Putusnya Kapan?

Putusnya Kapan?
18


__ADS_3

" Perkenalkan nama gue Moza Aurelia, kalian bisa panggil gue Moza "


Mata kagum pun para murid tujukan pada Moza. Moza memang cantik dan Bagas akui itu, dia hanya menatap malas Moza yang sedang berjalan ke arah bangkunya karena memang Moza yang menginginkan itu.


Moza tersenyum menatap Bagas, tapi Bagas hanya acuh saja.


" Dasar uget-uget " bisik Baim pada Nino yang duduk di sebelahnya.


" Calon-calon pelakor tuh Im " ucap Nino berbisik.


" Baim, Nino, ngapain kalian bisik-bisik " tegur guru yang sedang mengajar, sebut saja bu Endang.


Baim nyengir " gakpapa kok bu "


" Perhatikan ibu, jangan ada yang mengobrol "


Semua mengangguk.


💦💦💦


Sedangkan ditempat lain, di kelas Aleta, dirinya sibuk mendengarkan penjelasan guru yang sedang menerangkan.


" Al, lo udah liat kan tadi Bagas bareng si anak baru itu " bisik Tania.


Aleta mengangguk tanpa melihat lawan bicara.


" Itu si Moza bukan sih? "tanya Tania.


Lagi-lagi Aleta mengangguk.


" Al, lo ngomong kek, jangan angguk-angguk


mulu " geram Tania.


" Udah diem, nanti pak Tama denger "


Tania berdecak.


Aleta memang nampak biasa saja, tapi siapa sangka, hatinya begitu gelisah. Pasalnya, gadis yang di gadang-gadang akan di jodohkan dengan Bagas hari ini masuk sekolah dan satu kelas dengannya.


Aleta akui memang Moza punya saya tarik sendiri, anaknya juga ramah, karena tadi Aleta melihat dia mudah sekali tersenyum pada anak-anak yang menyapanya.


Dan pagi tadi, dia tak berangkat bareng Bagas, karena memang Bagas harus mengantar Moza.


Aleta menghembuskan nafasnya lelah, " Apa kita masih bisa bertahan " gumamnya.


Jam istirahat pun tiba, Aleta dan kawan-kawannya kini sedang merapihkan alat tulisnya dengan sesekali mengobrol.


" Secantik apa sih orangnya " tanya Raya.


" Lo gak tau Ray? " tanya Tania.


Raya menggeleng, " Tadi gue kan agak siang berangkatnya "


Tania mengangguk


" Cantik kok "


Bukan Tania yang menjawab, melainkan Aleta.


" Lo gak takut Bagas di rebut apa Al "

__ADS_1


Aleta tersenyum menanggapi ucapan Tania


" Kalo emang gue gak jodoh sama Bagas, gue bisa apa "


" Tenang aja Al, kan ada Aldo yang gak kalah ganteng sama Bagas "


" Thanks "


Raya dan Tania mengangguk.


" Kantin yuk " ajak Aleta dan di angguki Raya dan Tania.


Mereka kini sedang dalam perjalanan ke kantin, disertai senda gurau juga di perjalanan.


" Tadi pagi gue liat tukang sayur depan komplek, sumpah ganteng banget a*jir " Tania cerita.


" Serius lo " ucap Raya


Tania mengangguk


" Lumayan tuh buat cuci mata, lah tukang sayur di rumah gue malah udah kakek-kakek, kadang juga kaya nyokap suka bengek-bengek gitu " ujar Raya.


Aleta terkekeh kecil, " Kalo tukang sayur sekitar komplek gue malah duda beranak dua, kadang juga nih suka godain gue pas gue berangkat sekolah nunggu Bagas depan rumah "


" Jijik asli " imbuh Aleta.


Tania dan Raya tertawa.


" Wahh gue beruntung dong "


Sesampainya di kantin...


" Samain aja sama lo " jawab Aleta bermain hp karena Bagas mengirimnya pesan agar menunggunya di kantin.


" Ok " balas Raya.


Raya dan Tania pergi untuk memesan makanan, tinggal Aleta saja yang menunggu sambil duduk setelah membalas pesan dari Bagas. Matanya menjelajah ke seluruh penjuru kantin, dan menangkap sosok yang ia kenal berjalan dengan kedua temannya dan... satu orang cewek.


Senyum yang Aleta kembangkan tadi perlahan memudar, ia tau pasti itu Moza.


" Holla ayang mbeb " ucap Baim duduk di sebelah Aleta.


Aleta tersenyum, Bagas sudah menatap tajam temannya itu.


" Kita ngapain sih duduk di sini, gue mau berdua sama lo Gas " rengek Moza.


" Apaan sih, siapa suruh lo ikut. Gue ke sini mau ketemu sama pacar gue " sungut Bagas duduk di samping kanan Aleta, karena Baim di samping kiri.


Moza menghentak-hentakkan kakinya kesal, menatap Aleta penuh benci.


" Mending lo pergi deh, ganggu kita aja " usir Nino.


" Gue mau sama Bagas "


" Dasar uget-uget "


Moza menatap Baim, " Terserah gue "


Aleta menatap Moza datar, begitu pun Bagas. Ntahlah rasanya ia tak nyaman berada di posisi ini.


" Mending lo jangan di sini Gas " ujar Aleta.

__ADS_1


Bagas menatap Aleta, " Kenapa sih yank "


Aleta menatap Moza yang juga menatapnya, Bagas mengerti dimana Aleta melihat.


" Mending lo pergi deh Za " ucap Bagas tegas


" Apa! karena cewek lo yang kampungan itu " sinis Moza.


Aleta menarik kembali kata-katanya bahwa Moza itu ramah. Ternyata sifatnya tak seperti wajahnya. menjijikkan.


" Lo pergi atau gue gak akan segan-segan nyakitin lo " tegas Bagas.


Moza menatap Aleta benci, lalu tak lama pergi dengan rasa kesal, bagaimana Bagas bisa memperlakukannya begitu, pikirnya.


Aleta menghela nafas kasar, " Kok sama cewek kasar " sindir Aleta.


" Yang penting gue kasar bukan sama lo " ucap Bagas yang merasa tersindir.


" Sekarang gak, tapi nanti? gak ada yang jamin".


" Ayang mbeb Al tenang aja, kalo Bagas kasar kan ada babang Baim " ujar Baim so cool membenarkan letak dasinya.


" Halah " Nino menoyor kepala Baim.


" Gue mutilasi baru tau rasa lo Im " ujar Bagas.


" Udah, gak usah debat " lerai Aleta.


Tak lama, Raya dan Tania yang sedang memesan makanan pun datang.


" Sumpah lama banget, pegel kaki gue " gerutu Tania.


" Iya nih, banyak banget yang antri "


" Wahh itu buat gue ya Ray " pede Nino.


" Enak aja, ini buat gue sama Aleta " ketus Raya.


" Pesen sendiri sana " ucap Aleta


" Im, No, pesen sana " titah Bagas.


" Duit " Baim dan Nino menyodorkan tangannya.


Bagas merogoh sakunya dan memberikan uangnya pada Baim dan Nino.


" Sana " usir Bagas.


" Woke " Baim dan Nino serempak.


" Punya banyak duit lo Gas " ujar Raya setelah Nino dan Baim pergi.


" Gue kan orang kaya "


" Kampret " umpat Raya.


Lupa guys...


HAPPY MOTHER'S DAY ❤❤


Buat seluruh ibu terbaik di dunia 😊😊

__ADS_1


__ADS_2