Putusnya Kapan?

Putusnya Kapan?
10


__ADS_3

Aleta, disini dia sekarang berada, di rumah Bagas. Karena tadi pulang sekolah, Bagas langsung membawa Aleta kerumahnya untuk bertemu orang tua Bagas.


" Gas " panggil Aleta


" Bentar ya, bentar lagi Ayah gue pulang " ucap Bagas


Aleta mengangguk " Ayah lo gak galak kan Gas " ucap Aleta pelan


" Gak kok, dia baik. Cuma tegas aja orangnya "


" Kalo Ayah lo gak suka ama gue gimana " Aleta khawatir


Bagas tersenyum, lalu menggeleng " Gak akan Aleta "


Tak lama kemudian, suara mobil pun terdengar diluar rumah.


" Assalamualaikum " salam Ayah Dani


" Waalaikumsalam " ucap Bagas dan Aleta


Bagas pun meraih tangan Ayahnya lalu menciumnya, begitupun dengan Aleta.


" Aleta? " tanya Ayah Dani yang sebelumnya sudah tau karena Bunda Liya sudah menceritakannya


Aleta mengangguk tersenyum " Iya om "


" Ayah udah pulang " sahut Bunda yang baru datang dari dapur


" Iya Bun " meraih tangan istrinya, lalu dicium oleh Bunda Liya


" Yuk, Bunda udah masak banyak. Ayok Aleta " ucap Bunda Liya


" Iya tante "


" Ayok " kata Bagas menggandeng tangan Aleta.


Di meja makan


" Besok Moza pulang "


Suara bariton Ayahnya menghentikan tangan Bagas yang akan memasukkan nasinya.


" Ayah " tegur Bunda Liya


" Siapa Moza " pikir Aleta


" Dia juga akan satu sekolah dengan kamu Bagas, sekelas juga. Jadi Ayah minta, kamu jaga dia baik-baik " ucap Ayah Dani menghiraukan ucapan Bunda Liya


Aleta menatap Bagas, seolah mengerti Aleta meminta penjelasan. Bagas memegang tangan Aleta seraya menggeleng.


" Dia udah gede, gak perlu dijaga " ucap Bagas


" Om minta sama kamu Aleta, supaya jangan terlalu berharap sama Bagas, karena dia sudah om jodohkan " papar Ayah Dani


Aleta diam mendengar penuturan Ayah Dani .


" Cukup Yah, aku udah bilang sampe kapan pun aku gak mau dijodohin sama dia. Aleta, " menggenggam tangan Aleta


" Dia segalanya buat aku, aku sayang sama dia, aku cinta sama dia. Jangan pernah ngatur apa yang gak aku suka " ucap Bagas penuh penekanan. Aleta terpaku, Aleta kaget atas penuturan Bagas.


Aleta menggenggam tangan Bagas " Dia Ayah lo, sopan dikit dong Gas " ucap Aleta


" Ayah gak mau tau, besok pulang sekolah kamu jemput Moza di bandara " ucapnya lalu pergi.


Bagas menatap Bundanya, berharap sang ibu bisa membantunya. Bunda Liya menggeleng

__ADS_1


" Bunda " ucap Bagas lirih


" Bunda coba bujuk Ayah yah " tutur Bunda Liya


" Aleta maaf ya, jadi gagal deh " imbuhnya


Aleta mengangguk, seraya tersenyum simpul.


" Yaudah aku pulang aja ya Bun, " ucap Aleta


" Aku anter " titah Bagas


Aleta menggeleng " Gak usah gue bisa naik taksi Gas "


" Gue anter " ucapnya datar


" Gue ambil kunci dulu " imbuhnya pergi


Setelah Bagas mengambil kunci motornya dan jaket, mereka pun berpamitan ke Bunda Liya.


Selama perjalanan, tak ada satupun suara dari mereka. Aleta mengeratkan pelukannya di perut Bagas. Bagas menatap tangan mungil yang sedang memeluknya erat itu, dia merasa bersalah. Iya, harusnya dia tak membawa Aleta untuk bertemu Ayahnya.


Entah apa yang dipikirkan Aleta, dia hanya berpikir Bagas akan meninggalkannya . Ia takut kehilangan laki-laki itu, ia sudah terlanjur jatuh ke lubang yang dalam. Bagas Arsenik Putra, laki-laki yang sekarang menempati hatinya setelah Ayahnya.


