Putusnya Kapan?

Putusnya Kapan?
13


__ADS_3

Sesuai apa yang dikatakan Aleta, setelah mengantarkan Moza kerumahnya, eh ralat maksudnya apartemen. Kini Bagas sedang menunggu Aleta bersiap-siap sembari memainkan hp nya. Tak lama, Aleta pun turun dan segera menghampiri Bagas yang masih duduk dengan memainkan hp nya .


Palingan cuma scroll beranda doang


Masih tak menyadari kedatangan Aleta didepannya, Bagas masih setia dengan tangan memegang hp nya. Tapi itu tak lama setelah Aleta berdehem


" Ehhemmm "


" Serius banget sih " sindir Aleta


Merasa ada yang berbicara, Bagas pun mendongak. Nyengir, satu kata yang yang diartikan Bagas ketika melihat Aleta.


" Maaf ya, sayang " ucap Bagas merasa bersalah


Aleta mengangguk " Yuk jalan sekarang "


" Lo udah ijin kan sama bonyok lo " tanya Bagas


" Udah, tadi gue udah nelpon kok " ucap Aleta tersenyum.


Bagas mengacak rambut Aleta gemas


" Pinter " Bagas tersenyum


" Ihhhh Bagas, jangan diacak-acak " gerutu Aleta merapihkan rambutnya dengan mencebikkan bibirnya


" Iya-iya nih gue bantuin " Bagas merapihkan rambut Aleta.


" Udah yuk jalan, nanti keburu malem " ucap Aleta


Bagas mengangguk, mengambil jaket yang ia sampirkan di kursi.


Mereka pun pergi dengan moge milik bagas, membelah ramainya jalanan ibu kota.


Aleta memeluk Bagas dari belakang dengan erat seolah ia tak mau laki-laki yang menjadi kekasihnya itu pergi darinya.


Bagas memberhentikan motornya di warung sederhana pinggir jalan, memang tujuan mereka adalah makan, Bagas sama sekali belum makan setelah mengantar Moza, padahal Moza menawarkan untuk makan terlebih dahulu. Tapi apalah daya Bagas yang sangat malas bersama Moza, dan lebih memilih ke rumah Aleta setelah mengganti seragamnya dengan kaos oblong putih dipadu dengan jaket kulitnya, tak lupa Bagas pun mengganti mobil yang ia pakai untuk menjemput Moza pun dengan motor yang selalu ia bawa ke sekolah, tentu saja dengan alasan agar Aleta bisa memeluknya. Terlebih saat ini kedua orang tua Aleta sedang berada diluar negri untuk urusan bisnis, jadinya dia ikut saja saat Bagas mengatakan bahwa ia lapar dan ingin makan, dan saat ini juga Aleta belum makan karena memang ia tak bisa memasak, hanya bisa sekedar membuat nasi goreng, omelette dan cemilan doang.


Setelah selesai makan, Bagas mengajak Aleta untuk mengelilingi jalan seputar ibu kota. Dan kini mereka sedang berada di apartemen Bagas setelah puas mengelilingi ramainya ibu kota.


Aleta duduk di sofa yang ada di apartemen Bagas, ruangan itu terlihat bersih, karena memang Bagas orang anti jorok. Bagas sedang mandi, membersihkan dirinya yang terasa lengket, sedangkan Aleta menonton TV dan tak lupa setoples cemilan yang memang sudah disediakan sebelumnya. Mulutnya terus mengunyah dan tangannya pun tak berhenti untuk mengambil cemilan yang sekarang ada di pangkuannya.


" Al " panggil Bagas dengan rambut yang sudah agak mengering


Aleta hanya berdehem karena matanya msih fokus dengan layar di depannya.


Merasa diacuhkan, Bagas mengambil toples yang ada dipangkuan Aleta dan menaruhnya di meja, sesuai itu dirinya menjatuhkan kepalanya dipaha Aleta. Aleta sontak kaget apa yang dilakukan oleh kekasihnya itu.


" Ehh Bagas " ucap Aleta


" Biarin kek gini Al, gue capek " ucap Bagas lirih yang sudah menutup matanya.


Aleta mengangguk pelan, lalu tangannya terulur untuk mengusap rambut Bagas.

__ADS_1


" Jangan pergi ya Al " ucap Bagas lirih dengan mata masih terpejam


" Iya " jawab Aleta


" Al " panggil Bagas yang kini matanya sudah terbuka menatap manik Aleta.


Sontak Aleta menghentikan aksi mengusap kepala Bagas


" Kenapa "


" Tadi Baim ngirim foto lo sama Aldo diparkiran " ucap Bagas


Ya, waktu Bagas menunggu Aleta di rumahnya, tiba-tiba baim mengirim sebuah foto dimana Aleta dan Aldo berada, Bagas tau itu parkiran di sekolahnya, tak ingin berburuk sangka, Bagas pun ingin menanyakan kebenaran nya pada Aleta. Setelah mereka jalan tentunya.


