
Hari ini hari minggu, hari dimana semua sekolah diliburkan, weekend. Dan kini, Aleta lebih memilih di kamar dibanding keluar jalan bersama Bagas. Ntahlah, dia malas sekali hari ini.
Kini dirinya sedang berbaring dengan selimut menutupi semua tubuhnya. Hangatnya...
Dering ponsel Aleta kini mengganggu aktivitas tidurnya.
" Halo " ucap Aleta malas.
" ALETTTTTTAAAAAAA " teriak seseorang di seberang. Aleta menjauhkan hp nya dari telinganya.
" Apa sih Im, lo ganggu gue tau gak, ngapain teriak-teriak gitu, gue gak budeg "
" Lo sekarang ke apartemen Bagas, darurot ini Al " ucap Baim panik.
Aleta dengan sigap bagun " Bagas kenapa? " tanya Aleta panik.
" Buruan cepat pokoknya lo kesini kalo lo gak mau nyesel di kemudian hari "
Tut...
Panggilan Baim putus secara sepihak yang membuat Aleta khawatir. Aleta bergegas menyibakkan selimutnya dan segera ke kamar mandi.
Kini Aleta sudah siap dengan pakaiannya, hanya menunggu taksi yang ia pesan.
" Lama banget sihh " gerutunya.
Tak lama, taksi yang di pesan Aleta kini akhirnya datang. Dan bergegas menuju apartemen Bagas, panik, itulah yang dirasakan Aleta, dia takut Bagas kenapa-napa.
Taksi kini sudah mencapai tujuannya, setelah membayar ongkos, kini Aleta berlari dimana Bagas berada.
__ADS_1
kini Aleta sudah didalam apartemen Bagas, dimana semua orang?
" Bagas " panggil Aleta.
Baim nongol dari pintu kamar Bagas. " Al " panggil Baim.
Aleta menghampiri Baim dan langsung menyerobot masuk ke kamar.
Jreng....
Aleta terdiam masih di depan pintu. Melihat sang kekasih tengah asik bermain game dengan Nino.
" Aaahhhh " teriak Bagas
" Sakit Al, jangan dijewer " adu Bagas.
" Siapa bohongin gue, gue udah panik takut lo kenapa-napa dan lo malah asik main sama Nino " kesal Aleta.
" Maaf yank, gue cuma mau lo keluar aja, jangan di rumah terus, lagian ini juga ide Baim sama Nino " jelas Bagas
Baim dan Nino yang namanya disebut kini panik, Baim menggeleng cepat, menunjuk Nino.
" Bukan Al, ini ide Bagas sama Baim, gue gak ikut-ikutan " sanggah Nino.
Aleta melepas jewerannya, kini berkacak pinggang, sudah lah, marah juga gak ada gunanya, toh dia juga sudah ada di sini.
Aleta mendudukkan bokongnya di samping Bagas dan menyenderkan kepalanya di bahu Bagas.
" Al " panggil Bagas
__ADS_1
" Gue ngantuk mau tidur Gas, tidur gue keganggu gara-gara lo " .
Bagas mengusap surai hitam milik kekasihnya itu, rencananya dia di suruh sang Ayah untuk menemani Moza, Bagas terlalu malas.
Nino dan Baim kini sudah lega dan memilih melanjutkan gamenya yang sempat tertunda.
💦💦💦
Malam ini, Bagas pulang ke rumahnya. Berharap dia tak bertemu Moza, tapi apalah daya ketika kenyataan tak sesuai ekspetasi. Kini Moza sedang duduk bersama kedua orang tuanya, nampak akrab.
Bagas menghembuskan nafasnya kasar, Moza yang menyadari kehadiran Bagas lantas bangun dan merangkul lengan Bagas dengan centil.
" Bagas, besok gue mulai sekolah bareng sama lo " ucapnya
" Nanti kita berangkat bareng yah " imbuhnya.
" Gak " Bagas melepas dengan kasar tangan yang memegang lengannya.
Moza mengerucutkan bibirnya, menatap kedua orang tua Bagas.
" Bagas " Gertak sang Ayah.
" Terserah " ucap Bagas lalu berlalu ke kamarnya.
Moza tersenyum senang, " Terima kasih om "
Ayah Bagas hanya mengangguk. Sedangkan Bunda lebih memilih pergi, Ayah Dani hanya bisa menatap kepergian putra dan istrinya tersebut, jujur saja ia juga tak memaksa sang anak untuk menuruti keinginannya, dia lebih memilih Bagas melakukan apapun yang dia suka, asal tidak melebihi batas kewajaran saja, dan selama ini Bagas baik-baik saja.
Namun, ia juga harus berterima kasih pada orang yang selama ini membantunya, yaitu dengan menjodohkan kedua anak-anak mereka. Terlihat egois memang, tapi inilah jalan Tuhan kasih, percaya saja, semua akan indah pada waktunya.
__ADS_1