Tak terasa, bulir bening pun jatuh dipelupuk mata cantik gadis itu. Apa yang harus ia lakukan, beritahu dia.


Sesampainya di rumah Aleta


" Maaf " ucap Bagas lirih


Aleta menggeleng " Turuti apa mau Ayah kamu Gas "


Bagas menggeleng cepat " Gak Al, jangan pernah minta gue buat ninggalin lo "


" Dia Ayah lo Gas, hormati dia " ucap Aleta


" Gue masuk dulu Gas, lo hati-hati bawa motornya " titah Aleta. Bagas mengangguk singkat


Aleta masuk kedalam rumahnya, cairan yang kini ia tahan pun luruh juga. Aleta segera mengusapnya dengan kasar.


💦💦💦


Pagi pun tiba, kini mentari sudah menampakkan sinarnya. Gadis itu, gadis berambut sebahu itu kini sudah rapih dengan seragam khas SMA nya. Tak lupa ia menguncir rambut hitamnya itu.


" Pagi " sapa Aleta


" Pagi anak papa " ucap papa Mario mencium kening putrinya.


" Itu di depan ada yang nungguin lho Al "


" Siapa? " tanya Aleta


" Siapa lagi kalo bukan Bagas, pacar kamu " sahut Mama Rani


Aleta hanya ber 'oh' riya saja


" Temuin gih sana " titah Papa Mario


Aleta bangkit, menemui Bagas didepan rumahnya


" Tumben pagi-pagi udah di sini " ucap Aleta


Bagas menoleh, lalu tersenyum " Kangen Al " ucapnya lirih


" Ini masih pagi Gas " Aleta memalingkan mukanya

__ADS_1


Bagas menghela nafas berat " Lo mau kan berjuang bareng gue " tanya Bagas


Aleta mengedikkan bahunya menatap lantai dengan tatapan kosong.


" Gue harap lo mau Al "


" Lo ke sini mau jemput gue kan "


Bagas mengangguk


" Yuk berangkat, gue ambil tas dulu "


Lagi-lagi Bagas mengangguk


Setelah Aleta mengambil tas nya, mereka bergegas berangkat menuju sekolah. Tak ada pembicaraan sama sekali diantara mereka. Saling bungkam, itulah mereka.


Sesampainya di sekolah


" Al "


Aleta bergumam


" Gue sayang sama lo Al " ucap Bagas


" Udah tau " Aleta cuek


" Oh " sahut Bagas


" Dah sampe, makasih udah nganterin "


" Sana gih ke kelas " ucap Aleta


" Ngusir " Bagas cemberut


Aleta tersenyum, mencubit pipi Bagas gemas " Ututututu... Imutnya pacar gue " gemas Aleta


" OMG... " teriak Tania


Bagas dan Aleta menautkan alisnya


" Pagi-pagi gue udah liat keuwuwan orang aja" ucap Tania


" Gak liat apa disini ada jomblowan dan jomblowati " sahut Raya yang baru dateng


" Bodo Amat " ucap Bagas dan Aleta serempak


" Amat gak bodo " ucap Baim juga yang baru dateng.


" Ini ngapain pada ngumpul depan kelas orang " sahut Nino


" Abis nganter pacar " Bagas merangkul Aleta


" Sama dong, iya gak bebeb Raya " ucap Nino mengedipkan sebelah matanya


" Iihh najis najis najis " teriak Raya lalu pergi


Bagas, Aleta,Baim dan Tania pun menertawakan Nino


" Ya ampun kasian bangett sih abang Nino " ucap Baim alay


Nino berdecak lalu pergi.


Mereka pun kembali menertawakan Nino setelah sang empu pergi.


Mungkin untuk sementara, Aleta dan Bagas lupa akan masalah mereka. Dengan hadirnya para sahabat, bisa membuatnya melupakan masalahnya sejenak.

__ADS_1


Itulah sahabat, dia yang selalu ada buat kita, dia yang selalu menghibur kita, dikala kita sedang sedih. Dia yang selalu ada buat kita, disaat dunia menentang kita. Dia yang selalu ada bukan karena kasihan, tapi peduli dengan kita. ❤❤


❤❤❤


__ADS_2