Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
CHAPTER 8


__ADS_3

"bukan begitu maksudku" Will melepaskan genggaman tangan Liam.


"aku hanya berfikir, kenapa seorang Liam bisa menyukai gadis sepertiku" lanjutnya.


Liam diam mendengarkan Will mengutarakan isi hatinya.


"jelas aku ini jauh dari standar wanita cantik. Aku gendut." Will menghembuskan nafasnya keras, seolah semua yang barusan dia katakan adalah beban hatinya yang telah terangkat.


"boys like a little more booty to hold at night" Liam mengerlingkan matanya membuat Will kaget, alih-alih kaget karena ternyata orang kaku seperti pria ini bisa bercanda, Will justru kaget karena ingat salah satu sahabatnya juga pernah bilang begitu.


Will diam begitu pun Liam. Mereka kembali mengarungi pikiran mereka masing-masing sambil menikmati indahnya taman ini.


"kalau gak mau jawab sekarang, aku akan tunggu sampai kamu mau" Liam buka suara.


Will diam saja menanggapi, dia sibuk dengan pikirannya.


"bukan menunggu kau mau menjawab, tapi menunggu kau mau jadi kekasihku. Aku memaksa." sambung Liam menatap intens mata Will.


"aku mau" jawab Will tiba-tiba. Liam kembali memalingkan wajahnya kepada Will. Pria itu tersenyum penuh arti, namun Will justru menebarkan senyum kakunya. Dia merasa bodoh sangat mudah terintimidasi oleh Liam.


.


.


.


Sebulan sudah sejak kedua insan ini meresmikan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih. Will merasa sangat dicintai oleh pria ini. Perlakuannya yang selalu manis membuat perasaannya selalu membuncah saat mereka sedang berdua.


"ayo, aku sudah memesan restoran enak untuk kita makan siang" Liam menarik tangan Will. Pria itu sedang menjemput kekasihnya di kampus.


"makan mulu! ntar aku makin gendut ah kak" rengek Will.


"terus dengan gak makan emang kamu bakal tiba-tiba kurus??"

__ADS_1


"yaaa enggak juga" jawab Will lesu.


Kebahagiaan Will terlihat sangat nyata. Matanya berbinar, degup jantungnya menggebu seolah tiada hari esok. Ia ingin menghabiskan rasanya hanya untuk pria di sampingnya ini. Will lupa akan semua ketakutan yang awalnya selalu menghantui, sekarang hanya ada sukacita dalam raut wajahnya.


"bukain pintu dong Will, itu si Fany kayanya yang datang" Kata Dwi yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan bathrobe.


Will melangkah malas membukakan pintu rumah kontrakan Dwi.


"lama banget, darimana sih??" omel Will.


"abis jalan sama daddy lo" seloroh Fany sambil berlalu meninggalkan Will yang masih memegangi gagang pintu.


Will kemudian berlari mengejar Fany yang sedang berlari juga karena melihat kekesalan di mata Will.


"si Will sekarang bucin bangetttt" Fany buka suara saat mereka tengah santai menonton drama yang tidak tau sudah berapa kali mereka tonton.


"bucin apaan, biasa aja" sangkal Will.


"bucit banget lah pokoknya, Rama dan Shinta aja kalah ama lu berdua" sahut Dwi.


Will melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul 1 siang. Dia pamit kepada kedua sahabatnya untuk pergi ke kantor sang kekasih.


"tuhh baru aja di omongin, udah mau cabut aja" kata Fany saat mendengar Will pamit.


"kangennnn soalnya, terakhir makan siang bareng kan udah 2 Minggu lalu" Will cengengesan sambil berlalu.


"TERSERAH" Dwi dan Stefany memandang Will malas.


Di kantor Liam.


Liam sedang duduk di sofa bersama kedua sahabatnya Rian dan Bethany. Mereka tampak serius membahas sesuatu dan sesekali juga ada tawa di sela perbincangan mereka.


"ehhh ngomong-ngomong kayanya lu betah sama cewe lu" Rian tertawa kecil seolah ada ejekan disana. Liam hanya mengangguk.

__ADS_1


"udah biarin aja sih, sibuk aja lo" sewot Beth.


"bukan gitu, kan awalnya kita iseng-iseng doang nantanging si Liam" jawab Rian.


Bethany jadi tertawa mengingat awal mula terjadinya pertaruhan mereka itu.


"tapi kalo si Liam be...." suara sesuatu jatuh dari arah pintu mengejutkan ketiganya sampai perkataan Beth pun terpotong. Liam melihat seseorang berlari dari kaca ruangannya yang sudah dapat di pastikan itu adalah kekasihnya Will.


Liam secepat kilat berdiri dari duduknya lalu berlari mengejar Will. Sementara gadis itu kesal setengah mati menunggu lift yang tidak terbuka juga. Liam menarik tangan Will tepat setelah lift terbuka.


"jangan mengejarku, kita bicarakan ini lain waktu. Aku ingin sendiri" Will berbicara tegas. Tersirat rasa sakit dalam tatapan Will, suara tegasnya tidak bisa menyembunyikan getaran di dalamnya. Gadis itu terluka.


Liam hanya mampu terdiam dan mengangguk, dia berfikir Will memang butuh waktu sendiri sekarang. Nanti malam setelah semua pekerjaan selesai dia akan mendatangi kekasihnya itu.


Liam melanjutkan pekerjaannya. Dia ingin membunuh waktu rasanya, kenapa malam tibanya lama sekali. Dia berfikir bagaimana cara menjelaskan kepada Will tentang semuanya.


Sementara Will di tengah taman buatannya sendiri di belakang rumah, dia ingin menangis tapi dia merasa sangat bodoh harus menangisi lelaki yang sudah mempermainkannya. Terlihat senyum kekecewaan disana. Kenapa harus ketakutannya yang itu yang menjadi nyata. Bodoh sekali pikirnya.


Apa artinya semua ini, hampir dua bulan mereka menjalin kasih semuanya seolah sempurna bagi Will. Ketakutannya yang dahulu seolah sirna di tutupi oleh kesempurnaan Liam dalam memperlakukannya.


"kau bodoh Will, hanya Daddy yang mencintaimu tanpa celah" Will bergumam. Tak terasa air matanya berlinang. Dia benci perasaan ini, dulu hanya ada dia dan sang daddy. Sekarang ada pria asing yang mengaku mencintai namun nyatanya semua hanya omong kosong.


"aku benci diriku" gumam Will lagi sambil menghapus kasar air matanya.


Sampai jam 8 malam Will masih betah duduk di tengah taman tersebut, lampu-lampu indah sudah mulai menyala sejak 2 jam yang lalu. Seseorang duduk di sebelahnya tanpa permisi.


"kenapa belum makan malam??" tanya orang tersebut.


Will hanya menoleh, tidak menjawab apa-apa.


"aku tau kau pasti kecewa dengan kenyataan itu dan aku tak tau harus bagaimana memperbaiki semua ini" Liam menarik nafasnya.


"lanjutkan" ujar Will. Liam menatap Will yang hanya berbicara seadanya.

__ADS_1


"aku awalnya ingin memberitahukanmu tentang itu, tapi aku tak menyangka kau akan mengetahuinya dengan cara seperti ini" lanjut Liam.


Will menarik nafas lalu berkata...


__ADS_2