Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
CHAPTER 11


__ADS_3

Liam mendudukkan dirinya di sebuah kursi besi, dia menepuk-nepuk ruang kosong di sebelahnya mempersilakan Will duduk.


"ada apa kau mengajakku kesini??" masih belum bersedia duduk.


Liam kembali menepuk-nepuk tempat duduk masih menunggu Will untuk duduk. Akhirnya gadis itu menurut juga, dia malas berlama-lama disini.


"aku belum meminta maaf dengan benar kepadamu" ucap Liam. Tercipta keheningan disana, sebenarnya Will sudah malas berurusan dengan pria ini. Rasa sakit dikhianati walau tidak di selingkuhi masih jelas membekas.


"maka dari itu aku sangat sangat meminta maaf kepadamu Will, aku tau apa yang aku lakukan sangat kekanak-kanakan. Aku sangat tidak pantas memperlakukanmu seperti itu" Liam berucap panjang.


"sudahlah lupakan saja, lagipula aku sudah memaafkan kakak" Will mulai memanggil Liam kakak lagi.


"oh yaa aku mulai semester depan akan pindah ke Kanada, aku akan melanjutkan pendidikanku disana" lanjut Will berucap riang. Dia memutuskan untuk melupakan semua masalah antara mereka karena melihat Liam yang sepertinya sudah benar-benar menyesal.


Liam yang mendengar ungkapan Will bagai di sambar petir. Namun sejurus kemudian dia mulai menguasai emosinya.


"benarkah??" tanya Liam tak kalah riangnya. Kedua mantan kekasih ini sudah seperti teman sekarang.


"hee emm" terbesit secuil kekecewaan dalam benak Will melihat Liam antusias mendengar kepindahannya.


"baik-baik disana, jangan bergaul dengan yang tidak-tidak" nasehat Liam.


"memangnya aku anak kecil apa", ketus Will yang sangat menggemaskan dimata Liam. Ingin sekali pria itu menggigit pipi gembul Will.


"maafkan aku sekali lagi yaaa" ucap Liam sambil mengusap pucuk kepala Will.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan sepertinya David masih sibuk dengan koleganya. Will mulai bosan menunggu. Sejak pertemuannya dengan Liam tadi, gadis itu banyak melamun. Entah apa yang di pikirkannya.


"woiii!!!" seseorang mengagetkan Will dari belakang dan berhasil membuat gadis itu berteriak nyaring. Beberapa pasang mata bahkan langsung mengarah kepada mereka.


"asemmm" geram Will sambil menjenggut kepala sahabat yaitu Stefany.


"lagian gue liatin dari jauh lo ngelamun mulu, baebae kesambet" ucap Fany.


"lo ngapain disini?? males banget gue dimana-mana ketemu lo mulu" kesal Will.


"nemenin bokap nyokap, kakak gue lagi keluar kota"


"hmmm kita pulang duluan aja yok, bosen banget" Will memberikan ide.


"yaudah kebetulan gue bawa mobil sendiri tadi kesini" Stefany datang sendiri menyusul kedua orangtuanya ke pesta itu.

__ADS_1


Keduanya pergi setelah berpamitan dengan orang tua masing-masing.


"kemana nih kita??" tanya Will yang sudah duduk di belakang kemudi.


"kita nyusul Dwi aja, dia lagi di bar sepupunya" saran Fany antusias.


"sepupunya Lio??"


"iyaa emang siapa lagi sepupu Dwi yang punya bar??"


Will menaikkan laju kendaraan mereka menuju bar tempat Dwi berada.


Disinilah ketiga gadis itu sekarang, sedang menikmati lemonade mereka masing-masing. Will terlihat banyak melamun sejak tadi, tidak terlalu menanggapi obrolan kedua sahabatnya. Hingga tanpa Will sadari kedua gadis yang sejak tadi dia abaikan itu sudah meluncur ke lantai dansa bersama pasangan sesaat masing-masing.


"kebiasaan" Will geleng-geleng kepala melihat Fany dan Dwi sudah melenggak lihai di lantai dansa diantara manusia-manusia lainnya.


Will beranjak dari sofa tempat mereka duduk menuju meja bar dimana dia bisa melihat bartender meracik minuman langsung.


"satu lagi ya mas" kata Will menyodorkan gelas bekas minumnya.


"siap nona" sahut bartender itu sembari tangannya dengan cekatan meracik.


Beberapa menit kemudian tersedia sudah minum dengan warna yang sama persis dengan yang di minum Will tadi. Dalam beberapa tenggak tersisa seperempat cairan dalam gelasnya, sepertinya gadis itu terlalu kehausan.


"satu lagi mas" mata Will mulai berkunang-kunang.


