Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
CHAPTER 2


__ADS_3

Hari ini adalah hari Minggu, tentu saja Will masih ngorok di tempat tidurnya yang empuk. Tadi malam gadis ini berencana untuk memulai pola hidup sehatnya dengan jogging, membayangkan dirinya berubah menjadi gadis sexxy nan langsing serta dikagumi para kaum lelaki membuatnya tak sabar untuk memulai olahraganya, namun sepertinya wacana tinggal wacana saja. Sudah jam 10 pagi namun Will masih setia memeluk gulingnya.


Seseorang mengetuk pintu kamar Will, membuat dia menggeliat di balik selimutnya.


"Will... Will.... ayo bangun sayang, ini sudah siang..!"


David sang ayahlah yg menggedor-gedor pintu itu.


"hah anak ini benar-benar, jam segini belum bangun juga" David mengomel sambil menarik selimut dari badan putrinya.


"hemmppppphhhhh...Daddy aku masih mengantuk" Will semakin meringkuk di sudut tempat tidurnya.


Sang ayah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya, kemudian berbalik keluar dari kamar itu.


Beberapa menit kemudian David kembali membawa nampan berisi makanan untuk sarapan buah hatinya.


Will membuka sedikit celah matanya untuk melihat David, lalu dia bangun dan duduk dengan mata tertutup dan rambut acak-acakan.


"ayo makan..." David menyuapkan makanan kehadapan bibir Will.


"Daddy.... bagaimana Will akan menjadi langsing kalau makan sebanyak ini??" Will protes namun tetap memakan suapan ayahnya.


"Bagaimana kau akan kurus kalau kau saja bangun jam segini Will, sudah lupakan wacana menjadi langsing."


"mana boleh begitu, Will juga ingin punya pacar seperti teman-teman Will!" gadis itu merengek sambil mendongakkan kepalanya, dia begitu kesal dengan daddynya.


Sementara itu dikediaman keluarga Abraham,


"Ini yang terakhir ma!" Liam menatap tajam ke arah Sarah. Yang di tatap hanya tersenyum cengengesan melihat wajah anaknya merajuk.


"Maaaa Liam serius..!!" Pria itu mulai merengek.


"baiklah baiklah ini yang terakhir, mama janji" Liam melirik curiga kepada mamanya sambil bercermin. Pasalnya pemuda yang beberapa bulan lagi genap berusia 22 tahun ini sudah muak di jodoh-jodohkan dengan anak gadis teman-teman mamanya.


"Anak mama ini masih muda bahkan belum genap 22 tahun, masih jauh lagi untuk memikirkan jodoh" Ucap Liam frustasi.


"mama bukan ingin mencarikanmu jodoh Liam, mama hanya ingin mengenalkan saja. Tidak ada salahnya berteman kan??" Alasan klasik Sarah selama ini. Liam memutar bola matanya malas, dia sudah sangat hapal dialog mamanya yang ini.


"Ini yang terakhir, mama tidak akan menyuruhmu menemui anak teman mama lagi"

__ADS_1


"sebaiknya begitu, kalau mama masih saja begini Liam akan tinggal di apartemen saja lagi" ancam Liam.


"heiii kenapa mengancam begitu, mama janji ini yang terakhir sayang." Sarah merapikan kerah baju sang anak sebelum mereka keluar dari kamar Liam.


"Antarkan Zeia pulang dengan selamat Liam, mama tidak mau diamuk mommynya Zeia karna anaknya lecet setelah jalan denganmu." mata Sarah melotot memperingatkan Liam.


"Ck..iyaa ma" jawab Liam malas.


Keesokan harinya di kampus,


"Gimana?? cantik gak???" Rian dan Bethany duduk di depan Liam. Mereka sangat penasaran dengan hasil kencan sahabat mereka kemarin.


"Ck..bukan tipe gue." Liam terlihat malas membahas topik ini.


"terus tipe lu yg gimana sih sebenarnya??" Bethany mulai kesal, sahabatnya ini bisa susah sekali tertarik dengan gadis-gadis yang di kenalkan mama Liam.


"yaa mana gue tau, pokoknya gue yg srek aja"


"gue curiga sama lu bro" Rian menatap Liam menelisik.


"terserah"


"heh amit-amit ya, kalo pun gue belok selera gue bukan monyet ini!!" Liam sewot dikatain penyuka sesama biji-bijian.