Aleta mengernyit bingung " Aldo? " tanya Aleta


Bagas mengangguk, kini dirinya sudah berada didepan Aleta " Katanya dia nganter lo pulang" ucap Bagas datar


" Iya, Aldo emang nganter gue pulang, tapi dia maksa Gas, gue gak enak " ucap Aleta


" Lo gak ada rasa sama dia kan Al " tanya Bagas


Aleta menggeleng tegas " Gak Bagas, gue sama sekali gak ada rasa sama Aldo "


Bagas mengangguk " Gue percaya kok, makanya gue tanya. Lo gak mungkin ngehianatin gue Al "


Bagas pun langsung berhambur memeluk Aleta " Jangan pernah tinggalin gue Al, gue gak mau kehilangan lo " ucap Bagas lirih sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Aleta.


Memang, setelah kejadian dimana Aleta mengetahui perjodohan Bagas, kini Bagas secara terang-terangan menunjukkan bahwa dirinya tak mau kehilangan sosok Aleta, bahkan dulu ia sangat gengsi sekedar ngomong cemburu. Bagas mencintai Aleta, dan Aleta tau itu. Aleta memang mencintai Bagas, dan Bagas pun tau walau tak pernah ada ungkapan langsung bahwa Aleta mencintainya dirinya, tapi dari sikap yang ditujukan Aleta pada dirinya dan tatapan hangat yang Aleta berikan, itu sudah cukup bukan bahwa Aleta mencintai Bagas.


Dua insan itu masih setia dengan posisi mereka, menyalurkan kehangatan satu sama lain. Tak ada yang akan menggangu mereka untuk sekarang, tapi nanti? entahlah.


Tapi mereka yakin, Tuhan pasti sudah memberikan yang terbaik buat mereka.


" Nginep kan Al? " tanya Bagas


Aleta mengangguk


Bagas melepaskan pelukannya, menatap manik indah milik Aleta.


" Lo gak takut gue apa-apain Al "


Aleta menggeleng " Kalo emang lo sayang sama gue, lo gak bakalan ngerusak gue "


Bagas tersenyum menggoda " Kalo gue khilaf gimana? " Tanya Bagas menaik turunkan kedua alisnya.


" Tanggung jawab lah " jawab Aleta enteng


" Masa iya Ku menangisss " imbuhnya


Sebenernya Aleta was-was sih kalo emang Bagas khilaf.


Bagas tersenyum mengacak puncak kepala Aleta " Ok "

__ADS_1


" Tenang aja, iman gue kuat kok Al "


" Besok, gue kasih pelajaran sama si Baim, enak aja ngirim-ngirim poto gue sama Aldo. Mau ngerusak hubungan kita si Baim tuh Gas" ucap Aleta menggebu.


Bagas terkekeh melihat tingkah kekasihnya itu " Iya-iya, besok kita kasih pelajaran ke Baim, mau pelajaran apa?. Matematika, kimia atau biologi " canda Bagas


" Ihhh bukan pelajaran itu Bagas " kesal Aleta


Bagas pun tertawa


" Lo ngeselin banget sih Gas " ucap Aleta bersedekap dada


Tawa Bagas pun berhenti melihat Aleta sepertinya kesal " Iya-iya, terserah lo aja mau gimana besok sama Baim "


" Iya lah pencemaran nama baik itu namanya " Aleta menggebu


" Tidur yuk, capek " pinta Bagas


Aleta mengangguk dan segera menuju kamar diikuti oleh Bagas. Mereka memang satu kamar, itulah permintaan Bagas. Padahal ada satu kamar lagi, tepatnya di sampingnya, Bagas nya aja yang mau nya nempel sama Aleta.


" Awas lo Gas, jangan macem-macem "


" Gue gak macem-macem sayang, cuma minta satu macem " goda Bagas mengedipkan satu matanya.


Aleta menimpuk Bagas dengan bantal guling.


" Sakit sayang " ucap Bagas mengelus lengan yang Aleta timpuk


" Bodo amat " cuek Aleta lalu segera membungkus dirinya dengan selimut


Melihat tak ada respon dari Aleta, Bagas pun segera ikut membaringkan tubuhnya di samping kekasihnya itu. Menatap punggung gadis yang membelakanginya itu sembari tersenyum.


Aleta kini merubah posisinya menghadap kearah Bagas, mata mereka saling mengunci satu sama lain.


" Masih sakit " tanya Aleta khawatir


Bagas tersenyum, dia tau kalau Aleta mengkhawatirkannya, Aletanya saja yang dasarnya gengsi nya gede.


" Sakit ya beneran " tanya Aleta lagi


Di luar dugaan, Bagas malah mencium kening Aleta dengan penuh cinta


cup


Aleta menegang, mengerjapkan matanya berkali-kali.


Bagas pun terkekeh " Udah gak kok, tidur yuk udah malem " ucap Bagas meraih pinggang Aleta lalu memeluknya.


Aleta mengangguk, lalu ikut Bagas yang sudah tertidur.


" Good night sayang " gumam Bagas setelah merasa Aleta tertidur. Bagas cuma menutup matanya, dia tak tidur.


" Semoga mimpi indah " gumamnya lagi lalu ikut menyusul Aleta yang sudah ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2