
Pagi harinya, Niken bangun lebih awal karena ia harus segera menuju gallery. Ada yang mengatakan jika gellery tas milik Niken ada teror, maka ia bergegas bahkan tanpa sarapan. Sedangkan Gita masih setia di bawah selimut tebalnya, tiba-tiba jam weker Gita pun berbunyi.
Tringgg....tringg....tringg....
"Emmmmmm ganggu dah." Ucap Gita lalu melempar jam itu ke dinding.
Prakk...
20 menit kemudian pintu kamar Gita terbuka, bi Asna pun masuk. Ia melihat jam weker yang pecah, ia sudah biasa melihat Gita selalu menghancurkan jam weker. Maka dari itu Niken meyiapkan 1 lemari penuh jam weker karena kebiasaan buruk Gita yang selalu membanting jam saat pagi hari.
Bi Asna masuk ke kamar Gita, karena sudah kebiasaannya jika Niken berangkat kerja lebih dulu maka bi Asna yang membangunkannya.
"Non Gita sudah pagi ayo bangun." Ucap bi Asna sambil menggoyangkan tangan Gita. Gita pun menggeliat, sedangkan bi Asna sudah hafal jika Gita susah dibangunkan.
Bi Asna menarik selimut Gita dan melipatnya, lalu ia membuka tirai jendela Gita, matahari sudah terlihat sangat terang. Gita yang merasa tidurnya terganggu pun bangun, ia mengerjapkan matanya melihat siapa yang membuka tirai kamarnya ternyata bi Asna.
"Pagi non Gita." Ucap bi Asna
"Ehhmm pagi bi." Ucap Gita dengan suara serak khas bangun tidur.
"Non Gita segera mandi lalu turun sarapan. Biar kerjanya fokus." Ucap bi Asna
"Iya bi." Ucap Gita sambil mengucek matanya.
"Yasudah bibi kebawah dulu non." Ucap bi Asna. Gita hanya mengangguk karena ia masih menguap.
Bi Asna pun turun dan Gita bangkit dan menuju ke kamar mandi lalu bersiap-siap menuju butik. Setelah itu Gita turun menuju meja makan. Disana ia tidak melihat Niken tetapi Gita tau jika Niken tidak ada di meja itu artinya ia sudah berangkat lebih dulu, apalagi bi Asna tadi membangunkannya.
"Bi Asna sama yang lain udah makan?" Ucap gita yang mengambil beberapa lauk di meja makan.
"Kami akan makan setelah non Gita makan saja." Ucap bi Asna lembut.
"Kali ini Gita tidak menerima penolakan, kalian harus temani Gita makan." Ucap Gita tegas.
__ADS_1
"Non Gita, itu tidak perlu." Ucap bi Asna.
"Kan Gita udah bilang, kalau tidak menerima penolakan. Dan ini perintah dilarang keras untuk menolak." Ucap Gita tegas.
Akhirnya semua pelayan pun ikut makan bersama Gita, inilah yang mereka sukai dari majikannya. Walau masih muda, ia juga ikut menghargai pelayan yang jauh lebih tua darinya. Walau gajinya tidak sebesar menjadi pembantu di mansion tetapi mereka masih bertahan karena hati Gita dan Niken yang baik membuat mereka betah.
Mereka makan tanpa ada yang berbicara, hanya dentingan sendok garpu dan piring yang terdengar. Gita selesai lebih dulu, ia masih mengotak-atik ponselnya. Gita terkejut dengan kiriman Niken, ada kotak hitam yang berisi darah. Tidak lupa foto Niken dicoret tanda X dan terdapat surat.
'DASAR PEREBUT PACAR ORANG'
Semua pembantu pun selesai makan, mereka membereskan piring. Kecuali bi Asna yang tetap duduk, bi Asna selalu menunggu Gita berangkat baru ia akan melakukan aktifitas nya.
"Bi, apa bunga dibelakang ada yang layu atau mati." Ucap Gita sambil menatap bi asna.
"Tidak ada non, semua bunga masih tetap aman. Bunga mawar merah dan putih tumbuh degan subur, hanya saja kemarin pagi anak pak Malik memetik beberapa bunga mawar putih non." Ucap bi Asna yang sedikit takut Gita dan Niken akan marah jika ada yang sembarangan memetik bunga kesayangan mereka.
