
Sudah masuk bulan ke 3 semenjak Will memulai perkuliahan disini. Tidak banyak yang terjadi, hanya rutinitas biasa yang sangat membosankan bagi Will. Tapi ada satu yang membuat gadis itu heran hingga saat ini, kenapa sang Presma idola para wanita kampus sangat tertarik untuk mengobrol dengannya akhir-akhir ini. Sampai-sampai dua sahabatnya itu berfikir kalau Liam suka kepada Will, tentu saja kepala Dwi dan Stefany langsung mendapat keplakan tidak alang-alang dari Will karna sudah berani memikirkan hal mustahil begitu.
"ga ada yang mustahil Will, kalo udah cinta mah mau bentukan kita kaya onde-onde juga ga jadi masalah" Stefany masih kekeh dengan pendapatnya. Dwi hanya ngangguk-ngangguk membenarkan pernyataan Fany.
"apaan! kok malah ngomongin dia mulu"
"yaa abisnya kak Liam ngegebet lu mulu, lo malah ga percaya" Dwi dengan mulut penuh makanan berkata.
"siapa yang ngegebet siapa dah! ga ada gebet-gebetan, ngaco lu pada" kesal Will.
Di lorong kampus..
"mau pulang??" tanya seseorang membuat Will yang baru keluar dari toilet terkejut hingga terlonjak sedikit kebelakang.
"kakak ngapain diri di depan toilet cewe, entar dikira mau ngintip malah di gebukin lagi" Liam tertawa mendengar sahutan gadis itu.
"emang ada yang berani gebukin aku disini??"
Will memandang keki pria itu "mentang-mentang Presma" jawabnya.
"mau pulang bareng gak?? aku anter." tawar Liam.
"gak usah kak, aku ada yang jemput kok" Jawab Will sambil melangkah.
"kita pulang sebelum supir kamu datang, ayo" Liam menarik tangan gadis itu. Will tertawa, dia merasa sedang di ajak kawin lari saja. Eh!
"jangan kak, kasian Supir aku udah capek-capek jemput " Will mencoba menarik tangan.
Liam memandang gadis berperawakan gempal itu, tangan mereka masih bertautan.
"kenapa gak pernah mau aku ajak pulang bareng?" tanyanya.
"karna aku udah ada yang jemput " jawab gadis itu santai. Liam jadi gemas sendiri ditolak mentah-mentah oleh gadis dihadapannya ini.
"ck..!" Liam berdecak kesal lalu mendekati Will. Dia membungkuk dan membawa gadis itu di pundaknya, persis seperti sedang menculik orang.
Will kaget buka main, kampus memang sudah sepi ini sudah jam 5 sore. Tapi tetap saja dia malu, dia merasa terlalu berat untuk di gendong seseorang. Will meronta dalam gendongan itu.
"KAK!!! GAK LUCU!!!" Will berteriak.
"TURUNIN GAK? MALU KAK!!!"
Liam tidak menggubris gadis itu. Dia tetap berjalan santai menuju tempat dimana motor gedenya diparkirkan.
"naik!" kata pria itu setelah menurun gadis itu tepat di samping mogenya. Will menatap Liam kesal, tatapannya seolah berkata apa-apaan dia nyuruh nyuruh gue, siapa dia??
"gak!" Tegasnya.
"mau naik sendiri atau dinaikin??"
Kalimat itu terdengar seperti ancaman bagi Will. Dia sangat kesal, kenapa pria ini sangat memaksanya. Akhirnya dia naik juga.
"ngapain tasnya ditaro depan?? aku ga semesum itu kali" kepala Liam berbalik melihat Will memeluk tasnya di depan.
__ADS_1
"gak ah takutnya ada polisi tidur terus ngerem mendadak"
"pede banget" sekarang Liam memperhatikan ekspresi Will dari spion motornya. Gadis itu nampak mengomel tanpa suara. Menggemaskan sekali begitu kata Liam dalam hatinya namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya.
Dalam perjalanan mereka diam saja, tak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan atau mungkin keduanya terlalu canggung.
"rumah kamu arahnya yang mana??" tanya Liam akhirnya saat mereka sedang berhenti di pertigaan.
"makanya kalo gatau tuh ga usah sok-sokan mau nganterin"
"ke kiri kak, kalo enggak turunin disini aja ntar bisa pulang naik angkot. Rumah aku jauh masuk gang motor kakak gak bakalan muat" Tetap memberikan arah walau terus berceloteh.
Akhirnya kedua manusia ini sampai juga di depan rumah Will. Will segera turun dari motor Liam, lebih tepatnya meloncat yang mana membuat Liam kaget.
"gede banget gang rumah kamu, sampe mobil pun muat" kata Liam sarkas.
"makasih kak, lain kali gak usah repot-repot" Will menunggu pria itu pergi.
"gak di tawarin masuk nih??"
