
Hari ini acara wisuda akan di selenggarakan, Liam sebagai Presma tentunya mendapatkan banyak perhatian dari warga kampus. Banyak yang penasaran dengan siapa pria tampan itu akan berpasangan di hari ini.
Liam mengemudikan mobil mewahnya, membelah hiruk pikuk jalanan ibu kota menuju rumah gadis yang akan menjadi gandengannya hari ini. Dengan jas rapih berwarna hitam, dasi abu-abu menggantung di lehernya, dia tampak sangat siap menjemput gadis itu.
Sampai di depan sebuah gerbang dengan tinggi kurang lebih 8 meter berwarna hitam dengan corak emas, terlihat sangat elegan dan mewah. Liam membunyikan klakson mobilnya dan tak berapa lama datang seorang security menghampiri.
"wah tuan Liam sudah datang. Tuan tampan sekali" canda satpam itu yang di ketahui bernama Ogi.
"bisa aja pak Ogi" sahut Liam tertawa kecil.
Mobil Liam masuk kedalam pekarangan rumah yang terbilang sangat luas itu setelah pak Ogi membukakan gerbang tadi.
Pria itu turun dari mobilnya. Melangkah menuju pelataran rumah megah itu lalu berniat mengetuk pintu. Tepat sebelum jari Liam menyentuh permukaan pintu untuk mengetuk, pintu lebih dulu terbuka dan sebuah kepala menyembul dari dalam.
"kak Liam udah datang ya? aku belum selesai, tunggu sebentar boleh?" tanya gadis itu yang tak lain adalah Will.
"gapapa, akunya yang datang kecepetan. Lanjut aja dandannya" jawab Liam.
"yaudah kak Liam tunggu di dalam aja" tawar Will.
Liam mengangguk lalu mengikuti langkah Will kedalam. Liam memandang Will berlari kecil menuju lantai atas. Gadis itu masih memakai baju rumahan dengan rambut basah, sepertinya dia baru selesai mandi.
Setidaknya sekitar 45 menit Liam menunggu sendirian disana, lalu ia mendengar suara sepatu beradu dengan anak tangga berbahan marmer. Liam mengalihkan pandangannya saat mendengar suara nyaring itu dan mendapati Will sedang menuruni anak tangga.
Dress di bawah lutut berwarna merah maroon dengan lengan panjang dan model leher turtle neck menempel sempurna di tubuh gadis itu. Di padukan sepatu boot berkancing berwarna hitam ber hak tinggi menyempurnakan penampilan Will.
Rambut panjang dan bergelombang Will di urai menambah keseksiannya. Liam terpaku memandang gadis yang akan menjadi gandengannya itu. Penampilannya terlihat agak jauh berbeda dengan kesehariannya yang biasanya terlihat tomboy.
"Sudah siap?" tanya Liam setelah kesadarannya kembali. Will hanya menjawab dengan anggukan.
Liam membukakan pintu mobil untuk gadis itu lalu melanjutkan perjalanan ke gedung dimana acara wisuda di adakan.
__ADS_1
Jam 3 sore serangkaian acara sudah rampung, hanya tertinggal acara-acara hiburan. Namun Liam memutuskan untuk pulang duluan bersama Will.
Dalam perjalanan Will bingung, ini bukan jalan menuju kediamannya.
"kita mau kemana kak??" tanyanya.
"ke tempat yang kamu pasti sukai" Liam melemparkan tatapan yang sangat teduh kepada Will membuat gadis itu terhipnotis dan menganggukkan kepalanya begitu saja.
Mereka tiba di sebuah perkebunan yang sekaligus terlihat seperti taman yang sangat-sangat luas. Banyak bunga dengan berbagai macam warna dan juga tanaman-tanaman pangan seperti cabai yang juga berwarna-warni dan berbagai jenis sayuran.
Will turun dari mobil dan pemandangan di depannya seketika membuatnya terpaku. Dia kemudian menoleh kepada Liam, tatapannya seolah meminta persetujuan untuk menuruni anak tangga menuju taman tersebut.
"Kakak tau darimana tempat seperti ini??" tanya Will masih terpesona dengan keindahan di depannya.
"ini punya keluarga aku, aku sering kesini kalo lagi stress atau bosan" jawab Liam.
"wahhh bagus banget, aku betah kalo disuruh tinggal disini" gadis itu meneliti tanaman-tanaman apa saja yang ada disana.
Will menganggukkan kepalanya keras sebagai jawaban, pikirannya terlalu sibuk mengenali jenis-jenis tanaman itu semua.
"ini yang ngurus kakak sendiri??" tanya Will.
"duduk disini dulu biar aku ceritain" titah Liam.
Mata Will mengerjap menanti Liam memulai ceritanya.
"kebun ini dulu punyanya Oma aku, beliau suka sekali tanam-tanaman" belum selesai Liam berbicara, Will sudah menyambar.
"jadi semua ini Omanya kakak yg ngurusin??" tanya Will dengan merentangkan tangannya menggambarkan luasnya taman itu.
Liam menoleh sambil tersenyum melihat Will sangat antusias.
__ADS_1
"banyak karyawan Oma disini yang bantuin, dan semua hal yang ada di dalam taman ini ada atas kehendak Oma. Gak boleh ada tanaman baru tanpa sepengetahuan Oma" jelas Liam.
"wahhh Omanya kakak keren, aku juga punya taman sekaligus kebun di belakang rumah. Tapi gak seluas ini sih"
"sekarang mama yang sering ngurusin kebun ini" Liam melanjutkan ceritanya sementara Will mendengarkan dengan seksama.
"semenjak Oma pergi, taman ini jadi tanggung jawab mama. Mama kebetulan juga seneng dengan hal-hal berbau tanaman gini"
"Omanya kakak pergi kemana??" tanya Will dengan wajah polosnya. Namun sedetik kemudian dia sadar setelah melihat tatapan Liam.
"OH! Maaf kak, aku gak bermaksud" Will tersenyum kikuk.
"gapapa, Oma udah pergi sejak 7 tahun lalu. Kalo beliau ketemu kamu pasti dia senang" Senyuman Liam terlihat sangat tulus dan menenangkan.
Mereka terdiam lama, hanyut dalam pikiran masing-masing. Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Hingga akhirnya Liam buka suara.
"Will" Liam memanggil.
"hmmm? kenapa kak?" Will menoleh sebentar kemudian kembali melemparkan pandangannya ke hamparan taman di hadapan mereka.
Liam tiba-tiba menggenggam tangan Will yang berada di atas lututnya. Gadis itu terkejut, ia menoleh ke wajah Liam kemudian menatap tangannya yang sedang di genggam oleh Liam.
"kamu mau gak jadi pacarku??" tanya Liam.
Will bingung.
"kenapa kak??" bukannya menjawab gadis itu malah balik bertanya.
"kenapa apanya hmm?" tanya Liam dengan tenang.
"kenapa kakak suka aku dan bahkan sekarang mau jadiin aku pacar??" wajah Will terlihat serius.
__ADS_1
"apa aku harus butuh alasan untuk menyukaimu??"