
Sedangkan didalam butik, Gita dan Niken mulai mengukur agar pesanan keluarga grahadista segera selesai dengan cepat. Terakhir Gita harus mengukur tubuh agas, ia pun digoda agas habis-habisan.
"Ternyata kamu pemilik butik ini hemm." Ucap agas.
"Kalau iya kenapa." Ucap Gita santai sambil melakukan tugasnya.
"Kalau mau pegang tubuhku gak usah pakai acara mengukur begini sayang." Goda agas.
"Gila." Ucap Gita ketus. Agas semakin senang melihat wajah Gita yang menahan kesal dan malu.
"Lihatlah psycopath cantikku ini bisa malu." Ucap agas, Gita tidak menjawab ucapan agas. Saat Gita menyuruh agas merentangkan tangannya untuk diukur bagian tangan hingga dada, agas pun semakin menggoda Gita.
"Kalau mau peluk tidak perlu dengan modus seperti ini sayang." Ucap agas di telinga Gita. Gita pun merinding mendengar ucapan agas yang berada di telinganya.
Saat Gita sudah selesai mengukur dan akan mundur, ia tidak sengaja menginjak tali sepatunya sendiri, sehingga ia terhuyung ke belakang. Degan cepat agas menahan tubuh Gita agar tidak jatuh, hal itu membuat semua orang disana melototkan mata. Gita dan agas saling menatap.
Kalau dilihat dari dekat, ternyata agas sangat tampan. Aroma maskulinnya benar-benar memabukkan. Batin Gita
Kau wanita cantik yang pernah ku kenal Gita, dan kau hanya milikku. Batin agas
Ehmm
Agas dan Gita pun melepaskan pelukan mereka yang tidak sengaja itu, Ranika dan Ersya pun slaing pandang dan tersenyum penuh arti. Sedangkan Adrian dan ghanda tidak mengerti dengan senyuman istri mereka masing-masing.
"Jadi kak galih sama kak Niken pacaran ya." Ucap Sherly
"Iya." Ucap galih singkat, sedangkan Niken hanya tersenyum tipis. Karena mereka sepakat untuk berpura-pura menjadi sepasang kekasih di depan keluarga grahadista.
"Kalau kak Gita sama kak agas." Ucap Sherly menatap agas dan Gita.
"Kami hanya berteman nona." Ucap Gita santai. Sedangkan agas menatap tajam ke arah Gita.
__ADS_1
"Yah, sayang sekali." Ucap Sherly
Mereka pun berbincang-bincang, lalu semua keluarga grahadista pamit untuk pulang. Sedangkan agas dan galih harus segera kembali ke perusahaan, karena mereka akan melakukan pertemuan penting. Padahal galih sendiri mendapat perusahaan dari papanya, entah kenapa ia lebih suka membantu agas. Sehingga perusahaan papanya diurus sekretaris papa galih, galih hanya sesekali menuju perusahaan papanya.
Gita dan Niken pun memakan, makannya dengan tenang. Sesekali mereka bercanda, karena hari ini mereka akan pulang ke rumah mereka. Selesai makan, Gita dan Niken menyerahkan semua ukuran gaun dan tuxedo keluarga grahadista pada Rani. Setelah itu mereka kembali mendesain lagi, Gita mendesain gaun baru untuk butiknya dan Niken membuat desain tas untuk gallerynya.
Sore harinya mereka bersiap untuk pulang, tidak lupa mampir ke supermarket untuk membeli beberapa bahan untuk dirumah. Walaupun dirumah biasanya para pembantu akan selalu menyediakan bahan makanan, tetapi mereka lebih suka belanja sendiri.
Gita memilih Snack untuk cemilan dirumah, saat akan mengambil Snack kesukaannya tiba-tiba ada tangan kekar yang menghentikan Vanessa. Dia adalah Lucas.
"Gita, kita ketemu lagi." Ucap Lucas yang terus memegang tangan Gita.
"Hai lucas. Ah iya kita bertemu lagi." Ucap Gita dengan senyuman manis.
"Kamu kesini dengan siapa?" Ucap Lucas
"Niken lah." Ucap Gita sekenanya.
"Haha tidak, gue bersama Niken." Ucap Gita santai.
