PSYCHOPATH COUPLE

PSYCHOPATH COUPLE
TIGA BELAS


__ADS_3

"Cie yang iri lihat saudaranya ciuman, mau aku cium." Ucap galih menggoda Niken.


"Dih gak mau." Ucap Niken lalu membuka hpnya.


"Yakin nih gak mau? Biasanya para cewek ngantri buat aku cium." Ucap galih sambil menarik turunkan alisnya.


"Itu mereka bukan gue galih." Ucap Niken kesal.


Galih pun menggelitik badan Niken, sehingga Niken tertawa dengan keras. Bahkan dia sudah tertidur di sofa dan diatasnya terdapat galih yang sibuk menggelitik Niken.


"Kyaaaa....udahhh....ahahahahahahaha ga hahahaha galih hahahahha.... Lepasiinnnnn.... Hahahahhahaha udaahhhhhh ahhahahha..." Teriak Niken sambil tertawa.


"Rasain nih." Ucap galih terus menggelitik tubuh Niken


Setelah galih puas membuat Niken tertawa, karena dengan itu Niken tidak kesal lagi. Tapi siapa sangka ternyata cara galih lebih membuat Niken kesal, karena galih tidak dapat membuat Niken berhenti cemberut.


Akhirnya galih mencium bibir Niken, awalnya Niken terkejut dan meronta untuk dilepaskan. Tetapi galih tidak kunjung menyingkir karena kekuatan Niken kalah dengan tubuh kekar galih, akhirnya setelah Niken lelah memberontak ia pun diam dan menerima ciuman galih.


Galih yang merasa Niken sudah berhenti memberontak pun mulai melum*t bibir Niken, karena Niken terbawa mainan galih tanpa sadar ia membuka mulutnya dan membalas ciuman galih dengan memejamkan mata.


-flashback off


Setelah oknum yang berciuman itu merasa nafasnya terengah-engah mereka melepaskan ciumannya. Dan mereka saling pandang, sedangkan Niken sudah dengan wajah memerah karena malu.


Kenapa gue balas ciumannya sih. Batin Niken


Sedangkan galih tersenyum karena wajah Niken yang memerah, pandangan mereka terhenti ketika gita dan agas berdehem.


"Ehheemm kayaknya gue sama agas ganggu nih." Ucap Gita. Niken wajahnya semakin merah layaknya kepiting rebus.


"Gue mau ke kamar mandi." Ucap Niken lalu menuju ke kamar mandi untuk menetralkan wajahnya yang memerah.


Sedangkan di ruang tamu, Gita menatap tajam ke arah galih. Galih tetap dengan posisinya yang sangat santai.


"Lo jangan salahin gue Gita, kalian berdua lama banget di dapur tadi. Terus Niken berniat ngambilin gue minum, eh dia malah ngelihat kalian berciuman." Ucap galih santai. Sedangkan Gita memalingkan wajahnya karena malu, agas hanya menatap galih biasa saja.

__ADS_1


"Btw Niken mau gue ajak ke pesta, jadi Lo juga harus mau git." Ucap galih santai.


"Gue sibuk jadi gue gak bisa." Ucap Gita santai. Agas menatap tajam ke arah Gita.


"Kamu harus mau atau aku akan menciummu di depan galih." Ucap agas dengan nada berbisik ditelinga Gita.


"Tapi ya gak tau deh, gue pikirin aja dulu." Ucap Gita santai.


Tidak lama Niken pun kembali dengan membawa nampan berisi minuman dan juga cemilan.


"Gue jadi ikut sama galih, cuma buat jadi pacar pura-pura aja." Ucap Niken santai.


"Jangan pura-pura sayang, aku maunya beneran." Ucap galih menatap tajam ke arah Niken. Sedangkan Niken mengerutkan dahinya.


"Ehmm kalau kalian sudah selesai bisa kembali ke apartemen kalian kan ya, gue sama Niken mau istirahat." Ucap gita mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, ayo gas biarkan nona-nona ini untuk istirahat." Ucap galih. Agas pun segera berdiri tapi sebelum pergi ia mengecup puncak kepala Gita.


"Selamat malam sayang." Bisik agas tersenyum penuh kemenangan.


Sedangkan galih hanya mengusap kepala Niken, ia juga membisikkan hal yang sama seperti agas. Gita dan Niken sama-sama mematung karena perlakuan kedua pria di depannya itu.