Bartender hanya bisa patuh dalam kebingungannya, biasanya nona satu ini selalu meminta lemonade kalau disini, kenapa kali ini dia meminta minuman dengan kadar alkohol yang cukup memabukkan hanya dalam beberapa tenggakkan saja.


"baik nona" ucapnya sedikit ragu namun tetap cekatan meracik kembali minuman tadi.


Will kembali menenggak minuman tersebut namun dahaganya tak kunjung hilang. Hingga saat ini terhitung sudah 9 gelas berhasil di habiskan gadis itu dalam waktu sekitar 45 menit. Saat Will akan meminta gelas ke sepuluh, bartender yang sejak tadi melayaninya mulai khawatir. Hingga kemudian dia memutuskan untuk melaporkan kepada bosnya yaitu Lio, pemilik bar tersebut.


"ada apa Simon??" tanya Lio melihat bartendernya tergopoh-gopoh menghampirinya.


"ehhh tuan maaf saya mengganggu, tapi saya ingin memberitahukan tentang nona yang duduk disana" bartender bernama Simon itu menunjuk kearah Will.


"ada apa dengannya??" tanya Lio heran, namun dia sudah sedikit menyadari bahwa sepertinya gadis yang di tunjuk tadi sudah mabuk melihat tubuhnya yang limbung kekiri kanan atas kursi tinggi itu.


"bukankah nona itu teman nona Dwi? biasanya dia tidak pernah mabuk tapi kenapa sekarang dia mabuk disini??" jelas Simon.


"lanjutkan pekerjaanmu" Lio menepuk pundak Simon kemudian berlalu menghampiri Will.

__ADS_1


"nona Will apa nona baik-baik saja??" tanya Lio hati-hati.


"aku--akuuuu tidak baik-baik saja" Will menjawab sambil meracau.


"kenapa gadis ini tumben mabuk sekarang" heran Lio. Pasalnya bukan sekali dua kali Will dan kedua sahabatnya nongkrong di barnya dan tak pernah sekalipun mereka bertiga menyentuh minum beralkohol disini. Lio melongok ke kiri kanan mencari dua gadis lainnya yang selalu bersama Will.


"biar aku yang membawanya" seseorang menepuk pundak Lio dari belakang.


"Anda siapa??" tanya Lio sedikit tidak senang. Dia takut Will akan di apa-apakan oleh orang di hadapannya ini.


"saya pacarnya" tegas Liam.


Lio kemudian membiarkan Liam membawa Will menjauh dari keramaian.


"siapa kau!!!?" Will membentak Liam. Pria itu tau gadis ini sudah terlampau banyak minum, makanya dia tidak menjawab.


Tak berselang lama Will bersuara lagi saat Liam dengan susah payah membawanya melewati kerumunan.


"heii tampan siapa namamu? kau mirip seseorang yang ku kenal" ucap Will dalam mabuknya.


Liam hanya geleng-geleng kepala gemas melihat gadis sepolos ini, bisa-bisanya gadis ini mabuk.


"ka--kauu mau membawaku kemana? lepaskan aku" Will mulai memberontak.


"ck kau ini, ayo cepat berdiri nanti kau tertendang orang" Kesal Liam melihat Will terduduk sambil nyengir-nyegir meracau tidak jelas.


"berani-beraninya kau membentakku" ucap gadis itu masih tidak mau berdiri. Dia menghentakkan kedua tangannya ke bawah dengan ekspresi super kesal yang malah terlihat sangat lucu dimata Liam, pria itu tidak bisa menyembunyikan senyumnya lagi.


"pacarku saja tidak pernah membentakku. Eh tidak-tidak si brengs*k itu bukan pacarku lagi..." Will tersentak kala badannya terangkat.


"kenapa kau menggendongku bodoh, aku ini berat cuma pacarku yang sanggup menggendongku.." protes Will dalam dekapan Liam. Liam menggendongnya dengan bridal style.


"hmmmm dia bukan pacarku lagi, si bodoh itu cuma menjadikanku taruhan saja" Will tidak henti-hentinya berceloteh.


"bagaimana kalau kau saja yang jadi pacarku, kau tampan juga walaupun tidak setampan mantan bajing*nku itu" tawar Will dengan ekspresi yang awalnya senyum tiba-tiba berubah kesal mengingat mantan kekasihnya.


"baiklah baiklah aku akan jadi pacarmu" ucap Liam sambil terus membawa Will menuju mobilnya.


"benarkah??" tanya Will girang.


"hmmm cepat masuk" Liam mulai menurunkan Will setelah bersusah payah membuka pintu dengan kakinya.

__ADS_1


Setelah Will duduk dengan benar Liam yang akan menutup pintu mobil malah tertarik kepalanya kedalam akibat ulah Will yang menarik kerah bajunya.


Cup!!


__ADS_2