Pretty Fatty Baby

Pretty Fatty Baby
CHAPTER 3


__ADS_3

Liam jadi kagok tak tau ingin berkata apa.


"kau mau pulang??" tanya Liam.


Dalam hati Will merasa tergelitik, kemarin dia pake aku kamu. Apa sekarang dia mau pake kau dan aku.


"iyaa kak, ini mau ke halte." sepertinya keributan di kantin tadi membuat Will sedikit sadar bahwa dia harus sedikit lebih sopan kepada kakak tingkatnya.


"bukannya biasanya ada yang jemput?? kok ke halte??"


"iya kayanya driverku lagi gabisa jemput kak, makanya mau naik bus aja baliknya" Will sebenarnya heran kenapa Presma idola para wanita kampus ini sangat ramah kepadanya.


"mau balik sama aku aja gak??" Will nyaris terpeleset saat menuruni anak tangga yang hanya 2 tingkat itu mendengar tawaran Liam.


" gak usah kak, aku naik bus aja"


"aku juga naik bus, bareng aja" jawab Liam. Namun sepertinya kali ini keinginan Will untuk pulang naik bus harus ditunda dulu, supirnya sudah ada di depan mata. Liam terlalu lama mengajak mengobrol sehingga tak sempat bagi Will untuk melarikan diri ke halte.


Will menatap Liam kesal, sekarang dia harus pulang bersama supirnya. Dia menaiki mobil dengan menghentakkan kakinya, Will membuka jendela mobil dan berkata


" gajadi naik bus, jemputan gue keburu nyampe" Will terlihat sangat kesal sampai tak sadar dia kembali menggunakan lo-gue kepada Liam.


Liam hanya tertawa melihat mobil Will berlalu, kemudian dia menuju parkiran mengambil motor gedenya lalu pulang.


Di atas mogenya Liam senyum-senyum sendiri, dia heran kenapa Will sangat cuek kepadanya padahal gadis-gadis lain di kampus sangat mengidolakannya. Saat berhenti di lampu merah, Will melihat ke sebelah kanan dan ternyata Liam disana duduk diatas motor gedenya.


"tadi katanya mau naik bus" kata Will pelan.


Di kantor, David sedang duduk berdua dengan pengacara pribadinya. Pria itu tampak sedang menandatangani beberapa surat yang di berikan sang pengacara Hotlan.


"aku percaya kepadamu lan" ujar David serius.

__ADS_1


"hmm cepatlah aku masih banyak pekerjaan" Hotlan sangat malas jika client sekaligus sahabatnya sejak SMA ini membahas tentang ini.


"aku akan baik-baik saja, ini hanya untuk jaga-jaga kalau sesuatu terjadi nanti" kata David meyakinkan.


David menderita kanker paru-paru stadium awal dan hanya mereka berdua yang tau akan hal ini. David tidak ingin membuat putrinya takut dan khawatir akan keadaan kesehatannya maka dari itu dia tidak memberitahu Will. Dan surat yang baru saja di tanda tangani oleh David adalah surat wasiat darinya untuk Will, serta pembalikan nama aset-aset atas nama Will.


"ingat lan, jaga anakku baik-baik. Semua ini akan resmi menjadi miliknya hanya jika dia sudah menikah!" Pria itu menekankan kembali isi surat yang ditandatanganinya.


"ck...kau jaga sendiri saja anakmu, aku tidak mau" jawab Hotlan ketus.


David tau sahabatnya ini sangat kesal sekarang.


"lagipula ini masih stadium awal, masih sangat besar kemungkinan untukmu sembuh" sambungnya lagi.


"aku tau, aku membuat surat-surat ini bukan karena aku sakit" sahut David.


"hanya untuk berjaga-jaga apabila sesuai yang lain terjadi, aku tak mau putriku melarat kalau aku tiada nanti"


"terserah kau saja, aku lelah mau pulang cepat" Hotlan berdiri dari duduknya.


"diamlah! aku pergi" Kata Hotlan setelah membereskan surat-surat yang dia bawa tadi kedalam tasnya. David mengantarnya sampai ke depan pintu ruangannya sambil tertawa.


"dia masih saja begitu" David menggelengkan kepalanya.


.


.


.


.

__ADS_1


"dimana Will??" tanya David kepada dua pelayan yang menyambutnya di depan pintu.


"Nona Will sedang di taman belakang tuan" jawab pelayan yang sepertinya paling tua. David segera berlalu darisana dan membuka jasnya kemudian meletakkannya di sembarang tempat. Dia ingin segera menemu kesayangannya.


"Daddy sudah pulang!!!" suara Will melengking. Gadis itu sedang memanen cabai hasil tanamannya sendiri.


"kenapa putri Daddy suka sekali berkebun seperti ini, kenapa tidak ke mall saja dan menghabiskan uang Daddy??" David menyematkan rambut Will kebelakang telinganya.


"ck...kenapa daddy bertanya terus?? kan sudah Will bilang kalau ini adalah passion Will"


"ingin Daddy bantu??"


"tidak usah, Daddy masih memakai baju kantor dan masih sangat wangi, lagipula Will sudah selesai."


"kemarilah beri Daddy pelukan" David menarik Will yang hanya setinggi dadanya itu kedalam pelukannya.


"Daddy masih sangat tampan walaupun sudah tua, kenapa tidak mencarikan Will mommy baru saja??" tanya Will cengengesan sambil mendongakkan kepalanya.


"Daddy tidak ingin berbagi kasih sayang dengan siapapun kecuali putri Daddy, jadi berhenti menyuruh Daddy mencari mommy baru" jawab David tegas.


"hmmm padahal Will ada kenalan Tante yang sangat cantik dad." sudah sering Will berkata seperti ini namun tak pernah benar-benar mengenalkan sang Daddy kepada wanita manapun.


"Daddy juga punya kenalan anak teman Daddy, sangat tampan. Ingin Daddy kenalkan juga??" Will menggeleng keras didalam pelukan David. Dia masih terlalu muda untuk masalah jodoh-jodohan, dia masih ingin menghabiskan waktu berkebun dan bermain dengan sahabatnya.


"bagaimana kalau kita makan malam diluar??"


"warung pak lek?? Will mau makan lele goreng disana" liur Will nyaris menetes membayangkan sambal khas warung langganannya itu.


David mengangguk "cepatlah mandi, sebentar lagi kita jalan"


Will berlari kecil masuk kedalam rumah namun David tidak beranjak dari sana. Dia memilih duduk di kursi taman dan membuka dompetnya.

__ADS_1


"kesayangannya kita sudah besar sekarang, dia sangat mirip denganmu." Pria itu bergumam sendiri memandang potret wanita dalam dompetnya.


"terimakasih sudah melahirkan malaikat ini untukku, tunggu aku disana sayang. Aku sangat merindukanmu." David beranjak dari sana menyusul Will.


__ADS_2