"Mereka benar-benar sinting." Ucap Niken lalu kembali ke laptopnya.


"Udahlah Ken kita lanjut pekerjaan kita saja." Ucap gita.


Gita dan Niken melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya mereka berdua masih memikirkan apa yang terjadi di apartemennya itu adalah kesalahan. Mereka mencoba melupakan kejadian itu dengan mendesain beberapa gaun dan tas untuk butik dan gallery mereka. Setelah mendesain 4 gaun dan 6 tas, mereka segera tidur karena mata mereka juga sudah tidak kuat untuk melihat ke arah laptop.


--------------------


Pagi harinya Gita dan Niken bersiap menuju tempat kerja mereka masing-masing, sampai di depan butik, Gita segera turun dari mobilnya dan masuk kedalam butik. Tetapi Gita melihat karyawannya sedang mencoba menenangkan satu pelanggan. Gita melihat dari atas hingga bawah, wanita yang sedang berdebat dengan karyawannya. Gita menghampiri mereka.


"Dina,Ririn ada apa ini." Ucap Gita.


"Nona ini meminta gaun yang sama seperti keluarga grahadista mbak." Ucap karyawan Gita yang bernama Dina.

__ADS_1


"Maaf nona anda ini siapa ya sampai meminta gaun seperti keluarga grahadista." Ucap Gita mencoba untuk lembut.


"Aku adalah Cindi Alvina Herlinda. Anak dari keluarga Herlinda jika kalian tidak tau siapa keluarga Herlinda. Mereka pemilik separuh perusahaan di negara ini. Aku bisa saja menutup butikmu jika permintaanku tidak dikabulkan." Ucap wanita yang bernama cindi itu.


Sabar menghadapi wanita seperti dirinya Gita. Batin Gita


"Baiklah nona cindi silahkan ikut ke ruangan saya." Ucap Gita


Gita dan cindi berjalan menuju ke ruangan kerja Gita, sampai disana Gita langsung menyodorkan 2 buku yang berisi desain gaun yang telah Gita buat.


"Silahkan dilihat dulu nona, masih banyak desain yang lebih bagus daripada milik keluarga grahadista." Ucap Gita santai.


"Aku tidak mau, intinya aku ingin gaun sama persis dengan keluarga grahadista." Ucap cindi dengan nada tinggi.


"Saya tidak bisa melakukan itu tanpa mendapat perintah dari keluarga grahadista nona." Ucap Gita selembut mungkin.


"Apa kau ini tidak tau siapa aku hah. Aku adalah calon menantu keluarga grahadista, jadi kau harus membuatkan gaun yang sama persis seperti keluarga calon suamiku." Ucap cindi dengan nada sombong.


"Maaf nona tapi saya tetap tidak bisa melakukannya." Ucap Gita santai. Hal itu membuat cindi semakin emosi saat akan membentak Gita tiba-tiba 2 paruh baya masuk keruangan kerja Gita.


"Nyonya ranika, nyonya Ersya." Ucap Gita yang terkejut dengan kedatangan keluarga grahadista.


"Tante Ranika." Ucap cindi lalu menghampiri Ranika.


"Cindi kenapa kau membentak Gita." Ucap Ranika.


"Tante, cindi hanya ingin desain gaun seperti milik Tante." Ucap cindi dengan nada manja. Gita yang mendengar itu sangat muak dan jijik.


Jika saja ini tidak dibutik sudah dari awal kau kuhabisi cindi. Batin Gita


"Tidak bisa, itu desain khusus keluarga grahadista. Tidak ada yang boleh mencoba untuk membuat desain yang sama seperti keluarga grahadista. Sekalipun itu kau cindi." Ucap Ersya dengan tegas.


"Tapi Tan.." Ucapan cindi menggantung karena sudah disela Ranika.


"Yang dikatakan Ersya memang benar cindi, karena itu desain khusus keluarga grahadista. Jadi kamu tidak boleh membuat gaun yang sama seperti milik keluarga kami." Ucap Ranika lembut.

__ADS_1


"Baiklah Tante." Ucap cindi pasrah.


Sial, kenapa mereka sangat susah didekati. Jika begini bagaimana aku bisa dekat dengan agas. Batin cindi.


__ADS_2