
Keesokannya Gita dan niken sudah kembali ke aktifitas mereka, Gita yang menuju ke butiknya dan Niken yang menuju ke toko tas miliknya. Mereka berangkat lebih awal, dan Gita sangat fokus membuat desain pesanan langganannya. Tidak lupa menyalakan televisi yang ada di ruangan kerjanya dan ia mendengar berita.
'DITEMUKAN 2 MAYAT DISUNGAI DENGAN LUKA TUSUK DI SELURUH BADANNYA.'
Gita yang mendengar itu pun tersenyum miring sambil menggambar desainnya. Tiba-tiba pintu terbuka dan itu adalah Niken, Niken datang membawa makanan kesukaan mereka dengan senyuman yang terus mengembang.
"Fokus banget bu bos. Makan dulu nih. Kan tadi gak sempet sarapan." Ucap Niken. Gita pun meletakkan pensilnya dan menatap Niken.
"Daripada Lo nganggur lebih baik bantuin gue buat desain kek gini." Ucap Gita sambil menyerahkan kertas yang telah selesai ia gambar.
"Bagus juga nih gaun, siapa yang pesan?" Ucap Niken sambil menatap desain yang Gita gambar.
"Keluarga grahadista." Ucap Gita sambil mengambil kertas kosong yang lain.
"Tunggu.. itu keluarganya agas bukan sih." Ucap Niken. Gita pun mengangguk dan menyerahkan kertas+pensil kepada Niken.
"Wah ada acara apaan mereka." Ucap Niken.
"Acara perusahaan." Ucap Gita singkat. Lalu melanjutkan desainnya untuk tuxedo yang akan dikenakan pria.
Niken membantu Gita merapikan desainnya, ya begitulah mereka. Kadang Gita yang membantu Niken untuk membuat desain tas pesanan. Tas di gallery milik Niken adalah hasil desainnya sendiri dan bahannya pun sangat berkualitas.
-Diperusahaan
Seorang CEO duduk di kursi kebesarannya, disana juga ada sepupunya. Siapa lagi kalau bukan agas dan galih. Agas terus berkutat dengan laptopnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sedikit terbengkalai karena ia lebih sering ke tempat gym daripada kantornya.
Sampai pintu ruangannya terbuka, masuklah 2 wanita paruh baya. Yaitu Ranika dan Ersya. Mama agas dan galih, mereka sengaja datang ke perusahaan.
"Mama." Ucap galih dan agas serempak.
__ADS_1
"Agas, kamu kapan akan membawa calon ke rumah." Ucap mama sambil berkacak pinggang. Sedangkan agas yang mendengar penuturan mamanya pun memijit keningnya.
"Ma, kalau mama datang hanya untuk mengatakan itu. Ngapain harus jauh-jauh kesini." Ucap agas sambil mendesah pelan.
"Mama sudah mau menggendong cucu gas, pokoknya mama gak mau tau saat acara ulang tahun perusahaan kamu harus membawa calon. Atau mama akan jodohkan kamu dengan anak teman mama." Ucap mama agas. Sedangkan agas hanya menarik nafas lalu menghembuskan ya perlahan.
"Kamu juga galih, apa kamu masih belum move on dari dia." Ucap mama galih.
"Ma, pliss jangan paksa galih. Biarkan galih menemukan wanita itu sendiri." Ucap galih dengan sabar.
"Tapi nak, mama juga mau kamu segera menikah. Mama kasih kamu waktu dalam 2 bulan untuk membawa calon menantu ke hadapan mama." Ucap mama galih tegas. Agas dan galih jika sudah menyangkut orang tuanya, maka mereka hanya bisa mengatakan iya.
"Iyah ma." Ucap galih pasrah. Mama agas dan galih pun tersenyum penuh kemenangan.
"Kalau begitu kami pamit dulu, mau ke butik ngambil lihat desain pesanan." Ucap mama agas.
Kedua paruh baya beranjak dari tempat duduk dan menuju ke butik. Sedangkan agas dan galih mengacak rambut mereka, inilah yang selalu mereka hindari selama ini. Tetapi sekarang mereka hanya bisa menuruti kemauan mamanya.
"Apalagi gue." Ucap agas datar.
5menit memikir, akhirnya mereka saling pandang dan..
"GITA"
"NIKEN"
Ucap Agas dan Galih serempak.
"Kita harus minta tolong pada mereka." Ucap galih. Sedangkan agas masih berpikir, karena ia mengklaim Gita sebagai kekasihnya hanya karena agas tidak suka jika Gita dekat dengan pria lain.
__ADS_1
Padahal biasanya agas tidak pernah seperti itu, entah kenapa ia begitu tertarik dengan Gita. Saat bersama Gita detak jantungnya pun lebih cepat dari biasanya, itu yang membuat agas semakin aneh.
Apa iya aku harus membawa Gita. Pasti dia akan menolak keras untuk melakukan hal gila ini. Batin agas
"Woy." Ucap galih sambil menepuk keras bahu agas.
"Brisik." Ucap agas ketus.
"Gue mau minta tolong ke Niken aja, Gue gak mau kalau dijodohin ke teman mama. Kebanyakan mereka bertingkah centil." Ucap galih sambil membayangkan bagaimana tingkah anak teman mamanya jika melihat dirinya.
"Bukannya lo jadian sama Gita." Ucap galih.
"Enggak." Ucap agas singkat.
"Lah? Kalau enggak ngapain lo claim kalau Gita milik lo." Ucap galih yang heran dengan tingkah agas.
"Gue belum jadian, bahkan gue gak tau perasaan gue ke Gita ini sebatas mengagumi atau mencintai." Ucap agas sambil menyandarkan punggung dan kepalanya di kursi kebesarannya.
"Nah kalau begitu gue masih ada harapan untuk deketin Gita." Ucap galih yang berniat menggoda agas, sedangkan agas langsung menatap tajam ke arah galih.
"Hmm bawa siapa ya buat di kenalin ke mama. Gita atau Niken." Ucap galih santai tanpa memperdulikan tatapan agas.
"Dua-duanya lebih seru kayaknya. Kan lumayan istri dua cantik-cantik, bodynya uuhhhh. Kalau di ranjang pasti nikmat dengan mereka berdua." Ucap galih yang semakin gencar menggoda agas.
"Jangan lo dekati Gita." Ucap agas yang rahangnya semakin mengeras.
"Gita lo itu cantik, rasanya gue ingin dapatin lo. Tapi Niken juga cantik. Dua bidadari yang sulit jika dipilih salah satu." Ucap galih santai. Agas yang sudah tidak dapat menahan amarahnya pun langsung mencengkeram kerah kemeja galih.
"Gita milik gue, jangan lo dekati Gita." Ucap agas yang wajahnya sudah memerah karena menahan amarah. Seketika galih pun tertawa.
__ADS_1
"Hahahaha... Calm down man, Lo udah jatuh cinta sama Gita bro.." Ucap galih sambil tertawa. Agas pun melepaskan cengkramannya dan merapikan kembali jasnya.
"Gue gak akan ngambil Gita dari lo, tapi lo harus segera dapatkan dia. Gue harap lo gak lupa sama laki-laki yang kita temui di hotel." Ucap galih lalu berjalan keluar menuju ke ruangannya sendiri.