
Flashback....
Beberapa hari setelah Will mabuk
"jadi siapa yang mengantarkanku pulang??" desak Will kepada dua sahabatnya.
"mana kita tau, kita aja nyariin kamu dimana-mana
ga ada waktu itu. Kami kira kau pulang dengan supirmu" jelas Fany.
Benar juga, kenapa aku tidak menanyakan daddy kemarin batin Will.
Sore hari setelah pulang dari kontrakan Dwi, Will mendatangi ayahnya yang terlihat sedang berdiam diri di tengah taman buatan Will, gadis ini berniat untuk menanyakan siapa yang mengantarkannya pulang di malam dia mabuk.
"daddy.." Panggil Will.
"kau sudah pulang?? kenapa sore sekali??"
"tadi dari kontrakan Dwi dad, jadi lama karna ngobrol. Biasalah" jawab Will.
Will melangkah menjauh setelah memeluk dan mencium kedua sisi pipi David. Gadis itu mengambil selang yang biasa ia gunakan untuk menyirami tanaman-tanamannya. Sementara David hanya melihat Will dari tempat duduknya.
"kau jadi ingin pindah sayang??" tanya David.
Will sedikit berfikir, sepertinya agak terlambat untuk mengatakan tidak sekarang, semua berkas terkait kepindahannya beberapa bulan lagi sudah rampung.
"jadi dad, memangnya kenapa?" tanya Will balik.
"tidak apa-apa, hanya saja kau belum mengatakan alasanmu mau pindah" ujar David.
"tidak ada alasan khusus dad, aku hanya ingin suasana baru"
__ADS_1
"benarkah??" selidik David.
Will mengangguk pasti mengisyaratkan tidak ada keraguan.
Sore itu berakhir dengan keduanya saling merangkul menuju rumah, Will lupa menanyakan apa yang menjadi tujuannya tadi.
Flashback off..
Ingatan Will mulai berputar pada malam dia mabuk beberapa bulan lalu, potongan demi potongan memori mulai memenuhi kepalanya. Disaat gadis itu menarik kerah Liam sedikit paksa dan mencuri ciuman dari bibir tipis Liam. Astaga sungguh memalukan pikirnya. Sedetik setalah kesadarannya kembali, Will berbalik dan berlari sekuat tenaga mengejar Liam yang sudah hilang dari pandangannya.
"kemana si bodoh itu" gumam Will bertolak pinggang sambil mengatur nafasnya.
Di sisi kiri mata Will menangkap sosok yang di carinya dari tadi sedang duduk di sebuah kursi panjang menikmati kopi di tangannya.
"hah!" Will terengah-engah setelah berhasil tiba di hadapan Liam.
Liam mendongak dan mendapati Will sedang bertumpu pada kedua lututnya. Pria itu menatap heran, namun tetap diam saja. Sepertinya masih kesal dengan kejadian di depan toilet tadi.
"hei! kenapa diam saja?" tegur Will.
"hisssss kau ini" kesal Will melihat Liam mengacuhkannya.
Will kemudian duduk setelah nafasnya sudah teratur, namun Liam masih enggan menatap gadis di sebelahnya.
"maaf" ucap Will.
"hmmm"
Will membulatkan matanya mendengar respon Liam, hah!! sia-sia aku lari-lari ternyata responnya begitu pikir Will.
Saking kesalnya, Will beranjak dari duduknya dan berniat kembali ke ruang tunggu dimana David berada. Tapi baru juga selangkah kakinya menjauh, tangannya sudah di genggam oleh mahkluk di belakangnya.
__ADS_1
"mau kemana??" tanya Liam.
"mau kemana lagi?? aku harus berangkat 30 menit lagi" jawab Will.
"kau akan pergi begitu saja? sudah ingat??"
"begitu saja apanya, aku sudah lari-lari hampir setengah bandara ini mencarimu dan kau masih bilang begitu saja?? dan aku tidak ingat apa-apa" kesal Will panjang lebar.
"kenapa kau harus pindah??" tanya Liam tidak merespon kekesalan gadis itu.
Will yang sudah kesal ditanyai itu terus mendengus.
"memangnya kenapa kalau aku pindah?? tidak ada masalah kan??" Will malah balik bertanya.
Liam diam saja dengan masih menggenggam tangan Will erat takut gadis itu melarikan diri dari hadapannya.
"tapi kenapa kau pindah??"
"hisss memangnya kenapa kalau aku pindah?? kau akan kesepian atau bagaimana??" isi percakapan mereka penuh dengan tanda tanya, seolah ada yang di tersembunyi dalam hati mereka dan bodohnya mereka tidak menyadarinya.
Liam diam saja, dia juga bingung kenapa dia sangat tidak ikhlas melihat kepergian gadis itu.
"apa kau menyukaiku??"
Pertanyaan itu berhasil lolos dari bibir tipis Liam.
Will seketika kembali mendudukkan dirinya, sepertinya ada yang belum benar-benar beres antara mereka berdua.
"kenapa kau masih bertanya?? jelas aku menyukaimu itulah mengapa aku mau berpacaran denganmu walaupun sebenarnya kau ternyata membodohiku" penjelasan Will jelas mengandung sindiran. Liam tidak menyangka gadis ini akan menjawab secara gamblang dan tidak malu-malu.
"lalu kenapa kau pergi??" tanya Liam lagi yang berhasil menyulut percikan emosi Will.
__ADS_1
"memangnya kau mau aku bagaimana?? terus disini dan menunggumu untuk benar-benar mencintaiku?? atau kau ingin aku mengejar-ngejarmu?? begitu?? maaf sendalku gampang putus" mendengar jawaban itu akhirnya Liam mendapatkan kesimpulan bahwa sebagian besar alasan mantan kekasihnya itu pindah adalah karena dia dan perbuatannya.
TBC