Putusnya Kapan?

Putusnya Kapan?
12


__ADS_3

Didalam mobil, Aleta hanya diam mendengarkan Aldo yang terus saja mencari bahan obrolan, sebenarnya ada rasa cemas di hati Aleta, bagaiman kalo Bagas tau.


" Gue sih masih gak nyangka aja sebenernya Al, kalo lo udah jadian sama Bagas udah setaun malah " ucap Aldo tertawa ringan


Aleta tersenyum kaku tanpa mau membalas ucapan Aldo


" Lo kan pinter Al, cantik, masa mau sih sama Bagas yang nyleneh kek gitu, kadang juga suka bolos "


Aldo tertawa " Bisa-bisanya ya lo mau sama cowok kaya dia, kalo mau lo bi.. "


" STOP Aldo " ucap Aleta memotong ucapan Aldo dengan tegas


" Jangan pernah lo jelek-jelekin Bagas didepan gue " sewot Aleta tegas


" Kenapa sih Al, padahal gue jauh lebih baik dari pada dia " ucap Aldo


" Gak ada orang yang jauh lebih baik dari pada orang yang bikin gue nyaman selama ini. Bagas, gue sayang sama dia, gue nyaman sama dia.menurut gue, yang baik adalah dia yang bisa bikin gue nyaman " tegas Aleta


" Gue juga sayang sama lo Al, gue juga bisa bikin lo nyaman sama gue "


Aleta membuang pandangannya melihat keluar jendela, sekarang mobil nya pun berhenti di tepi jalan , menghiraukan ucapan Aldo


" Apa yang Bagas miliki yang gak ada dalam diri gue " ucap Aldo menatap wajah Aleta.


" Kita udah lama kenal Al, dan lo sama sekali gak nyaman sama gue " imbuhnya


" Bukan berarti orang lama lebih nyaman dari orang baru " Aleta kini menatap Aldo


" Tapi gue sayang sama lo Al, gue pengen lo ja.. "


" Kita temen " potong Aleta karena dia tau arah pembicaraan Aldo


" Lo sama sekali nganggep gue cuma temen Al " tanya Aldo lesu

__ADS_1


Aleta mengangguk, memalingkan wajahnya enggan menatap Aldo.


Aldo tersenyum getir " Jadi ini rasanya ditolak sebelum nembak, gue udah kalah duluan sebelum perang Al " ucap Bagas


" Gue mau pulang Do " pinta Aleta mengalihkan pembicaraan. " Udah sore, takut mama nyariin "


Aldo mengangguk, lalu menjalankan mesin mobilnya .


Sesampainya di rumah Aleta .


" Makasih ya Do udah nganterin " ucap Aleta


Aldo mengangguk " Iya, sama-sama "


" Maaf ya " ucap Aleta merasa bersalah


Aldo tersenyum " Maaf apa sih Al, udah lah. Gue pulang ya, daah "


Setelah berpamitan dengan Aleta, Aldo pun pergi dengan mobilnya.


Aleta pun bergegas masuk kedalam rumah.


Tapi lain halnya Bagas, ia nampak bosan dengan gadis yang duduk di samping nya. Ya, sebelum ke bandara Bagas mengganti motornya dengan mobil yang sebelumnya sudah disiapkan. Tampaknya gadis disampingnya itu terus mengoceh menceritakan pengalamannya ketika di Amerika. Tapi Bagas rasanya malas sekali meladeni gadis itu, dia hanya sesekali berdehem sebagai sahutan. Gadis itu juga nampak sesekali memanyunkan bibir mungilnya.


" Bagas ihhh lo dengerin gue ngomong gak sih " sahutnya dengan bahasa Indonesia yang fasih.


Memang, Bagas baru kali bertemu dengannya, begitupun gadis itu. Tapi kenapa rasanya gadis itu sudah mengetahui tentang perjodohan itu.


Bagas berdehem


Gadis itu cemberut " Bagas, nanti kita sekelas kan " tanyanya semangat tak manyun lagi


Lagi-lagi Bagas hanya berdehem sebagai jawaban iya, kadang juga menggeleng sebagai jawaban tidak.

__ADS_1


" Di sana pasti asyik banget deh " cerocosnya


" Oh iya, lo udah punya pacar belum Gas ? " tanya gadis itu


" Udah " jawab Bagas


Nampaknya gadis itu tak bersemangat lagi. Namun tak lama dia pun kembali ceria


" Gakpapa deh, untuk sekarang lo boleh pacaran dulu. Tapi nanti juga lo bakal jadi milik gue " ucapnya yakin


Bagas menatap tajam gadis yang duduk disampingnya itu, auranya pun kini sudah tak enak, gadis itu berupaya menelan salivanya kasar.


" Gue sama dia sampai kapan pun gak bakalan ada kata pisah, dan lo, " menunjuk gadis itu " sama gue, " menunjuk dirinya " gak akan pernah menjadi KITA " ucap Bagas tegas menekan kata KITA.


Mobilnya kini sudah terparkir ditepi jalan


" Lo " menunjuk gadis itu


" Moza, gak akan pernah bisa menetap di hati gue " Bagas tegas


Dia, Moza Aurelia. Gadis yang baru saja pulang dari Amerika, dan akan melanjutkan studinya dimana Bagas menimba ilmu.


" Tapi kalo kita sama-sama terus kan bisa aja saling cinta Gas " jawab Moza


" Ehh denger ya, gue sama sekali gak ada niat buat milikin lo, pacar gue lebih segala-galanya. Dan lo, " menunjuk Moza


" Alasan dibalik renggang nya hubungan gue sama dia " ucap Bagas


" Lo jangan sampe mikir kita bakal nikah terus ujung-ujungnya jadi saling cinta kaya di novel-novel itu, karena itu gak bakalan terjadi. Gue bisa aja nolak perjodohan ini dengan kabur dari rumah " Bagas tegas


Moza hanya diam membisu mendengarkan Bagas


" Tapi gue masih sayang sama orang tua gue, dan pacar gue yang akan selalu menduduki hati gue, setelah bunda gue "

__ADS_1


" Terserah apa mau lo Gas, intinya sampe kapan pun bokap lo bakal nge jodohin kita, dan akan biarin lo sama pacar lo itu bersatu. Ingat itu, karena apa yang udah jadi milik gue, gak boleh ada yang ngerebut " tantang Moza.


__ADS_2