"Pasti bi Asna marahi ya anak itu." Ucap Gita santai.
"Harusnya biarkan saja bi, namanya anak kecil pasti tidak akan kuat jika melihat bunga yang cantik mekar dengan subur. Lagipula mawar kan bisa ditanam lagi bi." Ucap Gita dengan senyuman tulus.
Kamu memang anak yang baik non Gita. Batin bi Asna
"Kalau begitu Gita berangkat ke butik ya bi." Ucap Gita lalu mengambil tas Selempangnya.
"Iya non mari bibi antar ke depan." Ucap bi Asna yang sudah berdiri dari tempat duduk.
"Oh gak usah bi, bibi langsung kerjain semua pekerjaan bibi aja ya." Ucap Gita lembut.
"Baiklah non, hati-hati dijalan non Gita." Ucap bi Asna. Gita pun tersenyum tulus lalu mengangguk.
Gita menuju parkiran, tapi saat di parkiran Gita melihat security rumahnya yaitu pak Malik. Gita pun menghampiri pak Malik.
"Pak Malik." Ucap Gita. Pak Malik pun berbalik dan menghadap Gita.
__ADS_1
"Eh non Gita. Ada apa ya non?" Ucap pak Malik
"Kemarin anak bapak memetik beberapa mawar putih disitu ya." Ucap Gita sambil menunjuk taman kecil yang tertanam mawar putih dan merah di dekat pos security.
"Emm i..iya non.. ma..maafkan put..putri saya non. Sa..saya janji ak..akan menggantinya non." Ucap pak Malik terbata-bata karena sangat takut jika Gita marah.
"Harusnya pak malik gak usah marahin anaknya kan kasian pak." Ucap Gita dengan senyuman. Pak Malik pun mengerutkan dahinya.
"Mak..maksutnya non Gita?" Ucap pak Malik
"Biarin dong pak kalau ada anak kecil yang suka dengan mawar disini. Asal dia betah kan gak apa-apa, namanya anak kecil pak pasti gak kuat lihat bunga yang mekar dan cantik gitu." Ucap Gita.
"Iya non.. maafkan anak saya non." Ucap pak Malik.
"Pak Malik gak perlu minta maaf, nanti berikan 2 tangkai bunga mawar putih ya pak pada anak bapak. Pak Malik juga gak perlu ganti mawar itu, lagipula bunga masih bisa ditanam lagi kok." Ucap Gita lembut.
"Baik non nanti akan saya berikan 2 tangkai bunga mawar putih, sesuai perintah non Gita da terimakasih non." Ucap pak Malik
"Sama-sama pak, kalau begitu saya kebutik dulu pak." Ucap Gita lalu meninggalkan pak Malik.
"Baik non." Ucap pak Malik. Security rumah Gita ada 2 orang, pak Malik dan pak Raden.
Gita menuju ke mobilnya, sesekali ia melihat ke arah jam tangannya. Pak Malik dengan segera membukakan gerbang.
"Non Gita sangat baik ya lik." Ucap Raden
"Iya den, aku kira non Gita akan marah. Eh ternyata ia malah menyuruhku memberikan 2 tangkai bunga mawar putih." Ucap Malik.
"Ya aku beruntung bekerja pada non Gita dan non Niken." Ucap Raden, Malik pun mengangguk.
Gita menyalakan mobilnya sampai di gerbang Gita mengklakson pak Malik dan pak Raden. Mereka tersenyum dan menganggukkan kepala. Gita menyalakan musik sesekali ia ikut bernyanyi, tiba-tiba dari belakang ada yang terus mengklakson mobil Gita.
Gita melirik dari spionnya, ia tidak mengenal mobil itu. Jadi Gita memilih untuk memberi jalan pada mobil tersebut, bukannya melewati mobil Gita. Mobil itu malah mengikuti pergerakan mobil Gita, Gita merasa risih. Ia pun berhenti di supermarket terdekat untuk membeli roti tapi siapa sangka jika mobil itu akan ikut berhenti hanya saja ia tidak berbelok di supermarket.
__ADS_1