"gak usah, anjing di rumahku galak"
Will kesal sekali, kenapa makhluk di hadapannya ini tidak pergi saja.
"yaudah sana" kata Will lagi namun suaranya sangat kecil seperti tidak enak hati mengusir pria itu.
Liam masih kekeh di tempatnya tidak bergerak sedikitpun, dia masih memandang gadis di depannya.
"kak? ngapain lagi??? yaudah sana pulang" Will jadi kesal lagi.
Will malu sekali, sepertinya dia yang benar-benar kege-eran. Seperti adegan-adegan dalam film, Liam membantu Will membuka alat pelindung kepala itu.
"besok aku jemput ya" tawar Liam.
"ga usah kak, besok aku ga ngampus soalnya ga ada kelas" jawab Will cepat. Liam hanya mengangguk dan berlalu begitu saja tanpa mengatakan apa-apa lagi.
Pagi pukul setengah delapan seorang pelayan datang menghampiri Will yang sedang sarapan dengan sang daddy.
"nona Will, ada yang menunggu di depan" kata pelayan itu.
Will bersitatap dengan David, kemudian menoleh.
"siapa bi??" tanyanya.
"saya tidak tau non, pokoknya laki-laki bawa motor gede" jawab bibi.
"siapa Will???" tanya David.
Will dongkol sekali, dia ingin izin tidak masuk kuliah agak tidak ketemu dengan Liam tapi dia takut pada sang daddy.
"gak tau dad " Will mengangkat bahunya.
Akhirnya setelah sarapan, Will keluar dengan David menuju mobil masing-masing. Dan ternyata masih ada Liam di depan pintu. Will tadi sengaja tidak menemui Liam berharap pria itu akan pergi saat dia keluar.
__ADS_1
"halo om saya Liam " Liam menunduk sambil menyalami tangan David.
"oh iyaa, kamu temannya anak saya??"
"iyaa om, saya izin pergi ngampus bareng anaknya yaa om" pinta Liam. Will diam saja sambil bersandar di pilar rumah mereka.
"terserah Will aja, asal anak om di jaga yaa" jawab David.
"siap om" sahutnya.
"ayo Will, nanti telat. Temennya udah nungguin"
"Daddy!!!!!" Will merengek menghentakkan kakinya.
David jadi bingung dengan situasi ini.
"kenapa sayang" tanya David dengan polosnya.
Will mendekat kepada David dan berbisik,
"ini orangnya yang kemarin maksa Will ikut pulang sama dia dad" David menoleh kearah Liam kemudian tersenyum. Pasalnya tadi malam David bertanya kenapa supir Will pulang tanpa dirinya.
"oh ganteng anaknya" bisik David balik.
"ihhhh daddy!!!" Will semakin merengek melihat sang daddy menggodanya, sementara Liam hanya senyum-senyum di hadapan mereka tanpa tahu apa yang sedang mereka bisikkan.
"yaudah sana udah mau telat, mending naik motor biar bisa nyelip-nyelip kalo ada macet" kata David.
"betul kan Liam??" tanyanya lagi.
"eh betul om" jawab Liam spontan, pasalnya pria itu daritadi melamun sambil memandang Will.
"Daddy gak jelas ah" Will menggerutu dalam pelukan David kemudian melangkah menuju Liam.
Liam memasangkan helm ke kepala Will dan mengajak gadis itu naik ke motor gedenya. Mereka menempuh perjalanan tanpa ada percakapan.
Setibanya di parkiran kampus, Will turun dan siap untuk berlaku setelah mengucapkan terimakasih kepada Liam, namun Liam menarik tas gadis itu yang mana membuat langkahnya menggantung.
"nanti pulang kuliah sama aku ya, aku tunggu di parkiran sini" kata Liam.
Will tampak berfikir sejenak kemudian dia menjawab,
"oke kak" jawabnya.
Dan setelah semua kelas Will kelar, gadis itu berlari menuju gerbang kampus sebelum bis tujuannya pergi. Namun belum juga sampai di gerbang, sebuah kendaraan berhenti tepat di hadapannya. Pemuda itu menatapnya tajam.
"mau kemana??" tanyanya.
Will tidak menjawab, dia berbelok sedikit dan melanjutkan larinya menuju bis. Bahkan larinya kali ini nampak lebih laju. Dia menoleh kebelakang dan melihat Liam ternyata Liam mengikuti, dia mengencangkan laju larinya lagi menuju bis yg hanya berjarak 2 meter saja lagi dan akhirnya di berhasil naik kedalam bis.
Will menatap Liam dari jendela bis dan tersenyum mengejek.
"Gendut tapi kok larinya kenceng banget" gumam Will sambil menggelengkan kepalanya melihat bis yang ditumpangi Will berlalu.
__ADS_1
Sementara di dalam bis Will ngos-ngosan.
"uannnjirrr berasa di kejar hantu" gumamnya sambil tertawa mengingat lucunya saat Liam menatapnya keheranan tadi.