Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
CHAPTER 6


__ADS_3

Will uring-uringan sejak pagi tadi, dia bingung bagaimana menyikapi Liam setelah apa yang dikatakan pria itu pagi tadi. Apakah dia harus percaya? Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya frustasi.


"kenapa lagi sih Will?? masih gak percaya??" gadis itu sudah menceritakan semua kejadian tadi pagi pada 2 ekor sahabatnya itu.


Will yang di tanyai malah merebahkan dirinya di atas karpet. Dia menerawang kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja adalah kenyataan. Dia terus meragu. Dia merasa tidak pantas.


Sementara Dwi dan Stefany dengan posisi tengkurap dengan kepala mereka terjuntai di pinggir tempat tidur sambil memandang Will.


"ck ketidakpercayadirian lo berlebihan Will" sambung Fany lagi.


"lo bayangin aja nih, seorang Presma ganteng, terkenal di kampus, idola cewe2 kampus, pinter lagi, suka sama gue yang..." sahut Will terjeda.


" ....yaaa begini lah" sambungnya kemudian.


"emang lo gimana??" tanya Dwi malas.


"tau tuh si Will, emangnya lo gimana sih?? sampe lo gak percaya gitu. Lo itu cantik Will!! kenapa lo susah banget sih " heran Fany.


"lagian kalo gue mau pacaran, keknya bukan dia deh orangnya. Takut gue"


"takut??" kedua gadis itu serempak bertanya dan membalikkan badan mereka telentang.


"takut guenya kecintaan, ntar malah gue yang sakit hati" Jawab Will masih menerawang kemungkinan-kemungkinan yang dia pikirkan sejak tadi.


"susah emang jadi orang overthinking mulu" Sahut Dwi yang sedang melangkah mengambil cemilan di dalam lemari pendingin di kamar Will.


"ntar kalo ternyata gue cuma dijadiin bahan taruhan sama temen-temen dia gimana?? gak dulu deh, gue belum siap sakit hati" sepertinya gadis ini memang berfikir kejauhan.


"lebay banget ni anak. Heh!! ini bukan ftv ya" sambar Fany.


"ah udahlah, gue mau mandi. Balik lo sana pada" usir Will.


"kan nginep gimana siiih" protes Dwi.


"ehh iyaa"


Malam hari ketiga gadis ini sedang memilih tontonan untuk mereka nikmati. Berbagai macam cemilan sudah tersedia di hadapan mereka dari buah-buahan sampai snack yang tidak sehat pun ada. Mereka memilih untuk melupakan tugas mereka hari ini dan hidup merdeka tanpa beban tugas kuliah segunung.


"Bosen nonton series yang ini mulu" omel Dwi.


Tidak ada sahutan dari kedua sahabatnya membuat Dwi menoleh dan mendapati keduanya sudah molor dengan posisi tak berbentuk. Dwi melihat jam di dinding yang menunjukkan pukul 11 malam.


Dwi memutuskan untuk bergabung dengan Will dan Fany, namun suara bell rumah menghalanginya. Dia ingin keluar dan membukakan pintu namun jiwa penakutnya meronta-ronta. Akhirnya dia membangunkan Will, menggoyang-goyang badan Will berharap gadis itu bangun, namun sepertinya mimpi Will terlalu indah untuk ditinggal bangun.


"dia tidur atau gladi resik koit apa gimana sih??" Dwi mengomel sendiri.


"Will!!! bangun dong. Itu ada yang ngetuk pintu" rengek Dwi.

__ADS_1


Suara pintu di ketuk masih saja terdengar, memang David kebetulan sedang dalam perjalanan bisnis beberapa hari ke depan dan para pelayan sudah masuk ke kamar masing-masing di rumah belakang, sehingga tidak ada yg mendengar rumah utama di gedor.


Akhirnya Will bangun setelah Dwi menjepit hidungnya.


"kenapa??" tanyanya dengan mata menyipit berusaha menyesuaikan dengan cahaya ruangan.


"itu ada yg gedor-gedor pintu, lo tidur kaya dugong susah banget di bangunin" Dwi mendengus.


Mendengar keributan di dekatnya, Stefany ikutan terbangun dan mendapati dua sahabatnya tengah melangkah keluar kamar.


"mau kemana" tanyanya membuat langkah mereka terhenti.


"ini mau bukain pintu, daritadi ada yg ngetuk" jawab Dwi masih menggandeng tangan Will.


"lebay lo" seloroh Will.


Ketiganya sekarang sedang berada di depan pintu, menimang apakah mereka harus membukakan pintu atau pura-pura matii saja.


Pasalnya mereka sudah mengintip dari jendela yang datang adalah Liam, mereka bingung ada apa pria itu tengah malam begini menyambangi kediaman Will.


"bukain aja, siapa tau ada yang penting" saran Fany.


