatnya ini mereka diare sampai 3 hari.
"di jamin gak bakal diare deh" sambung Beth.
Liam dan Rian saling tatap dan akhirnya mereka memberanikan diri untuk mencicipi makanan di hadapan mereka ini. Keduanya mengernyit.
"ini nasi di garemin atau garem di nasiin si?" teriak Rian yang seketika mendapat tabokan keras di punggung dari Beth.
"kok keasinan sih??" heran Beth. Perasaan waktu dia mencicipi tadi rasanya sudah lumayan, hanya kurang asin sedikit yang mana membuat dia terus menambahkan garam. Namun dia heran kenapa rasanya sama saja setelah di tambahkan garam.
"yang lo cicipin yang di sendok lo kali, bukan yang di kuali" kata Rian.
__ADS_1
"masa iya??" pikir Beth lagi membuat kedua pria itu yakin bahwa teori Rian tadi adalah benar.
Kedua pria itu berakhir di toilet memuntahkan apa yang sudah di berikan Bethany kepada mereka.