Sebenarnya Liam bersyukur kencan kemarin berjalan lancar walaupun sebenarnya dia tidak suka menyebutnya sebagai sebuah kencan. Zeia gadis seumuran Liam itu lebih pendiam dan tidak banyak mau, tidak seperti gadis-gadis sebelumnya yang ingin kesana-kemari bersama Liam untuk memamerkan wajah tampan pria itu kepada teman-teman mereka. Liam mengantarkan Zeia kerumahnya dengan selamat serta permisi dan berterimakasih kepada orangtua Zeia.


Tepat jam 10 pagi kelas pertama Will yang dimulai jam setengah 8 pagi tadi telah selesai. Gadis itu melangkah menuju kantin bersama dua sahabatnya Dwi dan Stefany. Pandangan Will tidak sengaja bertemu dengan mata Liam yang sedang duduk di kursi depan ruangan Presma. Adu pandang itu terjadi beberapa detik sebelum akhirnya Will memalingkan wajahnya.


"naksir ya lo sama kak Liam??" sambar Stefany setelah mendudukan bokong mereka di bangku kantin.


"wahh yang bener Will? Lo suka sama kak Liam?? lagian siapa sih yang ga suka liat mukanya yg mulus dan tampan itu." Dwi malah membayangkan wajah Liam sendiri.


"ck..ga semua orang ganteng itu harus di sukain fan" Will berdecak kesal melihat kelakuan dua sahabatnya yang gak bisa melihat cowo bening sedikit.


"ya iya, tapi masa Lo ga suka sama kak Liam, tadi gue liat doi ngeliatin lo waktu kita jalan"


"matanya juling kali, bukan lagi ngeliat gue itu" jawab Will asal.


"mulut lo Will ga ada saringannya, ganteng gitu lo bilang juling."

__ADS_1


"Bu, kaya biasa yaa mie goreng nyemek 3 cabenys masing-masing 3 juga minumnya es teh semua" teriak Dwi dari bangku mereka. Ibu Kantin mengacungkan jempolnya.


"kaya biasa tapi masih disebutin aja, kalo gitu mah jangan bilang kaya biasa" kata Will.


"siapa tau ibunya lupa" jawab Dwi cengengesan.


byurrrrrr


Rambut Will basah seketika, segelas es teh menghampiri kepalanya.


"waduhh sorry sorry gue gak sengaja" kata pelakunya yang ternyata adalah Bethany namun tidak ada niat untuk membantu membersihkan kekacauan yang dia buat. Will diam saja sambil membersihkan kepalanya dengan tissu, dia sungguh malas dengan kejadian seperti ini.


"heh maba jawab dong, gue udah bilang sorry malah diam aja!!" Will mulai muak dengan situasi ini, dia sudah tau apa yang akan terjadi berikutnya.


" kenapa??? Lo mau bully gue?? norak banget jaman sekarang masih main bully bullyan!!" Bethany kaget sampai mundur selangkah melihat amarah Will.


Liam datang entah darimana menengahi keduanya.


"ada apa Beth??" Liam menatap Will yang sudah basah kuyup.


"ini maba satu ini ngomong kasar banget, padahal gue udah minta maaf karna ga sengaja numpahin es ke kepala dia"


Will memutar bola matanya malas, dia sungguh muak dengan hal-hal seperti ini.


"di bagian mana kata-kata gue yang kasar?? lo yang bentak gue duluan KAK!!" Will dengan sinis menekankan kata kak, dia tau gadis di depannya ini gila akan kehormatan dan senioritas.


"BISA SOPAN GAK SAMA SENIOR ??" bentak Bethany.


"gue ga ada waktu sama mainan senior-senioran kalian, gue disini mau kuliah, gue bayar sendiri ga minta sama kalian." Will berlalu dari tempat ini diikuti dua sahabatnya.


Liam menatap kepergian Will dengan heran, gadis ini sangat tegas pikirnya. Kemudian dia tersadar Bethany memanggilnya daritadi.


"lo sih, jadi gue yang kena kan!!" kesal Bethany. Liam meninggalkan Bethany menuju ruangan dosen untuk konsultasi masalah skripsinya.


Sementara di toilet kampus Will menggerutu tak habis-habisnya, dia sungguh kesal dengan hari ini. Di kursi taman kampus Will duduk menunggu jemputan supir seperti biasanya, sudah 30 menit dia menunggu namun belum ada tanda-tanda mobil jemputan akan tiba. Ini pertanda baik bagi Will, sudah lama dia tidak menikmati fasilitas umum.


Saat gadis itu akan beranjak menuju halte terdekat, seseorang memanggilnya.


"Will.." suara berat itu mengangetkan Will. Dia kemudian berbalik dan melihat siapa yang telah berani-beraninya menghalangi langkahnya menuju halte.

__ADS_1


"ya kak??" yang di sahuti malah lebih kaget.


__ADS_2