Will berfikir. Akhirnya dia membukakan pintu.


"ada apa kak??" tanya Will agak galak.


"udah tidur ya?? mau bilang aja besok mau ngajak ke Gereja bareng" jawab Liam.


"tadi lewat sini, jadi sekalian aja" sambung Liam.


Will menarik nafas panjang, kemudian..


"gak mungkin Kakak cuma sekedar lewat aja. Rumah ini ada di dalam komplek yang luas dan rumah ini pun jauh dari gerbang utama komplek" Will menghembuskan nafasnya dulu kemudian menariknya lagi.


"kurang kerjaan banget kakak masuk ke komplek orang malam-malam mau bilang itu doang" akhirnya Will mengakhiri omelannya. Sementara Liam disana diam saja dengan bibir sedikit terbuka, dia kaget oleh serangan ocehan gadis di depannya.


"makanya kalo di mintain nomor hp itu jangan pelit-pelit" kata Liam.


"aku balik yaa, udah sana lanjut tidur" Liam mengusap pucuk kepala Will.


Will menatap kepergian pria itu dengan wajah datar, namun sedetik kemudian dia jingkrak-jingkrak masuk kedalam rumah, dia tidak ingat bahwa ada dua mahkluk menunggunya di balik pintu dan keduanya menyaksikan gadis itu salah tingkah.


"katanya gak mau sama tuh orang" Dwi buka suara.


"g*la aja, gue udah di perlakuin begitu masa ga baper" jawab Will masih melompat-lompat kecil menuju kamar.


"meleleh gueee, gimana dong" teriaknya di anak tangga yang mana membuat Fany otomatis membekap mulutnya.

__ADS_1


"udah malam gblk!!" kesal Fany.


.


.


.


Sebentar lagi ujian menuju semester berikut akan di adakan, Will beserta kedua sahabatnya sedang serius-seriusnya mengulang pelajaran-pelajaran yang kemungkinan akan di ujikan.


Begitu juga dengan kakak tingkat mereka yang sebentar lagi akan mengakhiri masa mahasiswa mereka. Acara wisuda sudah menjadi perbincangan rakyat kampus akhir-akhir ini. Berspekulasi tentang idola-idola kampus. Siapa berpasangan dengan siapa di acara wisuda nanti.


"kak Rian nanti pasangan sama siapa ya??" Dwi sedang berspekulasi dalam pikirannya sendiri sambil menopang dagunya.


"kenapa lo mikirin dia" sewot Fany. Aneh aja, kenapa sahabatnya ini tiba-tiba memikirkan orang itu, padahal sebelumnya mereka tidak pernah membahasnya.


"gak papa, penasaran aja. Playboy ganteng kaya di bakalan bersanding sama siapa ya" jawab Dwi.


"diakan sahabatnya calon lakinya si Will" sambungnya lagi.


"heh! mulutnya yaa, enak aja calon laki" protes Will yg sedang mencari baju untuk di pakai di Walk in closetnya.


"apaan dah, gak nyambung banget ni anak" seloroh Fany.


"daddy gue keknya udah balik deh" Will melihat dari jendela kamarnya mobil sang daddy memasuki gerbang rumah.


"masa??? gue mau salim dulu deh, siapa tau bisa jadi mommy muda Lo" kata Fany sambil berlari ke lantai bawah.


"heh!!" Will geleng-geleng melihat tingkah Fany.


Sahabatnya itu memang fans nomor dua David setelah Will. Ketampanan lelaki itu yg tak memudar oleh waktu membuat Fany gadis berusia 19 tahun pun menganguminya.


"halo om, udah balik ya??" tanya Fany basa-basi sambil menyalami tangan David.


"ada Fany ternyata, Will dan Dwi dimana??" tanya David sambil melihat ke belakang Fany. Pria itu tau jika ada Fany di rumahnya pasti ada Dwi juga. Ketiga gadis ini adalah satu paket bersama Will.


Tak lama terdengar suara Will berteriak dari anak tangga.


"daddy!!!!!" teriaknya. Dengan gerakan slow motion dibuat-buat dia mendekat dan menyingkirkan Fany dari sisi David.


"dad, masa tadi Fany bilang dia mau jadi mommy mudanya Will" adu Will.


Stefany disana terbelalak mendengar Will mengadu.


"saya becanda om" elak Fany sambil mencubit tangan Will. David hanya tertawa melihat kedua gadis itu yang mana membuat seorang Fany semakin terpesona.


"daddy masuk dulu ya, mau mandi" David melepaskan pelukannya dengan Will kemudian berlalu, namun saat melewati Fany pria paruh baya itu mengusap rambutnya. Dalam hati Fany berteriak.

__ADS_1


*aaaaaaaa*


#Fanydoyanomom 😂


__ADS_2