"Kamu tinggal dimana? Kapan-kapan boleh dong aku mampir." Ucap Lucas
"Gue dan Niken tinggal di apartemen, tidak mungkin kami membawa laki-laki masuk ke apartemen kami." Ucap Gita.
"Ooh begitu ya, yasudah tidak apa-apa. Kalau gitu aku permisi dulu ya, salam buat Niken." Ucap Lucas lalu meninggalkan Gita, sedangkan Gita hanya menjawab ucapan Lucas dengan anggukan dan senyuman.
Setelah Lucas pergi, niken pun datang dengan keranjang berisi sayuran,daging dan bahan masak lainnya. Niken bertugas mengambil bahan masak, sedangkan Gita mengambil makanan ringan. Karena malam ini mereka tidak membunuh, mereka membunuh orang dalam 1 bulan bisa dihitung jari. Bahkan bisa saja mereka melakukan itu hanya 1 bulan 1 kali, tidak seperti psycopath biasanya yang akan membunuh seseorang setiap hari.
"Itu tadi siapa yang nyamperin lo?" Ucap niken sambil membawa keranjang yang penuh bahan masak.
"Lucas." Ucap Gita lalu mengambil beberapa makanan ringan.
__ADS_1
"Ngapain dia nyamperin lo." Ucap Niken
"Dia pengen tau aja rumah kita dimana soalnya kapan-kapan dia mau main. Ya gue jawab dong kalau kita tinggal di apartemen, kan gak mungkin kita bawa laki-laki masuk apartemen kita. Apalagi sebelah apartemen kita adalah agas dan galih, bisa-bisa memancing jiwa Psycopath mereka." Ucap Gita panjang lebar tetapi akhir ucapannya sedikit berbisik.
Niken hanya menganggukkan kepala saja, setelah mendapat beberapa makanan ringan mereka menuju kasir. Penjaga kasir pun 2 laki-laki, mereka berdua menatap Gita dan Niken. Tetapi Gita dan Niken tidak peduli, mereka sibuk berbincang-bincang sesekali memainkan ponsel.
"Eh itu segera dihitung dong. Kok malah lihatin kita." Ucap Gita yang membuyarkan lamunan 2 penjaga supermarket itu.
"Gak lihat ya dibelakang kami ada antrian." Ucap Niken sambil menunjuk arah belakang dengan jari jempolnya.
"Eh.. emm maaf." Ucap mereka. Banyak pengunjung supermarket yang menyoraki mereka berdua, sedangkan Gita dan niken hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
Selesai belanja, mereka segera menuju ke rumah. Gita dan Niken memakai mobil yang berbeda, Gita dan Niken bukan tipe orang yang suka mengoleksi mobil. Mereka hanya memiliki 2 mobil saja, dan 2 motor sport. Itu pun jarang mereka gunakan, mereka hanya akan menggunakan itu jika lelah menggunakan mobil saja.
Sampai di rumah Gita dan Niken. Memang rumah Gita dan Niken tidak terlalu luas, mereka tidak suka terlalu menghambur kan uang. Karena mereka pasti lebih sering di apartemen daripada dirumah. Turun dari mobil, mereka disambut kepala pembantu yang sedang membersihkan rumah.
"Non Gita sama non Niken pulang." Ucap kepala pembantu
"Iya bi, ini kami juga belanja beberapa keperluan memasak. Mungkin beberapa hari kami akan sering pulang kerumah." Ucap Niken sambil menunjukkan tas yang berisi bahan memasak.
"Yaampun non, seharusnya tidak perlu. Biar bibi Asna saja yang membeli sendiri." Ucap kepala pembantu yang bernama Asna.
"Gak apa-apa bi, yasudah bi lanjutkan saja pekerjaannya. Kami masuk dulu." Ucap Gita
"Sini belanjaannya non." Ucap bi Asna
"Udah bi gak apa-apa." Ucap Gita dan Niken.
Mereka melangkah masuk kerumah yang mereka bangun secara patungan, hanya bertingkat 2 saja. Memang tidak terlalu mewah layaknya istana, tapi mereka menyukai hal itu.
Bibi yakin, orang tua kalian sangat bangga pada kalian. Walau kalian mempunyai sisi pembunuh tetapi hati kalian masih benar-benar baik. Semoga kalian selalu bahagia non. Batin bi asna
__ADS_1