
Will berkurung diri di dalam kamar, tentu saja kejadian hari ini menoreh luka dihatinya. Dia yang sudah benar-benar percaya kepada Liam justru harus mengetahui kebenaran menyedihkan itu. Dia hanya dijadikan bahan taruhan oleh Liam dengan sahabatnya.
"bodoh bodoh..." Will merutuki diri sendiri.
Kini kian menumpuklah rasa ketidakpercayadirian Will. Dia semakin yakin tidak akan ada yang tulus mencintainya kecuali sang Daddy. Benar! separah itulah insecurity seorang Will.
"dad..." Will melihat David masuk kedalam kamar Will dengan pakaian santainya.
"anak daddy kenapa hmm?" tanya David sambil mengusap kepala Will.
Will berfikir apakah dia harus bercerita kepada daddy atau bagaimana.
"tidak kenapa-kenapa" Will menjawab dengan manja. Akhirnya dia memutuskan untuk tidak bercerita.
Tentu saja David tidak percaya begitu saja, dia mengenal putrinya lebih baik dari siapapun bahkan dari diri Will sendiri.
"kalau kau ingin bercerita daddy pasti akan mendengarkan, kalau belum mau daddy akan menunggu" kata David kemudian mengecup kening putri semata wayangnya.
"jangan terlalu lama bersedih, daddy tidak suka melihatnya. Tidurlah, jangan lupa berdoa." katanya lagi sambil menyelimuti tubuh Will.
Will menganggukkan kepalanya. Sedari tadi dia sudah menahan laju air matanya, melihat betapa besar cinta ayahnya kepadanya membuat dia merasa bodoh, kenapa harus menangisi brengs*k itu.
.
.
.
flashback continued..
"lo pacarin aja" pungkas Rian tiba-tiba. Bethany dan Liam sontak menoleh kepada Rian kaget.
"gak waras" kata Beth setelah kekagetannya memudar.
Rian memang seorang yang sangat suka tantangan, dia terkenal sebagai seorang bad boy dikalangan wanita kampus.
__ADS_1
Liam dengan malas akhirnya buka suara juga.
"lo aja, gue malas pacar-pacaran" kata Liam.
"kan gue punya saham tuh berapa persen di perusahaan lo, nah kalo lo bisa macarin tu cewe gue balikin deh tuh saham" tawar Rian.
"anak orang kaya emang yaa, beginian aja sampe pertaruhin saham" Liam hanya bisa geleng-geleng kepala, dia belum menganggap serius ajakan Rian tadi.
"lagian biar apa sih nyuruh gue macarin dia??" tanya Liam lebih lanjut.
"ya biar ga gimana-gimana sih, penasaran doang gue masa cewe itu gak takluk melihat ketampanan Presma kita ini" jawab Rian sambil menggoyang-goyangkan alisnya sebelah.
"gak usah macem-macem deh Rian, gak suka gue yang begini-beginian" protes Beth.
Namun di pikir-pikir tidak ada salahnya mencoba pikir Liam lagi. Dia tidak tau ternyata bukan hanya Will yang akan terjebak dalam permainan mereka, Liam juga ikut terjebak dalam perasaanya sendiri.
Flashback off..
Tiga bulan sudah setelah tragedi terbongkarnya rahasia Liam tepat di depan mata Will, kini Will sudah terlihat baik-baik saja. Dia memilih untuk fokus kepada diri sendiri dan keluarganya sekarang. Sebagai satu-satunya pewaris David, Will tentu saja harus mempersiapkan diri untuk mengemban tugas yang akan di serahkan kepadanya setelah dia menyelesaikan pendidikannya.
Will dengan ceria berputar-putar di hadapan David, menambah haru hati David.
"persis seperti dirimu sayang", ucap David dalam hati.
"ayo berangkat dad, sudah hampir jam 8" ucap will. Malam ini mereka akan menghadiri pesta ulangtahun pernikahan salah satu kolega David. Will di ajak untuk sekaligus mengenalkannya sebagai penerus David.
Di dalam mobil yang di kemudikan oleh David sendiri Will terus mengoceh seperti anak kecil yang penuh pertanyaan.
"kali ini siapa kolega daddy yang pestanya akan kita hadiri dad??" tanya Will.
"tuan Tony sayang" jawab David singkat.
"yang kemarin datang ke perusahaan saat aku makan siang bersama daddy??" tanya Will memastikan.
"hmmm yang ituu"
__ADS_1
"beliau sudah tua sekali....." Will melanjutkan ocehannya yang kadang hanya di tanggapi dengan senyuman oleh David. Dia sangat gemas melihat putrinya ini kalau sudah bertanya-tanya seperti anak-anak.
Tibalah mereka di sebuah rumah nan megah, tidak jauh berbeda dengan rumah David dan Will. David menyerahkan undangan kepada penyambut tamu disana kemudian mengarahkan mereka ke tempat duduk.
"kau tunggu disini yaa, daddy akan menyapa teman daddy yang lain" kata David dan mendapat anggukan dari Will.
Gadis itu hanya duduk disana menantikan sang daddy, tadi waktu mereka baru masuk mereka sudah menyapa teman-teman sang daddy sebelum duduk.
Dari kejauhan ada sepasang mata yang tak berkedip memandang Will tanpa gadis itu sadari. Melihat Will yang asik mengotak-atik gawainya membuat sepasang mata itu leluasa memandang.
"mba toiletnya dimana ya??" Will bertanya kepada salah satu pelayan disana yang memakai baju seragam dengan pelayan lainnya.
"mari saya antar nona" tawar pelayan tersebut.
"tidak perlu, tunjukkan saja arahnya aku bisa sendiri" jawab Will. Kemudian pelayan wanita itu menunjuk kearah dimana toilet berada lalu gadis itu pun berterima kasih.
Sekitar 5 menit Will membereskan urusannya didalam toilet, kemudian keluar dari sana. Gadis itu terlonjak kala melihat seseorang berdiri tepat di hadapannya saat keluar dari toilet.
"kenapa lama sekali??" tanya pria dengan tingkat badan kira-kira 180cm itu.
Will awalnya tidak ingin menanggapi, namun tangannya malah di tarik saat ia akan berlalu.
"apa-apaan sih ka!!" protes Will.
"kau memanggilku kakak sekarang??" tanya Liam masih menggenggam erat pergelangan tangan Will.
"lepaskan tanganku sakit" Will mulia berbicara dengan nada datar.
Bukannya melepaskan tangan Will, Liam malah menarik Will ikut bersamanya.
"kau mau membawaku kemana, disini ada banyak orang kalau aku teriak bisa-bisa kau di massakan disini" Liam diam sama tidak menanggapi omelan gadis itu.
Tibalah mereka di sebuah taman. Sepi sekali disini. Padahal tempat ini sepertinya tidak jauh dari pusat keramaian pesta tadi.
Liam...
__ADS_1